GEMPA PADANG SUDAH DIPREDIKSI BERPOTENSI AKAN TERJADI

-

GEMPA 1

(Foto: Muhammad Fitrah/Singgalang Newspaper/Reuters)

-

Gempa Padang getarannya nyaris sampai 500 kilometer, terasa sampai ke P. Enggano, Jambi, bahkan terasa hingga di Singapura serta di Kualalumpur (Malaysia). Gempa Padang ini berkekuatan 7,6 Skala Richter (tergolong gempa kuat) terjadi pada hari Rabu (30 September 2009) tepat berselang 4 minggu dari gempa Tasikmalaya berkuatan 7,3 Skala Richter (SR) yang terjadi pada hari Rabu (2 September 2009).

-

Sampai saat ini Gempa Padang telah menelan korban paling sedikit 500 nyawa, ribuan orang masih terjebak di dalam reruntuhan rumah tinggal dan reruntuhan gedung bertingkat, ratusan orang luka-luka. Ribuah rumah rata dengan tanah atau rusak berat. Bukit-bukit berlongsoran, infrastruktur dan fasilitas umum rusak berat termasuk jalan-jalan.

-

Gempa memang tidak bisa ditetapkan prakiraannya secara tepat: kapan dan dimana terjadi. Jadi jangan percaya kepada informasi yang menyebutkan secara tepat kapan dan dimana lokasi terjadinya gempa !

-

Sejauh ini yang dapat dilakukan oleh para ahli gempa adalah memperhitungkan potensi dan peluang terjadinya gempa di suatu kawasan.

-

Sejumlah ahli gempa telah berkali-kali berkumpul mendiskusikan hal itu, terutama untuk kawasan barat Sumatera, yang berada dalam sistem subduksi (penunjaman lempeng samudra ke lempeng benua) yang sama yang terletak di Palung Sumatera.

-

Daerah tersebut merupakan zona subduksi Lempeng Eurasia yang menunjam ke Lempeng Indo-Australia. Zona tersebut, menurut ahli geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman, aktivitasnya tinggi. ”Kecepatannya berkisar 5-7 cm per tahun. Angka ini menunjukkan aktivitas yang tinggi,” tuturnya.

-

Sudah diprediksi
-

Gempa Padang sudah diprediksi, diantisipasi, terutama setelah gempa besar Bengkulu tahun 2007,” tutur guru besar dan ahli gempa dari ITB, Sri Widiyantoro, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (30/9/09). Pada Rabu, 12 September 2007, terjadi gempa berkekuatan 7,9 SR yang mengguncang Bengkulu.
-

Prediksi tersebut berdasarkan hasil pengamatan sejak terjadi gempa 9,3 SR pada Desember 2004 yang membawa tsunami hebat di Aceh.
-

Kekuatan gempa Padang yang 7,6 SR tersebut di bawah prakiraan ahli gempa. ”Prediksinya lebih tinggi, bisa sampai 8,8 SR. Itu prakiraan energi yang masih tersimpan di zona yang belum pecah,” kata Sri Widiyantoro.
-

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,
Yusuf Surachman, menyebut, energi di Padang memang sudah matang.

-

Menurut Sri Widiyantoro, dengan pelepasan energi yang bertahap, tidak sekaligus besar melainkan sedikit demi sedikit dengan skala sekitar 7 SR, energi yang tersimpan akan berkurang secara bertahap. ”Akan tetapi, kami tidak bisa tahu apakah pelepasan energinya bertahap, sering-sering tapi tidak besar sekali, atau akan dikeluarkan sekaligus besar,” katanya menambahkan. Energi dari gempa 8,9 SR, katanya, dibandingkan dengan 7,9 SR adalah 30 kali lipat besarnya.

-

Meloncati Padang
-

Dari pengamatan sejak tahun 2004, berturut-turut menurut Sri Widiyantoro terjadi gempa kuat berskala di atas 7,0 SR, mulai dari Nias hingga Bengkulu (tahun 2007), terus berlanjut sampai ke gempa Tasikmalaya (2 September 2009)

-

”Ketika itu, saat tahun 2007 terjadi gempa Bengkulu, kami melihat ada yang aneh, mengapa kok meloncat? Mengapa Padang dilewati?’” Fenomena itu memiliki arti bahwa segmen di daerah Padang belumpecah”, melepaskan energi.
-

Setelah gempa Padang kemarin, pertanyaan yang masih mengganjal benak kalangan ahli gempa adalah bagaimana dengan zona subduksi di kawasan Mentawai yang sampai sekarang belum juga pecah ?

