MIMAS, BULANNYA SATURNUS (Saturn’s Moon Mimas)

-

-

Pada tanggal 13 Februari 2010 pesawat luar angkasa NASACassini” mendekati bulannya planet SATURNUS bernama MIMAS, kira-kira pada jarak 70.000 kilometer dan mengabadikannya dalam bentuk foto seperti di atas ini. Bagian dari Saturnus dan atmosfir bagian atasnya terlihat pada latar belakang. (On February 13, 2010 NASA’s Cassini spacecraft approached close to Saturn’s moon Mimas, approximately 70,000 km away, and created this image of the icy satellite. Saturn’s limb and upper atmosphere are visible in the background).

-

Mimas (berdiameter 396 kilometer) diketemukan oleh  ahli astronomi bernama William Herschel pada 17 September 1789. Sejauh ini planet Saturnus diketahui sedikitnya memiliki 62 buah bulan (satelit alami = benda luar angkasa alami  yang mengorbit sebuah planet atau benda lainnya yang lebih besar dari dirinya). (Mimas, 396 kilometers or 246 miles wide, was discovered by the astronomer William Herschsel  on 17 September 1789. Saturn has at least 62 moons).

-

Di bawah ini disajikan foto-foto bulan Mimas yang diabadikan oleh pesawat luar angkasa NASACassini” pada beberapa kesempatan dan pose.

-

Pesawat luar angkasa NASA “Cassini” mengabadikan (memotret) bulan Mimas pada tanggal 16 Oktober 2010, saat Mimas hendak memasuki belakang bayangan planet Saturnus. Jarak kamera dari Mimas kira-kira sekitar 101.552 kilometer. (NASA’s Cassini spacecraft obtained this raw image of the moon Mimas on Oct. 16, 2010, just before Mimas went into shadow behind Saturn. The camera was approximately 101,552 kilometers / 63,1010 miles away).

-

-

Gambar yang menunjukkan bagian belahan Mimas yang menghadap ke  depan orbitnya sekitar planet Saturnus. Gundukan melingkar dan lubang besar di tengahnya (seperti cukilan) yang tampak pada permukaan Mimas adalah Kawah Herchel. (The view shows the hemisphere that faces forward in Mimas’ orbit around Saturn. The large round gouge on the surface is Herschel Crater).

-

-

Peta Mimas. (Map of Mimas).

-

-

Gambar resolusi tinggi dari bagian permukaan Mimas dengan penampakan dinding-dinding kawah gunung. (High-resolution view of Mimas’s limb, showing features on crater walls).

-

-

Gambar bulan Mimas (berdiameter kira-kira 396 km) terlihat berupa titik hitam di atas lingkaran (cincin) hitam, di depan planet Saturnus. Gambar ini diambil oleh kamera pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 17 Oktober 2009. (The moon Mimas shown in front of the planet Saturnus. Mimas, 396 kilometers, or 246 miles across, appears as only a small dot above the rings near the center of the image. The image was taken with the Cassini spacecraft wide-angle camera on Oct. 17, 2009).

-

-

Mimas (titik putih sebelah kiri di bawah lingkaran-lingkaran cincin) dan planet Saturnus. Foto ini diambil oleh kamera pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 4 September 2009 pada jarak 2,7 juta km dari Saturnus. (Saturn and Mimas. Mimas is the tiny white dot located in in the lower left of the image. This photograph was taken on 4 September 2009 at a distance of approximately 2.7 million kilometers or 1.7 million miles from Saturn).

-

-

Mimas di belakang cincin F, Januari 2008. (Mimas behind the F ring, January 2008).

-

-

Bulan Mimas (tampak seperti telur ayam) bergerak sepanjang orbitnya dengan latar belakang langit biru di garis lintang utara Saturnus, warna biru yang tampak adalah warna yang sebenarnya. Garis-garis lingkaran (cincin) hitam adalah bayangan dari cincin planet Saturnus. Gambar ini diambil oleh kamera pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 18 Januari 2005 pada jarak kira-kira 1,4 juta kilo meter dari Saturnus. (Mimas drifts along in its orbit against the azure backdrop of Saturn’s northern latitudes in this true color view. The long, dark lines on the atmosphere are shadows cast by the planet’s rings. The images were obtained using the Cassini spacecraft narrow angle camera on January 18, 2005, at a distance of approximately 1.4 million kilometers (870,000 mi) from Saturn).

