PERANG GLOBAL MELAWAN STAGFLASI

-

-

Kompas, 8 Agustus 2008 - Lonjakan harga minyak mentah dan komoditas pangan yang memicu inflasi telah menyeret perekonomian negara-negara maju diambang stagflasi (stagnasi ekonomi yang dibarengi dengan inflasi tinggi), seperti yang terjadi pada dekade 1970-an dan 1980-an. Kondisi ini juga menempatkan perekonomian global dalam situasi penuh ketidakpastian. Sejumlah ekonom bahkan sudah mengingatkan kemungkinan terjadinya crash atau kejatuhan pasar saham dalam tiga bulan mendatang.

-

AS sebagai perekonomian terbesar dunia, sekarang ini bisa dikatakan tidak tumbuh sama sekali, sementara di negara-negara zona euro (Uni Eropa) dan Inggris, perlambatan ekonomi sudah terjadi. Jerman yang merupakan perekonomian terbesar di Eropa diperkirakan tumbuh 1 persen tahun ini.

-

Seperti tahun 1970-an dan 1980-an, stagflasi ini memunculkan dilema rumit bagi pengambil kebijakan. Di satu sisi, resesi dan stagnasi ekonomi hanya bisa diatasi dengan menurunkan suku bunga, sebaliknya untuk menekan inflasi yang diperlukan justru kenaikan suku bunga. Tak mungkin kedua hal itu dilakukan secara berbarengan.

-

Oleh karena itu, harus dipilih mana yang menjadi prioritas. Biasanya inflasi didahulukan karena dampak jangka panjang pada ekonomi yang lebih serius. Strategi ini (prioritas menekan inflasi dengan menaikkan suku bunga) menurut Senior Market Strategis for Euro Pacific Capital, John Browne, sukses ditempuh oleh AS tahun 1980-an pada era Presiden Ronald Reagen dan Gubernur Bank Sentral AS (Fed) Paul Volcker.

-

Dengan dukungan politik presiden AS, Volcker bisa meredam stagflasi dengan formula “obat kuat dosis besar” tetapi singkat, yakni lewat kenaikan suku bunga dua digit. Langkah ini berhasil mengembalikan pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan dengan nilai tukar mata uang stabil dan inflasi rendah.

-

Bedanya, Gubernur Bank Central AS yang sekarang, Ben Bernanke, menyadari adanya ancaman stagflasi sejak awal. Namun ia terkesan enggan menaikkan suku bunga yang terlalu reaktif justru akan menyeret perekonomian ke bahaya yang lebih besar seperti yang terjadi pada tahun 1930-an, yakni depresi besar.

-

Bernanke, menurut Browne, mengabaikan pelajaran pahit dari stagflasi tahun 1970-an, yakni inflasi membubung tak terkendali karena Fed (Bank Central AS) tidak berbuat apa-apa. Bernanke mengabaikan desakan sejumlah kalangan, seperti Warren Buffet dan pengusaha lain untuk menaikkan suku bunga guna meredam inflasi, sementara di sisi lain pemerintah Bush (presiden AS) sendiri menghendaki suku bunga justru diturunkan dan belanja pemerintah digenjot.

-

Dilema serupa juga dihadapi berbagai negara lain yang prioritas dalam negerinya juga berbeda-beda. Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB), awalnya memilih tetap mempertahankan suku bunga hingga 2 persen beberapa tahun terakhir, meskipun Fed menaikkan suku bunganya karena tekanan, dari 4 ke 4,25 persen.

-

Ketidakjelasan langkah yang akan ditempuh Fed dan ECB serta Bank Sentral Inggris (Bank of England) dan tidak adanya kepemimpinan global dalam mengatasi fenomena inflasi global ini, semakin membuat pelaku pasar senewen dan prospek perekonomian global kedepan juga sangat tidak pasti. Akibatnya, nilai tukar dollar AS terpuruk hingga level yang membuat kelayakan statusnya sebagai reserve curency (mata uang yang paling banyak digunakan sebagai cadangan devisa) pun dipertanyakan.

-

Sebaliknya, Euro terus menguat sehingga justru tidak menguntungkan bagi daya saing ekspor Uni Eropa dan memunculkan ketegangan politik di antara negara anggota Uni Eropa sendiri. Bagi masyarakat awam, stagnasi dan inflasi juga membuat kesejahteraan mereka tergerus dengan cepat karena uang mereka tidak ada harganya.

-

Stagflasi sudah terjadi

-

Ekonom AS, Jeffrey D Sachs, dan pengusaha AS Warren Buffet, berpendapat stagflasi sebenarnya sudah terjadi di AS dalam skala mild (sedang). Tanda-tanda kontraksi (penurunan aktivitas perekonomian secara umum) ekonomi terlihat di AS, Inggris, Spanyol, Irlandia, Italia, Portugal, dan Jepang. Di banyak negara, inflasi juga sudah menjadi fenomena global meski lonjakan inflasi masih dibarengi dengan pertumbuhan.