-

Jalur zona subduksi di sebelah barat Sumatera yang merupakan daerah pusat gempa menurut Yusuf Surachman panjangnya sekitar 1.200 kilometer membentang dari Andaman, Aceh, Sumatera Utara, Padang, terus ke selatan, Bengkulu, Lampung, sampai ke Selat Sunda dan selatan Jawa Barat.
-

Gempa Padang, yang berkekuatan 7,6 SR, menurut Sri Widiyantoro, panjang zona yang pecah baru sekitar 100 kilometer. ”Maka kita semua harus terus waspada, tapi tidak perlu panik,” ujarnya.

-
Danny menambahkan, kawasan Mentawai yang belum juga melepaskan energi, panjang jalurnya 300-400 kilometer, mulai dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, sampai ke Pulau Bagai Utara dan Bagai Selatan. ”Pusatnya terutama di bawah wilayah Siberut,” kata Danny.

-

Dia mengakui, gempa Padang berpotensi memicu potensi gempa besar yang ada di jalur tersebut, tetapi, ”Yang kami tak tahu ialah apakah itu sudah cukup besar untuk membuat zona di Mentawai bergerak. Jangka waktunya kita pun tak tahu. Bisa beberapa bulan atau beberapa tahun. Kami tak bisa memastikan kapan dan berapa besar energi yang terpicu,” katanya.
-

Yang dapat dilakukan dan harus terus dilakukan, menurut mereka, adalah mempersiapkan masyarakat agar ketika bencana terjadi mereka siap. ”Masyarakat harus diajari agar mereka tahu ke mana jalur untuk menyelamatkan diri, misalnya terjadi tsunami,” ujar Sri. (Bahan dicuplik dan diedit dari: Kompas.com )

-

GEMPA 2GEMPA 3

-

RAMALAN ILMIAH TAHUN 2007

-

GEMPA BESAR ANCAM PADANG – SUMATERA !!  WASPADA !!

-

GEMPA 4

-

Ramalan demi ramalan yang berbau isu seputar bencana yang muncul di bulan Desember 2007 ini kian santer saja. Beberapa waktu lalu yang berbicara tentang isu ini merupakan kelompok paranormal saja, atau juga para awam. Namun kali ini yang mengemukakan prediksi adalah: PENELITI LIPI !! Walaupun tidak bisa memprediksi kapan peristiwa ini bisa terjadi, tetapi “ramalannya” adalah: “GEMPA BESAR ANCAM PADANG dan SUMATERA”!!

-

Gempa dahsyat ini berpotensi terjadi di Mentawai Sumatera Barat. Gempa yang diperkirakan berkekuatan 9 SR ini diperkirakan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 4 sampai tujuh meter. Guncangan gempa akan menggetarkan Bengkulu dan provinsi lainnya. Prediksi gempa 9 SR itu disampaikan ahli dari Pusat Penelitian LIPI, Danny Hilman Natawijaya, Senin (3/12/2007). Ia menyampaikan prediksi itu setelah mempelajari siklus gempa selama ini yang mengguncang Mentawai Sumbar.

-

“Gempa kekuatan itu bisa dirasakan di Bengkulu dan Padang dengan kekuatan setara VIII MMI (Modified Mercalli Intensity) yang disusul dengan gelombang tsunami,” ucap Danny pada Seminar Geoteknologi “Kontribusi Ilmu Kebumian dalam Pembangunan Berkelanjutan” di Bandung.

-

Gelombang tsunami di Padang akan mencapai ketinggian 4 meter dan pergerakannya sekitar 1,5 kilometer dari pantai. Sedangkan untuk Bengkulu bisa lebih tinggi yang mencapai 7 meter. Sejumlah pulau yang berada di seputar kawasan gempa akan tersapu gelombang tsunami, seperti Kepulauan Mentawai. Hal ini karena pulau itu lebih dekat pergerakannya dengan pusat gempa.