-

-

Bulan Mimas yang diameternya 396 km, tampak lebih kecil dibandingkan dengan bulan Dione yang berdiameter 1.122 km (bulan Dione adalah sebuah satelit alami dari planet Saturnus dan merupakan bulan terbesar ke 15 dalam sistim Tata Surya, ditemukan oleh Giovanni Cassini pada tahun 1684). Tampak dari sorotan pesawat ruang angkasa Cassini, Kawah Herschel (lebarnya 130 kilometer) yang terdapat di permukaan Mimas. Gambar ini diambil oleh kamera pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 23 Maret 2010 pada jarak kira-kira 1,6 juta kilo meter dari Mimas. (The smaller moon Mimas upstages the larger moon Dione as the dramatic Herschel Crater is spotlighted on Mimas in this Cassini spacecraft view. Herschel Crater is about 130 kilometers, or 81 miles, wide. The image was taken in visible red light with the Cassini spacecraft narrow-angle camera on March 23, 2010. The view was obtained at a distance of approximately 1.6 million kilometers or 994,000 miles from Mimas).

-

Bulan Dione (Moon Dione).

-

Sumber: Boston.com, NASA, Wikipedia

-

-

-

SATURNUS DALAM SISTIM “TATA SURYA” (SOLAR SYSTEM)

-

-

-

SATURNUS

-

Besarnya Saturnus di banding dengan Bumi yang kecil.

-

Saturnus adalah sebuah planet di Tata Surya di yang dikenal juga sebagai planet bercincin. Jarak Saturnus sangat jauh dari Matahari, karena itulah Saturnus tampak tidak terlalu jelas dari Bumi. Saturnus berevolusi dalam waktu 29,46 tahun. Setiap 378 hari, Bumi, Saturnus dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus. Selain berevolusi, Saturnus juga berotasi (berputar pada sumbu yang tetap) dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 10 jam 14 menit.

-

Saturnus memiliki kerapatan yang rendah karena sebagian besar zat penyusunnya berupa gas dan cairan. Inti Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat dengan atmosfer tersusun atas gas ammonia dan metana, hal ini tidak memungkinkan adanya kehidupan di Saturnus.

-

Cincin Saturnus sangat unik, terdiri beribu-ribu cincin yang mengelilingi planet ini. Bahan pembentuk cincin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berpendapat, cincin itu tidak mungkin terbuat dari lempengan padat karena akan hancur oleh gaya sentrifugal (menjauhi pusat lingkaran ketika benda bergerak melingkar). Namun, tidak mungkin juga terbuat dari zat cair karena gaya sentrifugal akan mengakibatkan timbulnya gelombang. Jadi, sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk cincin-cincin itu adalah bongkahan-bongkahan es meteorit.

-

Saturnus diketahui memiliki sedikitnya 62 buah bulan (satelit alami). Tujuh diantaranya cukup masif untuk dapat runtuh berbentuk bola di bawah gaya gravitasinya sendiri. Mereka adalah Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan (satelit terbesar dengan ukuran lebih besar dari planet Merkurius) dan Iapetus. (Gaya gravitasi = gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. Massa = berat).

-

BENTUK FISIK

-

Saturnus memiliki bentuk yang diratakan di kutub dan dibengkakkan keluar disekitar khatulistiwa. Diameter khatulistiwa Saturnus sebesar 120.536 km (74.867 mil) dimana diameter dari Kutub Utara ke Kutub Selatan sebesar 108.728 km (67.535 mil), berbeda sebesar 9%. Bentuk yang diratakan ini disebabkan oleh rotasinya yang sangat cepat, merotasi setiap 10 jam 14 menit waktu Bumi.

-

Saturnus adalah satu-satunya Planet di Tata Surya yang massa jenisnya lebih sedikit daripada air. Walaupun inti Saturnus memiliki massa jenis (ukuran massa per satuan volume) yang lebih besar dari massa jenis air, planet ini memiliki atmosfer yang mengandung gas, sehingga massa jenis relatif planet ini sebesar 0.69 g/cm³ (lebih sedikit dari massa jenis air), sebagai hasilnya, jika Saturnus diletakkan di atas kolam yang penuh air, Saturnus akan mengapung.

