BANYAK TKI DI MALAYSIA ALAMI HUKUMAN CAMBUK !

-

CAMBUK-

Beberapa dari ratusan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal yang kini diusir Pemerintah Malaysia ke Tanah Air mengaku pernah dihukum cambuk.

-

“Saya dicambuk dengan rotan di penjara Malaysia setelah diputuskan bersalah karena tidak ada dokumen yang lengkap sebagai tenaga kerja asing di Negara tersebut,” ungkap Doliboy (30 tahun) di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Sabtu (20 Juni 2009).

-

Doliboy, asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dihukum selama 4 bulan di Malaysia. Setelah menjalani masa hukuman, Jumat 19 Juni 2009, ia dipulangkan bersama ratusan orang senasib dengannya melalui Pelabuhan Pasir Gudang, Johor.

-

Ia pernah 3 tahun bekerja di Malaysia sebagai pemasang pipa saluran tinja dan mengaku diperlakukan tidak manusiawi selama berada dalam penjara. “Saya sering mendapat perlakuan kasar, seperti diinjak-injak dan dicambuk,” ujarnya.

-

Doliboy ditangkap karena kabur dari majikannya saat bekerja. Dia melarikan diri dari tempat kerja karena gajinya selalu dipotong setengahnya untuk biaya makan dan izin kerja.

-

“Saya sudah tidak tahan karena diperlakukan tidak adil. Saya digaji 25 ringgit Malaysia per hari atau sama dengan 600 ringgit Malaysia per bulan. Namun, itu belum dipotong biaya makan dan permit (izin kerja) per bulan,” kata Doliboy.

-

Ia juga menceriterakan nasib buruk yang dialami temannya. Teman sekamarnya dalam ruangan penjara terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena jantung terganggu akibat sering dipukul oleh  petugas penjara. “Kami tidak tahan karena diperlakukan tidak manusiawi,” katanya.

-

Hukuman cambuk, menurut Doliboy, dapat diganti dengan penjara 4 bulan. “Kadang-kadang sudah dihukum cambuk pun tetap dipenjara 4 bulan, baru dapat pulang ke Tanah Air,” ujarnya.

-

Selain Doliboy, TKI asal Belu, NTT, Robertus Nana (18 tahun), juga mendapat perlakuan sama di penjara Malaysia.  “Saya dicambuk di penjara karena saya bekerja tanpa surat-surat resmi,” katanya.

-

Kedua TKI itu diusir Pemerintah Malaysia dan tiba di pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang bersama 137 TKI bermasalah lainnya.

-

Itulah contoh sosok TKI yang mengadu untung di Malaysia namun mengalami nasib “buntung”. Sudah bekerja keras untuk sang “Majikan Malaysia”, namun buntut-buntutnya masuk penjara dan menerima hadiah cambukan. Penderitaan TKI di Negeri Jiran (maupun di negeri lainnya) bisa berkepanjangan, kalau pemerintah Indonesia tidak benar-benar gigih memberikan perlindungan kepada TKI di luar negeri. (Sumber : dicuplik dan diedit dari berita berjudul “TKI Dicambuk dan Diusir” – Harian Republika, 27 Juni 2009)

-

Jika anda ingin tahu foto-foto dan video hukuman cambuk di Malaysia, silahkan klik situs di bawah :

-

http://iwandahnial.wordpress.com/2008/07/27/hukuman-cambuk-di-malaysia-lebih-sadis-dari-hukuman-cambuk-di-aceh/#more-1040

-

-

DERITA “PAHLAWAN DEVISA”

-

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula ! Barangkali itu pas jika dialamatkan kepada 174 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di penampungan TKI di Riyadh, Arab Saudi.

-

Bagaimana tidak, para TKI ini sudah dianiaya majikan, tidak dibayar gajinya, bahkan ada yang diperkosa hingga melahirkan, tapi hingga kini belum bisa pulang ke Tanah Air !! Tidak punya uang dan mesti menjalani proses hukum di negara kaya minyak itu menjadi alasan tertahannya mereka di sana.