-

Sumber gempa itu sendiri diduga di bawah Pulau Mentawai dengan kedalaman antara 20-30 kilometer. Perkiraan itu, kata Danny, terbukti dari saat gempa besar di kawasan Kepulauan Mentawai pada 12 September 2007 dengan kekuatan 8,4 SR. Gempa itu terjadi setelah rentetan gempa besar di Aceh dan Nias pada tahun 2004 dan 2005.

-

“Gempa berskala 8,4 SR itu kemudian diikuti oleh banyak gempa susulan yang muncul sambung-menyambung di wilayah sekitar lempeng yang pecah. Yang mengagetkan, sekitar 12 jam kemudian, sebuah gempa besar lagi dengan skala magnitudo 7,8 SR kembali,” katanya.

-

Gempa inilah yang banyak menimbulkan kerusakan bangunan di Kota Padang. Meskipun kekuatannya lebih kecil, tapi letak episentrumnya di sekitar Pulau Pagai Selatan yang lebih dekat dengan Padang. “Gempa ini sukar untuk diklasifikasikan sebagai gempa susulan, karena skalanya terlalu besar. Pada umumnya gempa susulan paling besar adalah 1 skala di bawah gempa utamanya yakni 7,4 SR, bahkan lebih umum cenderung 2 skala atau lebih di bawah skala gempa utama,” sebutnya.

-

“Yang menjadi pertanyaan apakah ancaman dari rentetan gempa-gempa ini sudah berakhir? Kita semua berharap demikian, tapi data dan praduga ilmiah menunjukkan sebaliknya. Gempa raksasa yang “bertapa” sejak terakhir bangun di tahun 1797 dan 1833 ternyata belum sepenuhnya terusik,” jelasnya.

-

Hal ini terlihat dari hasil “plotting” dari gempa-gempa yang sudah terjadi dan tampaknya baru melepaskan akumulasi energi yang terkumpul di bagian pinggirannya saja. Gempa yang bermula dari kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat menyebar dan mengepung bagian badan dan kepala “sang raksasa”, yakni di bawah Pulau Siberut, Sipora dan Pagai. “Bidang sumber gempa di Mentawai itu 12-15 derajat yang setiap tahunnya terjadi pergeseran 5 centimeter. Untuk gempa antara tahun 1797-1833 telah terjadi pergeseran 10 meter. Setiap dihajar gempa, maka pergeseran itu akan turun,” jelasnya. (Sumber: Koran Nias).

-

-

RAMALAN ILMIAH TAHUN 2008

-

GEMPA BUMI DAHSYAT MENGANCAM INDONESIA

-

Asia-Pasifik menghadapi sebuah era bencana alam dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai 1 juta orang pada satu waktu. Indonesia, Filipina, dan China mempunyai risiko yang paling besar menurut sebuah laporan ilmiah dari Australia hari Jumat lalu (26 Desember 2008). Masalahnya, bencana terjadi di daerah padat penduduk serta perubahan iklim yang meningkatkan potensi bencana.

-

Prediksi itu dilakukan ilmuwan Australia yang menganalisis potensi gempa bumi, tsunami, letusan gunung dan topan berdasarkan pola gempa 400 tahun terakhir. Kajian itu menemukan, kota-kota di sabuk Himalaya, China, Indonesia, dan Filipina dapat mengalami gempa bumi dengan korban tewas bisa mencapai 1 juta orang. Indonesia dan Filipina juga menghadapi risiko gunung meletus yang bisa mempengaruhi ratusan ribu orang.

-

Demikianlah bagian dari laporan ilmiah yang dikutip oleh surat kabar Sydney Morning HeraldLaporan tersebut dikeluarkan oleh badan pemerintah Geosiencece Australia. Potensi bencana itu telah mendorong Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, dan Presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk membentuk sebuah pusat penelitian dan pelatihan bencana gabungan.

-

SUMBER:

Dicuplik dan diedit dari artikel berjudul “Bencana Dahsyat Bisa Menimpa Indonesia” di situs Kompas.com)

-

GEMPA 5-

-

LEMPENG EURASIA (EURASIAN PLATE) dan LEMPENG INDO-AUSTRALIA (INDIAN AUSTRALIAN PLATE)

-

LEMPENG

About these ads