-

ATMOSFER

-

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet (termasuk Bumi).

-

KOMPOSISI

-

Awan heksagonal kutub utara Saturnus yang pertama kali dideteksi oleh pesawat luar angkasa tanpa awak Voyager 1 dan akhirnya pada tahun 2006 dipastikan oleh pesawat luar angkasa Cassini.

-

Bagian luar atmosfer Saturnus terbuat dari 96.7% hidrogen dan 3% helium, 0.2% metana dan 0.02% amonia. Pada atmosfer Saturnus juga terdapat sedikit kandungan asetilena, etana dan fosfin.

-

AWAN

-

Awan Saturnus, seperti halnya Yupiter, merotasi dengan kecepatan yang berbeda-beda bergantung dari posisi lintangnya. Tidak seperti Yupiter, awan Saturnus lebih redup dan awan Saturnus lebih lebar di khatulistiwa. Awan terendah Saturnus dibuat oleh air es dan dengan ketebalan sekitar 10 kilometer. Temperatur Saturnus cukup rendah, dengan suhu 250 K (-10°F,

-3°C).

-

Awan diatasnya, memiliki ketebalan 50 kilometer, terbuat dari es aqmonium hidrogensulfida (simbol kimia: NH4HS) dan di atas awan tersebut terdapat awan es amonia dengan ketebalan 80 kilometer. Bagian teratas dibuat dari gas hydrogen dan helium, dimana tebalnya sekitar 200 dan 270 kilometer. Aurora juga diketahui terbentuk di mesosfer Saturnus.

-

Temperatur di awan bagian atas Saturnus sangat rendah, yaitu sebesar 98 K (-283 °F, -175 °C). Temperatur di awan bagian dalam Saturnus lebih besar daripada yang diluar karena panas yang diproduksi di bagian dalam Saturnus. Angin Saturnus merupakan salah satu dari angin terkencang di Tata Surya, mencapai kecepatan 500 m/s (1.800 km/jam, 1.118 mph), yang jauh lebih cepat dari angin yang ada di Bumi.

-

Pada Atmosfer Saturnus juga terdapat awan berbentuk lonjong yang mirip dengan awan berbentuk lonjong yang lebih jelas yang ada di Yupiter. Titik lonjong ini adalah badai besar, mirip dengan angin taufan yang ada di Bumi. Pada tahun 1990, Teleskop Hubble mendeteksi awan putih didekat khatulistiwa Saturnus. Badai seperti tahun 1990 diketahui dengan nama Bintik Putih Raksasa, badai unik Saturnus yang hanya ada dalam waktu yang pendek dan muncul setiap 30 tahun waktu Bumi. Bintik Putih Raksasa juga ditemukan tahun 1876, 1903, 1933 dan tahun 1960. Jika lingkaran konstan ini berlanjut, diprediksi bahwa pada tahun 2020 bintik putih besar akan terbentuk kembali.

-

Pesawat angkasa Voyager 1 mendeteksi awan heksagonal didekat kutub utara Saturnus sekitar bujur 78° utara. Pesawat luar angkasa Cassini-Huygens mengkonfirmasi hal ini pada tahun 2006. Tidak seperti kutub utara, kutub selatan tidak menunjukan bentuk awan heksagonal dan yang menarik Cassini menemukan badai mirip dengan siklon tropis (badai tropis) terkunci di kutub selatan dengan dinding mata yang jelas. Penemuan ini mendapat catatan karena tidak ada planet lain kecuali Bumi di tata surya yang memiliki dinding mata.

