516 TRILIUN DOLLAR AS” KEKUATAN

PERUSAK !!

Paul B. Farrel, analis pasar AS, di situs MarketWatch edisi 25 Februari, memberi peringatan bahwa ada sekitar 516 triliun dollar AS dana-dana investasi yang menjadi kekuatan perusak ekonomi. Persisnya ia menyebutnya sebagai “toxic derivative“, transaksi di sektor keuangan yang menjadi fasilitas investasi untuk mengembang-biakkan dana – dana orang berpunya.

Dana-dana itu begitu besar, dibandingkan dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang hanya 48 triliun dollar AS.

Dana-dana ini yang dikelola oleh para manajer dana investasi, memasuki pasar yang dianggap bisa “dimainkan” untuk meraup untung besar dalam waktu cepat lalu keluar dari pasar setelah untung. Investor-investor yang naif akan menjadi sasaran empuk.

Dana-dana tersebut tidak lagi semata-mata dikelola dalam jenis investasi jangka panjang yang bermain dikisaran saham, obligasi dan valuta asing (dollar AS dan mata uang kuat dunia lainnya) tetapi juga memasuki pasar yang memberi fasilitas investasi mirip perjudian, misalnya memasang taruhan soal naik turunnya indeks saham (bukan lagi terbatas pada naik turunnya saham sebuah perusahaan).

Mengapa dana-dana ini oleh Farrel disebut sebagai “toxic derivatives” (terkadang berbagai kantor berita menyebutnya “bloodied investors”)? Disebut demikian karena dana-dana ini bisa menaikkan dan menurunkan harga saham yang menyebabkan kerugian besar bagi pihak lain yang bahkan disebut sebagai kerugian yang berdarah-darah karena magnitude-nya begitu luar biasa !

Bahkan, investor yang disebut bloodied itu juga bisa mandi darah, artinya bisa rugi besar dan bangkrut seperti yang dialami Long Term Capital Management (AS) pada dekade 1990-an !

Jika masih bisa bergerak, boodied investor ini makin mengamuk dan menggasak seperti “banteng mengamuk” (raging bull). Buktinya sudah banyak, bank sekaliber UBS (Swiss) pun sudah berdarah-darah dengan kerugian sekitar 12 miliar dollar AS ! Setidaknya sudah ada kerugian 100 miliar dollar AS yang dialami lembaga keuangan internasional.

Konsumen dikorbankan

Permainan belum berakhir dan gejolak belum akan berhenti. Kini taruhannya bukan lagi semata-mata para investor termakan investor (investor saling memakan). Para investor kini memasuki komoditas, yang permainannya sudah disediakan pula di bursa, seperti bursa logam London, bursa komoditas China dan belahan dunia lainnya !!

“Komoditas kini jadi “safe haven” bagi para investor,” kata Farrel. Investor ingin mengamankan investasinya dari kemerosotan dollar AS, kemerosotan harga saham dan obbligasi dengan memburu komoditas ! Akibatnya harga-harga komoditas meningkat tajam.

Bukti konsumen dikorbankan sudah ada. Harga minyak dan gas terus meroket. Harga gandum sudah mencapai rekor, demikian pula kedelai atau tanaman biji-bijian. Demikian pula dengan harga emas telah mancapai rekor baru!

Konsumen di Indonesia pun sudah menjadi korban berupa kenaikan harga-harga pangan termasuk tempe yang terbuat dari kedelai dan tentu saja juga kenaikan harga BBM.

Bagaimana menghentikan semua ini ? Harus ada regulasi pasar untuk membatasi kegiatan aksi-aksi tersebut !! Menurut guru investor obligasi dunia asal AS, Bill Gross, ini semua akibat leluasanya para manajer dana investasi melakukan aktivitasnya. Regulasi pasar tidak ada sehingga tak membatasi aksi-aksi mereka yang terbukti sudah melahirkan gejolak besar !!!

(Dicuplik dan disarikan dari : KOMPAS, 29 Februari 2008)

Iklan