-

Yang menyedihkan lagi, dari 174 tenaga kerja wanita (TKW) yang berada di penampungan itu, 18 diantaranya mengalami ganguan jiwa alias gila ! “Mereka datang atau diantar ke sini sudah dalam kondisi stres berat atau mengalami gangguan jiwa,” ujar Nur, pengasuh tempat penampungan TKW tersebut, kepada harian Republika di Riyadh, beberapa pekan lalu.

-

Nur mengaku tidak tahu persis mengapa ke-18 wanita berusia 20 sampai 35 tahun itu bisa sampai terganggu jiwanya. Tapi, lazim yang terjadi, ungkap Nur, mereka tidak tahan atas perlakuan majikannya, seperti siksaan fisik, jam kerja yang di luar kemanusiaan, dimarahi majikan setiap hari, serta gaji tak dibayar.

-

Lalu, bagaimana penanganan TKW yang mengalami gangguan jiwa itu? Umumnya, kata Nur, mereka dirawat di rumah sakit hingga saatnya nanti dipulangkan ke Tanah Air. Dari 18 TKW tersebut, kini ada 11 orang yang sudah siap dipulangkan ke Tanah Air meski belum sembuh benar.

-

Republika sempat menemui seorang TKW yang mengalami gangguan jiwa di rumah penampungan itu. Ketika didekati dan ditanya namanya, ia hanya bisa menangis meraung-raung dan menggaruk-garukkan jari ke lantai. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. ”Sudah mas, dia mungkin lagi tidak enak badan,” ujar seorang pengasuh.

-

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Salim Segaf Aljufrie, mengatakan, persoalan terbesar TKW di Arab Saudi adalah masalah gaji. Dari 174 orang yang ada di penampungan, 80 persen di antaranya karena gaji yang tidak dibayar. Sisanya, karena dianiaya, gangguan jiwa, diperkosa atau pelecehan seksual, dan kerja yang terlalu berat.

-

Sumarni (nama asli Siti Juwairiyah), misalnya, menceritakan bagaimana diperlakukan sangat tak manusiawi oleh majikannya. Ia bekerja di 3 rumah dan diperkosa beberapa kali oleh majikan sampai akhirnya melahirkan. ”Saya dipaksa melayani dia. Kalau tidak, diancam akan dibunuh,” ceritanya.
-

Anak hasil hubungan gelapnya itu lahir pada 13 November 2007. Kini, mereka tinggal di penampungan sudah lebih dari 2 tahun. Sumarni bisa keluar dari rumah majikannya setelah kabur. Seseorang membantunya untuk mengadukan masalah itu ke Kedutaan Besar RI (KBRI).
-

Tak jelas, bagaimana kelanjutan kasus perkosaan itu. Ketika ditanya apa keinginannya? Sumarni pun meneriakkan ‘pulang‘. Kepada rombongan pengurus Pengelola Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), KBRI Arab Saudi, dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI),Sumarni meminta segera dipulangkan ke Tanah Air.
-

Nasib sama juga dialami Munah (nama asli Nuraeni Hidayah). TKW yang sudah menghuni penampungan selama 2 bulan lebih ini mengaku diperkosa majikan. Ia tidak sempat hamil dan kini mengharapkan bisa pulang secepatnya ke Indonesia dan berkumpul dengan sanak keluarga.
-

Lain halnya dengan Nurmiati Sanapiah. Wanita yang sudah tinggal di penampungan selama 1.462 hari ini disiksa oleh majikan hingga cacat fisik seumur hidup. Hampir semua jari tangan dan kakinya puntung serta mengalami gangguan pendengaran sebelah kiri (tuli) karena sering dibenturkan oleh majikannya.
-