-

INTI PLANET

-

Inti Planet Saturnus mirip dengan Yupiter. Planet ini memiliki inti planet di pusatnya dan sangat panas, temperaturnya mencapai 15.000 K (26.540 ° F, 14.730 ° C). Inti Planet Saturnus sangat panas dan inti planet ini meradiasi sekitar 21/2 kali lebih panas daripada jumlah energi yang diterima Saturnus dari Matahari. Inti Planet Saturnus sama besarnya dengan Bumi, namun jumlah massa jenisnya lebih besar. Di atas inti Saturnus terdapat bagian yang lebih tipis yang merupakan hydrogen metalik, sekitar 30.000 km (18.600 mil). Diatas bagian tersebut terdapat daerah liquid hidrogen dan helium. Inti planet Saturnus amat berat, dengan massa sekitar 9 sampai 22 kali lebih dari massa inti Bumi.

-

MEDAN GAYA

-

Saturnus memiliki medan gaya alami yang lebih lemah dari Yupiter. Medan gaya Saturnus unik karena porosnya simetrikal, tidak seperti planet lainnya. Saturnus menghasilkan gelombang radio, namun mereka terlalu lemah untuk dideteksi dari Bumi. Bulan dari Saturnus, Titan mengorbit di bagian luar medan gaya Saturnus dan memberikan keluar plasma terhadap daerah dari partikel atmosfer Titan yang yang di ionisasi (proses pembentukan ion. Ion = atom atau sekumpulan atom yang bermuatan listrik).

-

ROTASI DAN ORBIT

-

Animasi awan heksagonal Saturnus.

-

Jarak antara Matahari dan Saturnus lebih dari 1.4 milyar km, sekitar 9 kali jarak antara Bumi dan Matahari. Perlu 29,46 tahun Bumi bagi Saturnus untuk mengorbit Matahari yang diketahui dengan nama periode orbit Saturnus. Saturnus memiliki periode rotasi selama 10 jam 14 menit waktu Bumi. Namun, Saturnus tidak merotasi dalam rata-rata yang konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung dengan kecepatan rotasi gelombang radio yang dikeluarkan oleh Saturnus. Pesawat ruang angkasa Cassini-Huygens menemukan bahwa emisi radio melambat dan periode rotasi Saturnus meningkat. Tidak diketahui hal apa yang menyebabkan gelombang radio melambat.

-

CINCIN SATURNUS

-

Foto ultraviolet dari cincin Saturnus.

-

Saturnus terkenal karena cincin di planetnya, yang menjadikannya sebagai salah satu obyek dapat dilihat yang paling menakjubkan dalam sistem Tata Surya.

-

Cincin itu pertama sekali dilihat oleh Galileo Galilei pada tahun 1610 dengan teleskopnya, tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis bahwa “Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari 3 yang hampir bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan zodiak dan yang ditengah (Saturnus) adalah 3 kali besar yang lurus (penjuru cincin)”. Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki “telinga“. Pada tahun 1612 sudut cincin menghadap tepat ke Bumi dan cincin tersebut akhirnya hilang dan kemudian pada tahun 1613 cincin itu muncul kembali, yang membuat Galileo bingung.

-

Persoalan cincin itu tidak dapat diungkapkan sehingga 1655 oleh Christian Huygens, yang menggunakan teleskop yang lebih kuat daripada teleskop yang digunakan Galileo.

-

Pada tahun 1675 Giovanni Domenico Cassini menentukan bahwa cincin Saturnus sebenarnya terdiri dari berbagai cincin yang lebih kecil dengan ruang antara mereka, bagian terbesar dinamakan Divisi Cassini.

-

Pada tahun 1859, James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cincin tersebut tidak padat, namun terbuat dari partikel-partikel kecil, yang mengorbit Saturnus sendiri-sendiri dan jika tidak cincin itu akan tidak stabil atau terpisah. James Jeeler mempelajari cincin itu menggunakan spektrometer (alat untuk mengukur spektrum cahaya) tahun 1895 yang membuktikan bahwa teori Maxwell ternyata benar.

-

BENTUK FISIK CINCIN SATURNUS

-

Saturnus yang terlihat dari pesawat angkasa Cassini tahun 2007.

-

Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan sederhana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin ini menjulur 6.630 km hingga 120.700 km di atas khatulistiwa Saturnus dan terdiri daripada bebatuan silicon dioksida, oksida besi dan partikel es dan batu. Terdapat 2 teori mengenai asal cincin Saturnus.

