INDONESIA BERSAMA CHINA, INDIA, DAN BRAZIL, PENGGERAK PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA

Kalau kita berbicara ekonomi global saat ini, maka kita akan melihat 2 cerita berbeda. di satu sini, ada kegelapan dan pesimisme, di sisi lain, masih ada cahaya dan harapan. Jika kita melihat lokasi-lokasi yang dulunya menjadi pusat kemakmuran dan kekayaan ekonomi berkuasa, Amerika, Eropa dan Jepang, kita akan sangat susah sekali untuk mendapatkan berita-berita baik pada saat sekarang ini.

Tapi masih ada harapan di dunia yang baru ini,  yakni peranan China, India, Indonesia, dan Brazil dimana pertumbuhan ekonomi negara-negara ini meningkat terus dan berlanjut, pemerintahnya yang tidak dibebani oleh hutang-hutang dan juga warga negaranya optimis dan percaya diri akan nasib bangsa mereka. Perbedaan antara yang dulunya kaya dengan yang miskin mungkin akan berganti di dalam sejarah.

Selama 6 bulan ini, banyak aturan-aturan ekonomi konvensional yang sudah diakui secara Internasional, menjadi terdiskreditkan (menurun wibawanya) melihat fenomena yang terjadi. Ahli-ahli yang dulunya dengan percaya diri berkata bahwa pertumbuhan ekonomi global tidak akan berhenti – atau sering disebut “The Boomster” sekarang terpaksa tutup mulut melihat kondisi ekonomi yang ada. Tapi lawan mereka pun “The Doomster juga menunjukkan sikap yang sama, mencoba untuk menolak kenyataan yang ada karena takut kondisi ekonomi yang sudah buruk ini akan makin parah. 6 bulan yang lalu, bursa efek di seluruh dunia secara serentak kolaps ketika kondisi finansial Amerika Serikat tiba-tiba saja mengalami keruntuhan ekonomi.

Kondisi ini akhirnya membuat banyak orang menyimpulkan bahwa kebangkitan ekonomi Asia dan Amerika Latin, yang sedang tumbuh, akan mengalami penurunan dan kejatuhan lebih parah dan lebih cepat daripada negara-negara Barat. Mereka berasumsi bahwa kebangkitan ekonomi tersebut semata-mata tergantung pada ekspor mereka ke Amerika Serikat dan Eropa. Bahwa sebenarnya mereka tidak mampu berdikari secara ekonomi kecuali bergantung kepada Amerika Serikat dan Eropa. Inilah yang disebut sebagai negara dunia ketiga.

Tapi hal yang lucu terjadi dalam depresi ekonomi global kali ini, ketika kepanikan global terjadi dalam bursa-bursa efek dunia, tetap ada sebuah kesembuhan ekonomi yang cukup luar biasa dan cukup berbeda di masing-masing negara. The S&P 500 sangat susah bergerak tahun ini, karena the London FTSE. Bursa efek Jepang lebih baik, kira-kira meningkat 7%.


Di seluruh dunia, walaupun begitu, ekonomi masih tetap berjalan. China’Shanghai Index meningkat hingga 45 %, India’Sensex meningkat 44 %, Brazil’s Bovespa meningkat 38 persen dan Indonesia index meningkat 32%. Bursa Efek memang tidak bisa menunjukkan apakah sebuah negara meningkat ekonominya atau tidak, tapi sepertinya secara ekonomi, ke 4 negara tersebut (China, India, Indonesia, dan Brazil) mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan tahun 2009 ini.

Pertimbangannya adalah, pada bulan April 2009, penjualan mobil buatan India meningkat 4,2% pada tahun 2009 ini, penjualan bisnis retail di China meningkat 15 % pada kuarter pertama tahun 2009. China diharapkan akan tumbuh sekitar 7 sampai 8 % tahun 2009 ini, India 6 % dan Indonesia 4%. Angka-angka tersebut tidak hanya luar biasa tetapi juga menakjubkan untuk sebuah negara berkembang. Ekonomi Amerika Serikat mencatat pertumbuhan ekonomi per tahun 6,1 %, Eropa 9,6% dan Jepang 15%, sesuatu hal yang sebenarnya memicu peperangan pada tahun 1930.

Sekarang kita bandingkan ke 2 dunia ini. Di satu sisi adalah Barat (plus Jepang), yang kondisi bank-banknya yang tidak terkontrol dan akhirnya menjadi tidak berfungsi, pemerintah yang menjerit mengatasi hutang-hutang negara, dan juga konsumen yang masih membangun kembali neraca belanja mereka yang bangkrut. Amerika Serikat kesulitan untuk menjual IOUs nya pada harga yang menarik (lelang Treasury yang ketiga sebelumnya kelihatannya berjalan dengan buruk sekali); Negara bagian terbesar di AS, California, kolaps akibat fiskal, dan defisit APBN Amerika Serikat sepertinya kan menyentuh angka 13 % dari GDP, sebuah angka yang hanya pernah terjadi ketika Perang Dunia ke II, dengan semua beban dan masalah yang dimiliki AS sepertinya tidak mungkin untuk kembali sembuh dengan cepat selama beberapa waktu ini dan ekonominya kemungkinan akan lebih rentan dan dinamis dibanding Eropa dan Jepang.

Sementara, India, bank-banknya yang bangkit secara ekonomi, secara umum sehat dan menghasilkan (semua bank besar India, swasta atau milik pemerintah, menghasilkan untung di kuartal keempat tahun 2008). Pemerintah India berada dalam kondisi fiskal yang baik. Kekuatan ekonomi China sudah lama diketahui US$2 trilyun, dan defisit APBN kurang dari 3 % dari GDP. Brazil mencatat surplus perdagangan baru-baru ini. Indonesia sudah mengurangi rasio hutangnya dari 100% GDP 9 tahun lalu menjadi 30% tahun 2009 ini. Tidak seperti negara-negara Barat yang mengeluarkan amunisi ekonomi dan berharap agar usaha mereka berhasil, negara-negara berkembang ini mempunyai banyak pilihan. Brazil sudah memotong tingkat suku bunganya secara signifikan menjadi 10,25 persen, dan bisa turun menjadi lebih rendah jika hal ini teryata berhasil meningkat ekonomi mereka.


Kondisi ekonomi di China, India, Indonesia dan Brazil memang naik turun. Mata uang mereka terapresiasi lebih meningkat dibanding dollar karena pasar melihat, lebih menjanjikan secara fiskalnya dan prospek pertumbuhan ekonomi mereka yang lebih baik dari Amerika Serikat. Ikatan dan kerja sama ekonomi diantara mereka meningkat. Kombinasi dari semua indikator positif ini tidak bisa kita prediksikan.

Amerika Serikat memang masih menjadi negara terkuat dan terkaya di bumi ini. Militer AS masih berkuasa di dunia. Tapi jika kita belajar dari sejarah kerajaan Spanyol yang berkuasa di abad ke 16, kita bisa melihat bahwa, mereka yang awalnya memiliki kekuasaan di dunia ini, mulai turun pamornya ketika mereka dibebani hutang luar biasa dan tersandung karena pertumbuhan ekonominya yang melambat. Ini adalah peringatan awal, jika Amerika Serikat tidak berusaha mengatasi hal ini dengan cepat dan bersama-sama.

Mungkin saja negara-negara yang disebut di atas (China, India, Indonesia, dan Brazil) akan mampu mengalahkan Amerika Serikat. (Oleh: Fareed Zakaria, Editor Newsweek International dan co-host dari PostGlobal).

(Sumber: Berita Baik Dari Indonesia dan Washington Post)