”Semua jari tangan dan kaki saya dipukuli hingga akhirnya harus dipotong seperti ini,” katanya sambil menangis dan menunjukkan tangan dan kedua kakinya. Menurut pengasuh rumah penampungan, Nur, kasus Nurmiati kini sedang ditangani pengadilan setempat. Pada pengadilan tingkat pertama, majikannya hanya dihukum membayar gaji Nurmiati sebesar 2.500 dolar AS. Namun, korban tidak mau menerima sehingga dilanjutkan ke pengadilan tinggi. ”Kini, kita tinggal menunggu keputusan pengadilan banding. Semogaberhasil,” kata Nur.
-

Meski kasus ratusan TKI masih terus menyeruak di Arab Saudi, Salim Segaf mengaku terus mendukung pengiriman pahlawan devisa ke negara tersebut. Alasannya, para TKI itu telah menyumbang pemasukan besar bagi negara. Jumlah TKI di Arab Saudi sekitar 600 -700 ribu orang. Rata-rata, uang yang dikirim ke Tanah Air per TKI sekitar Rp.1 juta per bulan. Per bulannya, devisa sebesar Rp 600 milyar – Rp 700 milyar mengalir ke Tanah Air.
-

Data PJTKI memperlihatkan, pekerja Indonesia di Arab Saudi mencapai 1 juta dengan pemasukan devisa sekitar Rp 1 triliun per bulan. Jumlah TKI di luar negeri saat ini sekitar 6 juta orang sehingga tak kurang Rp 6 triliun per bulan dana mengalir.
-

”Mereka ini mengirim uang ke kampung halamannya untuk membangun rumah atau membeli tanah. TKI telah membangun perekonomian daerahnya,” ujar Ketua PJTKI, Nurfaizi. Namun, Salim tetap mewanti-wanti para calon TKI agar betul-betul dilatih sebelum ke Arab Saudi. Termasuk, gambaran situasi dan kondisi masyarakat Arab Saudi yang akan menjadi majikan mereka.
-

PJTKI, lanjut Nurfaizi, ikut bertanggung jawab atas derita yang dialami 174 TKW di rumah penampungan tersebut. Bekerja sama dengan KBRI, kasus per kasus akan dipelajari. Bagi yang tak bermasalah, akan segera dipulangkan. ”Biayanya akan kita ambil dari asuransi TKI,” ujarnya. Sumber:

http://www.republika.co.id/koran/0/57628/Derita_Pahlawan_Devisa

-

TKW 1Habibah (31 tahun, kanan) warga Blok Selasa, RT.3/RW.1, Desa Kumbung, Kab. Majalengka memperlihatkan kaki kirinya yang masih dibalut perban karena luka melepuh akibat disiram air panas oleh majikannya saat menjadi TKW ke Saudi Arabia. (Sumber: http://mitra-dialog.com/?p=202 )

-

-

TKW 2Nirmala Bonat (19 tahun), TKW asal Indonesia yang berhasil diselamatkan (tahun 2004), tubuhnya penuh luka-luka akibat siksaan oleh majikannya di Malaysia, perempuan bernama Yim Pek Ha. Sumber:

http://photojourn.wordpress.com/2009/03/23/sadistic-malaysian-employer-sentenced-to-18-years-for-abusing-maid-released-on-bail/

-

-

TKW 2aSiti Hajar, 33 tahun. Tenaga kerja asal Desa Limbangan Barat, Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat, itu disiksa majikan selama tiga tahun sejak Juli 2006. selain disiksa, janda beranak dua anak itu tak digaji dan hanya diberi nasi dengan lauk daging babi, padahal ia seorang muslim.

-

-

TKW 3

Jenazah Masiah binti Murtala (27), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Serang yang meninggal di Abu Dhabi Qatar akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta (BSH) Tangerang, Rabu (24/12) sekitar pukul 15.30 WIB.

Sumber: http://dedimirwan.blogspot.com/2008/12/tki-meninggal.html :

-

-

TKW 4Kesedihan terlihat di wajah keluarga Yanti saat membuka peti jenazah. Yanti (28) bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah yang tak jauh dari Jeddah. (Foto: Andri Haryanto).Sumber : http://foto.detik.com/readfoto/2008/04/05/004650/918777/157/2/:


About these ads