-

Sachs melihat adanya beberapa kesamaan antara kondisi sekarang ini dengan kondisi paruh pertama dekade 1970-an. Pada saat itu, perekonomian dunia juga tumbuh sangat pesat, sekitar 5 persen pertahun, menuntun ke lonjakan harga komoditas. Waktu itu, AS juga terlibat dalam perang yang sangat menguras anggaran (dulu Perang Vietnam, kini ke Irak). Dunia membutuhkan 15 tahun untuk benar-benar keluar dari stagflasi 1970-an. Selama itu pula, pertumbuhan ekonomi rendah, 3,2 persen per tahun (1973 – 1989), lebih rendah daripada rata-rata 1960-1973 yang 5,3 persen.

-

Bedanya, perekonomian dunia sekarang ini jauh lebih besar sehingga kendala sumber daya juga lebih besar dan lebih sulit mencari solusi cepat terhadap persoalan. Tahun 1974, jumlah penduduk dunia baru 4 milyar orang dan pendapatan penduduk dunia sekitar 23 trilyun dollar AS. Dewasa ini, jumlah penduduk menjadi 6,7 miliar orang dan pendapatan mencapai 65 triliun dollar AS. Untuk bisa kembali ke pertumbuhan ekonomi 4 persen, akan dibutuhkan lebih banyak sumber daya alam, seperti energi, air, dan tanah yang bisa digarap ketimbang tahun 1970-an dan itu berarti resiko yang lebih besar juga terhadap iklim dan ekosistem global.

-

Sifat perekonomian yang terbuka akan membuat Indonesia sulit menghindar dari dampak stagflasi global, yang akan ditransmisikan lewat berbagai saluran, termasuk perdagangan, pasar uang, nilai tukar, dan investasi. (Sri Hartati Samhadi)

=====================================================

Keterangan :

-

Stagnasi ekonomi = pertumbuhan ekonomi berjalan lambat (biasanya diukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto/PDB) pada suatu periode tertentu. Yang dimaksud dengan “lambat” adalah angka pertumbuhan ekonomi lebih kecil dari angka pertumbuhan ekonomi potensial yang di prediksi sebelumnya. Stagnasi ekonomi bisa juga diartikan jika pertumbuhan ekonomi kurang dari 2–3 persen pertahun.

-

Produk Domestik Bruto/PDB (GDP = Gross Domestic Product) = nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh satu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.

-

Kontraksi-ekonomi=penurunan-aktivitas perekonomian secara umum, antara lain ditandai dengan penurunan pendapatan (GDP) dan tingginya pengangguran.

-

Resesi ekonomi = kondisi ekonomi dimana Produk Domestik Bruto (GDP) menurun dan pertumbuhan ekonomi riel bernilai negatif selama dua kwartal atau lebih dalam satu tahun.

-

Depresi ekonomi = resesi ekonomi yang berlangsung lama.

-

Inflasi = suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus. Dengan kata lain inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara berlanjut. Disebut inflasi ringan jika kenaikan harga berada di bawah angka 10 persen setahun. Inflasi sedang jika kenaikan harga antara 10–30 persen, sedangkan inflasi berat jika kenaikan harga antara 30–100 persen, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali jika kenaikan harga berada di atas 100 persen setahun.

-

Stagflasi = keadaan ekonomi dimana inflasi dan stagnasi terjadi bersamaan.

-

(Bahan diambil dan diedit dari: Wikipedia bahasa Indonesia)

-

-

INDONESIA JAUH DARI ANCAMAN STAGFLASI

-

Kompas, 8 Agusus 2008Perekonomian Indonesia dinilai jauh dari ancaman stagflasi yang kini tengah mengintai negara maju, terutama Amerika Serikat. Problem yang dihadapi perekonomian Indonesia juga tidak serumit yang dialami AS.

-

Gubernur Bank Indonesia Boediono, Jumat (8/8/08) di Jakarta, mengatakan AS terancam stagflasi karena negara adidaya itu harus menghadapi tiga masalah besar sekaligus, yakni perekonomian yang stagnan, inflasi tinggi dan krisis sektor keuangan.

-

Stagflasi sendiri merupakan kondisi dimana terjadi stagnasi ekonomi dibarengi dengan inflasi tinggi.

-

“Di AS ada institusi keuangan yang jatuh dan terpaksa diinjeksi modal. Ini semacam krisis di sektor keuangan,” kata Boediono.

-

Adapun kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih kondusif. Alasannya, perekonomian Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pada triwulan I–2008, ekonomi domestik tumbuh 6,3 persen.

