Renungan Idul Fitri : “Pencarian Sebuah Makna”

Oleh : Achmad Syafii Maarif

Saat ini bagi penduduk Indonesia, Islam relatif menjadi agama yang dominan, setidak-tidaknya secara kuantitatifdari segi pemeluknya. Adapun masalah kualitas manusianya memang masih jauh tertinggal, baik pada sisi ilmumaupun pada sisi moral.

Jika dikaitkan dengan fenomena Idul Fitri yang berarti kembali pada kesucian atau kembali berbuka, pertanyaan yang mendesak adalah mengapa kultur bangsa mayoritas Muslim ini belum juga bergerak ke arah kesucian dalam upaya pencarian sebuah makna yang autentik ?

Ada2 kemungkinan jawabannya. Pertama, umat Islam boleh jadi lebih terpaku dan terpukau oleh dahsyatnya suasana perayaan, tetapi melupakan filosofi yang mendasari Idul Fitri itu, berupa membangun kultur kesucian setelah satu bulan menjalani puasa yang sarat dengan perintah disiplin itu. Ungkapan Al Quran dalam surat al-Baqarah; 183, tentang tujuan berpuasa yang berbunyi “la’allakum tattaqun” (semoga kamu berhasil meraih posisi takwa), ternyata bukan perkara mudah.

Konsep takwa kepada Allah tak dapat diterjemahkan dengan sikap takut kepada Tuhan, tetapi mengandung pengertian menjaga diri dari kehancuran totalmoral agar tidak dimurkai Allah dengan tetap konsisten dalam perilaku lurus dan jujur. Puasa Ramadhan adalah satu bentuk latihan disiplin mental dan fisik selama sebulan penuh menuju posisi ideal itu.

Kedua, aspekaketismeRamadhan hampir tidak pernah diwacanakan secara luas dan terus-menerus dalam berbagai forum saat membedah filosofi puasa, khususnya ketika sebagian anak bangsa ini masih dililit gurita kemiskinan. Akibatnya, tidak jarang suasana Idul Fitri dirayakan secara berlebihan dan penuh kemewahan oleh mereka yang beruntung. Bagi mereka yang terdampar, berebut zakat atau zakat fitrah di hari raya adalah kenyataan yang masih “setia” dengan masyarakat kita.

Memang tidak keliru melihat keterkaitan perasaan lapar dan dahaga selama puasa dengan sikap kepedulian sosial terhadap mereka yang terlantar, tetapi harus lebih jauh dari itu, yaitu dengan berpuasa orang akan terbebas dari kerakusan, baik terhadap benda maupun terhadap kekuasaan. Mahatma Gandhi pernah berkata : “Dunia cukup untuk menghidupi setiap orang, tetapi tak cukup untuk melayani si rakus.”

Dengan menghidupkan kultur asketisme Ramadhan ini diharapkan kerakusan akan dapat dihalau sehingga masyarakat secara keseluruhan, khususnya kaum elit, akan menghayati benar makna ungkapan “la’allakum tattaqun”, karena Allah adalah musuh sejati bagi manusia rakus yang biasa bergelimang dalam kemewahan dan kedangkalan.

Akhirnya kita berharap agar Idul Fitri tahun ini, disamping dirayakan secara massif yang memang tidak ada duanya saban tahun, akan dapat menyadarkan kita semua agar secara bertahap mau menyelami hakekat puasa dan Idul Fitri sehingga buah yang didapat adalah kemenangan autentik, bukan capaian spiritual yang dangkal dan tanpa makna. Semoga bangsa Indonesia akan bergerak menuju kepribadian yang tangguh bermartabat sebagai  hasil dari pencarian sebuah makna spiritual yang terdalam. (Sumber: dicuplik dan diedit dari artikel berjudul “Pencarian Sebuah Makna” oleh Achmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah – HarianKompas, 30-9-2008).

Iklan