PENGKULTUSAN MAKAM GUS DUR

SURABAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim menghimbau kepada ribuan pengunjung makam KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) agar tidak terjebak kepada hal  yang mendekati “syirik”.

Himbauan ini dikeluarkan MUI lantaran sudah ada sejumlah pengunjung yang mengambil tanah kuburan dan bunga di atas pusara serta mencium nisan. Gus Dur adalah tokoh Islam dan bangsa tetapi tetap manusia biasa, jangan sampai berlebihan mengaguminya sehingga bisa menjerumuskan kita ke hal yang syirik,” pesan Ketua MUI Jatim, KH Abdushomad Buchori, Ahad 1 Januari 2010.

Dijelaskan Abdushomad, Gus Dur bahkan diakui MUI sebagai tokoh Islam berkaliber dunia yang patut ditiru dan dibanggakan bagi bangsa Indonesia. Hanya saja MUI mulai menghawatirkan sejumlah peziarah yang mulai bertingkah aneh sehingga akan timbul pengkultusan makam Gus Dur. (Sumber: Republika).


SYAIR YANG PERNAH DIBACAKAN OLEH GUS DUR

“WAHAI TUHANKU, AKU BUKANLAH ORANG YANG PANTAS MASUK SURGA. TETAPI AKU JUGA TIDAK KUAT DENGAN API NERAKA. KARENA ITU BERIKAN PADAKU KEMAMPUAN BERTOBAT DAN AMPUNI DOSAKU. KARENA HANYA ENGKAULAH YANG DAPAT MEMBERIKAN MAAF ATAS DOSA YANG BESAR

PANDANGAN ORANG-ORANG

TERHADAP SOSOK GUS DUR


Gus Dur, oleh berbagai kalangan dengan sudut pandang masing-masing, merupakan sosok multiperspektif. Menurut Jaya Suprana, Gus Dur yang humoris itu hanya permukaannya saja, hatinya humanis. Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) Gus Dur kerap dianggap sebagai seorang wali. Bagi yang berseberangan pandangan, Gus Dur hanyalah sosok yang menyebalkan.

Bagi yang dekat dan rasional, Gus Dur itu manusia biasa yang mempunyai sisi makro dan mikro. Gus Dur makro hadir dengan ikon dan tema-tema besar, seperti humanisme, pluralisme, demokrasi, dan universalisme. Sementara itu, Gus Dur mikro kontradiktif dengan tema-tema besar tersebut sehingga memunculkan penilaian bahwa Gus Dur otoriter” dan tidak konsisten alias ”semau gue.

Akan tetapi, Gus Dur tetaplah orang besar. Gus Dur pernah menjadi presiden. Gus Dur telah memperoleh momentum politik yang tepat pasca-Pemilu 1999 ketika proses politik di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bermuara pada munculnya sosok ”juru penengah” yang diyakini mampu merangkul semua pihak. (Bahan dicuplik sebagian dari: Kompas.com).