-

Sampai semester I-2008, perekonomian domestik juga masih terus tumbuh ditandai dengan tingginya permintaan semen dan kendaraan bermotor, terutama di luar Jawa. Bahkan kredit perbankan mencatat laju pertumbuhan setahunan (year on year) tertinggi sejak terjadi krisis mencapai 32 persen. “Kinerja ekspor juga masih bagus,” kata Boediono.

-

Pengeluaran pemerintah juga ikut memberikan stimulus pembangunan.

-

Alasan lainnya, kondisi keuangan juga masih stabil. Industri perbankan yang mendominasi industri keuangan domestik, tergolong sehat, ditandai dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 18 persen. Kurs rupiah juga cukup stabil.

-

Menurut Gubernur BI, satu hal yang dihadapi adalah bagaimana mengendalikan inflasi supaya tidak mengenai mereka yang berpendapatan rendah. Adapun inflasi setahunan Juli 2008 mencapai 11,9 persen.

-

Boediono melanjutkan, dalam mengendalikan inflasi, BI mengombinasikan berbagai cara, seperti menaikkan suku bunga acuan atau BI rate, mengelola valas , dan menjalankan kebijakan operasi pasar terbuka. Untuk meredam inflasi, sejak Mei 2008 BI telah menaikkan BI rate 100 basis menjadi 9 persen.

-

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman Hadad, optimistis pertumbuhan akan tetap tinggi pada semester II-2008. Ia memperkirakan laju penyaluran kredit bisa mencapai 30 persen pada akhir tahun 2008.

-

EKONOMI GLOBAL MULAI PULIH 2010

-

Kompas, 14 Agustus 2008 – Perekonomian Amerika Serikat dan Eropa belum membaik. Ini akan memperlemah perekonomian global yang diperkirakan baru akan pulih tahun 2010. Untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap tumbuh, disarankan agar memenuhi kebutuhan komoditas energi dan pangan dari pasar domestik.

-

Demikian disampaikan Chief Economist Deutsche Bank Group, Norbert Walter, Rabu (13/8/08) di Jakarta. Dia mengatakan, saat ini resesi ekonomi sebenarnya telah terjadi di AS dan sedang mengarah ke negara-negara di Eropa.

-

Krisis perumahan di AS telah menekan perekonomian negara itu cukup dalam. Kondisi itu diperparah dengan adanya krisis keuangan, komoditas impor yang mahal, serta tingginya defisit rekening dan anggaran AS.

-

“Tahun 2010 merupakan waktu yang paling cepat untuk keluar dari keadaan yang suram ini,“ kata Norbert Walter.

-

Adapun resesi di berbagai negara Eropa, kata Walter, dapat terjadi akibat krisis perumahan dan kontruksi. Apalagi potensi pertumbuhan jangka panjang negara di benua itu tergolong rendah akibat tantangan demografis.

-

Apresiasi euro yang tinggi terhadap dollar AS juga menurunkan daya saing negara-negara Eropa. Perusahaan pengekspor mengalami kerugian besar akibat nilai tukar euro yang berada diatas perkiraan rata-rata keseimbangan nilai tukar.

-

Melemahnya perekonomian AS dan Eropa, kata Walter, memberi pengaruh signifikan terhadap prospek pertumbuhan Asia. Terlebih, gejolak pasar finansial yang terjadi di AS juga menimpa negara-negara berkembang.

-

“Pengaruh AS dan Eropa sangat besar karena pertumbuhan ekonomi global selama ini 25 persen disumbang oleh AS dan 25 persen oleh Eropa,” kata Walter.

-

Pertumbuhan ekonomi Indonesia

-

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan masih sekitar 6 persen, sama dengan target pertumbuhan tahun 2008.

-

Namun, Indonesa disarankan untuk memenuhi permintaan akan komoditas energi dan pangan dari pasar domestik dan internasional agar perekonomian Indonesia dimungkinkan untuk bertumbuh di tengah tren penurunan internasional.

-

Sekalipun masih tertekan sampai 2009, melemahnya ekonomi AS dan Eropa dinilai memberi pengaruh signifikan terhadap petumbuhan prospek pertumbuhan Asia. Hal ini tampak dari perdagangan intra-regional yang telah meluas cukup cepat. “Negara berkembang merupakan pilar terakhir pertumbuhan global,” katanya.

-

Pendapat senada disampaikan Kepala Ekonom Bank BNI, Tony Prasentiantono. Dia menjelaskan, pertumbuhan perdagangan intra Asia telah membuat perekonomian negara-negara di benua ini lebih bertahan. Dampak dari krisis perumahan serta ketergantungan terhadap AS dan Eropa semakin berkurang.

-

Menurut Tony, pemulihan ekonomi global dapat lebih cepat terjadi jika harga minyak berada di kisaran 100 dollar AS – 120 dollar AS per barrel. “Kalau harga minyak bisa stabil pada kisaran itu, tahun 2009 recovery (pemulihan) ekonomi dapat terjadi,” katanya. (REI)

About these ads