MERIAM SI JAGUR

Meriam Si Jagur, benda bersejarah seberat 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter itu dipajang di halaman depan Museum Sejarah Jakarta, jalan Fatahillah Jakarta Kota. Letaknya persis di depan Kantor Pos Jakarta Kota.

Konon, awalnya meriam si Jagur adalah meriam milik Portugis yang dibuat di Macao yang sangat di andalkan oleh bangsa Portugis untuk mempertahankan benteng mereka di Malaka dari serangan musuh. Kemudian setelah jatuhnya Malaka ke tangan VOC Belanda pada tahun 1641, meriam ini di boyong oleh VOC ke Batavia (sekarang Jakarta).

Sejak itu, tidak pernah ada kabar apakah meriam masih dipakai atau hanya disimpan saja. Belanda sendiri kabarnya tidak pernah menggunakannya sebagai senjata setelah menang pertempuran itu.

Di Batavia, Si Jagur berkali-kali pindah tempat. Awalnya, Si Jagur diletakkan di Jembatan Gantung Kota Intan, di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Barat. Jembatan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1628 dan kini oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dijadikan benda cagar budaya yang dilindungi.

Dari Jembatan Kota Intan, Si Jagur lalu dipindahkan ke Museum Nasional. Pada tahun 1968, meriam perunggu itu dipindahkan lagi ke Museum Wayang. Pada tahun 1974, meriam dipindah ke Taman Fatahillah, di depan Museum Sejarah Jakarta. Kemudian pada tahun 2002 Si Jagur dipindah masuk ke dalam halaman depan Museum Sejarah Jakarta.

Menurut sejarah Meriam Si Jagur dihasilkan dari leburan 16 meriam kecil yang terbuat dari logam perunggu. Yang unik dari meriam ini adalah bentuk bagian belakangnya, yakni berupa tangan mengepal dengan ibu jari dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah, sehingga memberi kesan porno.

Pada punggungnya  tertulisEX ME IPSA RENATA SUM yang artinya : “Dari diriku sendiri, aku dilahirkan lagi(Sumber: Mail-archive).


Iklan