DAKWAAN “ANTASARI LAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL” APAKAH JUGA REKAYASA ?

as 1

Saksi yang juga menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Mantan Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Williardi Wizard, dalam sidang dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jl. Ampera, Jakarta, Selasa (10/11/2009), menyatakan dengan tegas bahwa kasus Antasari merupakan rekayasa ! Pengakuan Williardi yang dilontarkannya secara spontan dari hati nuraninya ini, sangat mengejutkan dan menggemparkan puluhan juta bahkan mungkin ratusan juta rakyat Indonesia !

Kini timbul pertanyaan besar: “Apakah kesaksian Rani Juliani (isteri siri almarhum Nasrudin Zulkarnaen) bahwa Antasari melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya, juga merupakan Rekayasa ?”

Mari kita simak kembali kronologi dakwaan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sirrus Sinaga, pada sidang perdana mantan ketua KPK, Antasari Azhar tersangka kasus pembunuhan terhadap Direktur PT.Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nazrudin Zulkarnaen, yang berlangsung pada hari Kamis, 8 Oktober 2009. Persidangan perdana ini disiarkan langsung oleh beberapa TV Swasta.

as 2

Diungkapkan dalam dakwaan tersebut Antasari bertemu dengan Rani di kamar 803, Hotel Grand Mahakam, Jakarta.

Di hotel tersebut Rani membicarakan masalah keanggotaan Antasari di Modern Golf Tangerang. Saat pulang Antasari memberi 300 dollar AS kepada Rani. Lalu Antasari memeluk Rani dan mengajaknya bersetubuh, tapi ditolak dengan jawaban ”Lain kali saja pak.” Selanjutnya Antasari mencium pipi kiri dan pipi kanan Rani. Pertemuan tersebut diceritakan Rani kepada Nasrudin.

Merasa punya kepentingan, Nasrudin meminta Rani menemui lagi Antasari dan berharap Rani bisa menjadi penghubung Antasari dalam usaha Nasrudin untuk menjadi direktur BUMN.

Antasari bersedia bertemu di hotel tersebut. Dengan menggunakan taxi, Rani dan Nasrudin menuju ke hotel tersebut. Korban (Nasrudin) diminta oleh Rani untuk mengaktifkan ponsel (telepon seluler) supaya bisa mendengar pembicaraan.

Rani masuk ke kamar 803 dan Antasari mempersilakannya duduk di atas sofa. Rani kembali menawarkan Antasari untuk menjadi anggota di Modern Golf Tangerang. Rhani juga membicarakan soal kemungkinan Nasrudin untuk menjadi direktur BUMN.

Di tengah pembicaraan itu Antasari meminta Rani untuk memijat punggungnya. Saat dipijat, terdakwa membalikkan tubuh lalu mencium Rani pada bagian pipi, bibir, membuka kancing baju, dan menurunkan bra sebelah kiri sambil berkata: ”Katanya pertemuan selanjutnya kamu mau ?” Demikian diungkapkan dalam pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Ajakan tersebut kembali ditolak Rani, karena takut terdengar korban (Nasrudin). Rhani lalu mematikan ponsel. Meskipun ditolak terdakwa masih terus menjamah tubuh Rani dan meminta Rani melakukan “handjob” (memegang alat vital terdakwa sampai ejakulasi). Sebelum pulang Antasari memberikan Rani uang sebesar 500 dollar AS.

Saat Rani keluar kamar, Nasrudin masuk dengan marah dan menampar pipi Rhani. Nasrudin berkata: ”Mengapa bapak bertemu dengan istri saya di sini dan apa yang bapak lakukan terhadap istri saya ? Saat ini saya bisa memanggil wartawan dan menghancurkan karir bapak.”

Antasari menjawab: ”Jangan pak. Saya masih ingin memperbaiki negara.” Terdakwa (Antasari) lalu merangkul Nasrudin dan mengajak bicara di sudut kamar hotel. Antasari menenangkan Nasrudin dan berkata:”Kita saudara, ya sudah nanti kita satu tim.” Setelah tenang terdakwa (Antasari)  mengajak Rani pulang.