-

Teori pertama diajukan oleh Edouard Roche pada abad ke-19, adalah cincin tersebut merupakan bekas bulan Saturnus yang orbitnya ravit cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori ini adalah bulan tersebut pecah akibat hantaman dari komet (Komet adalah benda langit yang mengelilingi matahari dengan garis edar berbentuk lonjong atau parabolis atau atau hiperbolis, komet menampkkan ”ekor”-nya) atau asteroid (Asteroid adalah benda berukuran lebih kecil dari planet, tetapi lebih besar daripada ravityd, umumnya terdapat di bagian dalam Tata Surya, lebih dalam dari orbit planet Neptunus. Asteroid berbeda dengan komet dari penampakan visualnya, komet menampakkan koma /”ekor” sementara asteroid tidak).

-

Teori kedua adalah cincin tersebut bukanlah dari bulan Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal yang membentuk Saturnus. Teori ini tidak diterima pada masa kini disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun baru terbentuk.

-

Sementara ruang terluas di cincin, seperti Divisi Cassini dan Divisi Encke, dapat dilihat dari Bumi, Pesawat ruang angkasa Voyagers mendapati cincin tersebut mempunyai struktur seni yang terdiri dari ribuan bagian kecil dan cincin kecil. Struktur ini dipercayai terbentuk akibat tarikan ravity bulan-bulan Saturnus melalui berbagai cara. Sebagian dihasilkan akibat bulan kecil yang lewat seperti Pan dan banyak lagi bagian yang belum ditemukan, sementara sebagian cincin kecil ditahan oleh medan gravitasi satelit penggembala kecil seperti satelit alami (bulan) Prometheus dan Pandora. Bagian lain terbentuk akibat resonansi antara periode orbit dari partikel di beberapa bagian dan bahwa bulan yang lebih besar yang terletak lebih jauh, pada bulan Mimas terdapat divisi Cassini melalui cara ini, justru lebih berstruktur dalam cincin sebenarnya terdiri dari gelombang berputar yang dihasilkan oleh gangguan gravitas bulan secara berkala.

-

JARI-JARI

-

Jari-jari di cincin Saturnus, difoto oleh pesawat angkasa Voyager 2.

-

Pesawat ruang angkasa Voyager menemukan suatu bentuk seperti ikan pari di cincin Saturnus yang disebut jari-jari. Jari-jari tersebut terlihat saat gelap ketika disinari sinar matahari dan terlihat terang ketika ada dalam sisi yang tidak diterangi sinar matahari. Diperkirakan bahwa jari-jari tersebut adalah debu yang sangat kecil sekali yang naik keatas cincin. Debu itu merotasi dalam waktu yang sama dengan magnetosfer (lapisan medan magnet yang menyelubungi benda angkasa) planet tersebut dan diperkirakan bahwa debu itu memiliki koneksi dengan elektromagnetisme (medan listrik dan medan magnet). Namun, alasan utama mengapa jari-jari itu ada masih tidak diketahui.

-

Pesawat  ruang angksa Cassini menemukan jari-jari tersebut 25 tahun kemudian. Jari-jari tersebut muncul dalam fenomena musiman, menghilang selama titik balik Matahari.

-

BULAN

-

Saturnus memiliki sedikitnya 62 bulan, 48 diantaranya memiliki nama. Banyak bulan Saturnus yang sangat kecil, dimana 33 dari 50 bulan memiliki diameter lebih kecil dari 10 kilometer dan 13 bulan lainnya memiliki diameter lebih kecil dari 50 km. 9 bulan lainnya cukup besar, yaitu Titan, Hyperion, Phope, Rhea, Iapetus, Dione, Tethys, Enceladus, dan Mimas. Titan adalah bulan terbesar, lebih besar dari planet Merkurius dan satu-satunya bulan di atmosfir yang memiliki atmosfir yang tebal.

-

Di Titan, bulan terbesar Saturnus, bulan Desember tahun 2004 dan bulan Januari tahun 2005 banyak foto Titan diambil oleh pesawat ruang angkasa Cassini-Huygens, 1 bagian dari pesawat ruang angkasa (satelit buatan) ini, yaitu Huygens mendarat di Titan.

-

Sumber: Wikipedia Indonesia

-

Source (English version) : English Wikipedia

About these ads