Keesokan harinya Nasrudin meminta Rani untuk menceritakan apa yang dilakukan Antasari terhadapnya di kamar 803 hotel tersebut. Setelah Nasrudin mengetahui hal tersebut, ia kemudian menemui Antasari di kantornya sebanyak 5 kali.

Dalam pertemuan sebayak 5 kali tersebut diungkapkan bahwa Nasrudin meminta bantuan kepada Antasari dalam beberapa hal yang antara lain adalah sebagai berikut: Pertama, meminta bantuan untuk pelantikannya sebagai direktur PT.Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Nasrudin juga memberi informasi tentang korupsi yang terjadi di PT. RNI. Ke dua, meminta Antasari agar melakukan intervensi kepada pihak ke 3 agar memberi proyek kepadanya. Ke tiga, meminta bantuan menghubungi PT.Aneka Tambang (Antam) supaya mempercepat konfirmasi tindak lanjut proses perizinan PT. Ronggolawe.

Bulan Desember 2008, Antasari menerima SMS yang isinya bertuliskan: “Ternyata waktu bapak berjumpa dengan istri saya di Hotel Grand Mahakam, ternyata melakukan pelecehan sexual.”

Antasari menjawab:”Astaghfirullah . . . Pak, janganlah sekejam itu menuduh saya.” Dia kemudian meminta Nasrudin datang ke kantornya. Pada kesempatan itu Nasrudin kembali menanyakan proses perizinan PT.Ronggolawe, tapi tidak ditanggapi. Selanjutnya Nasrudin mengancam Antasari untuk mempublikasikan perbuatannya terhadap istrinya di kamar 803 Hotel Grand Mahakam. Antasari juga diancam akan diadukan ke DPR.

Setelah peristiwa tersebut selanjutnya Jaksa Penuntut Umum (Sirrus Sinaga) mendakwa Antasari melakukan pembujukan secara bersama-sama dengan Sigit Haryo Wibisono dan Williardi Wizard untuk melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa Nasrudin.

REAKSI BEBERAPA PIHAK

Reaksi Antasari :

Sejak awal dakwaan tersebut, Antasari bereaksi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika majelis hakim menanyakan apakah ia mengerti dengan dakwaan tersebut, ia menjawab: ”Sangat tidak mengerti. Siapa yang membujuk dan siapa yang dibujuk ?” tanya Antasari.

Reaksi Pengacara Antasari :

Mendengar tanggapan Atasari, mejelis hakim meminta JPU memberi penjelasan. Jaksa menjelaskan dengan mengatakan bahwa, dakwaan terhadap Antasari adalah perbuatan melakukan pembujukan secara bersama-sama dengan Sigit Haryo Wibisono dan Williardi Wizard untuk melakukan pembunuhan (menghilangkan nyawa) Nasrudin. Orang yang dibujuk terdakwa adalah Eduardus Ndopo Mbete alias Edo.

Pihak pengacara Antasari langsung bersorak setelah mendengar penjelasan jaksa, karena selama pembacaan dakwaan tidak disebutkan Antasari membujuk Edo melainkan Williardi Wizard.

Reaksi PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) :

Pihak PWI menilai dakwaan terhadap Antasari terlalu vulgar untuk disiarkan secara langsung oleh media TV, namun ketua dewan penasehat PWI, Tarman Azzam tidak bisa menyalahkan pihak pers sepenuhnya. Dia menyarankan agar hakim menentukan apakah sidang itu layak disiarkan secara langsung atau tidak. Tapi itu pun sulit untuk dilakukan hakim, karena itu harus ada mekanisme tentang perlu tidaknya siaran langsung. (Bahan dicuplik dan diedit dari sumber: Politikana dan sumber lainnya).

BAGAIMANA REAKSI (TANGGAPAN) ANDA SENDIRI ???

(Silahkan tulis komentar anda)

as 3

as 4

as 5

as 5a


as 6

as 7

as


as 8

as 9

Antasari mencium isterinya, Ida Kasmiwati.


RANI JULIANI

as 10Foto pernikahan Rani Juliani dengan Nasrudin Zulkarnaen.

as 11

a12

a12a

as 12

as 13

SIAPAKAH RANI JULIANI ? SILAHKAN BACA (KLIK) SITUS :

IwanDahnial.wordpress

Iklan