KOPI LUWAK PROBIOTIK, TEMUAN PENELITI BALI

Kopi luwak adalah biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak (musang). Biji kopi ini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran kopi ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru terkenal luas di kalangan penggemar kopi,  setelah kopi luwak dipublikasikan pada tahun 1980-an.

Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai 100 dollar  AS (hampir Rp 1 juta) per 450 gram. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal.

KOPI LUWAK PROBIOTIK

Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Suprio Guntoro, menemukan kopi luwak probiotik. Penemuan ini, selain akan membuat produksi bubuk kopi luwak menjadi tidak terbatas, juga akan melindungi populasi binatang luwak (di alam bebas).

Pada proses produksi kopi luwak alami, bubuk kopi diperoleh dari biji kopi yang didapat dari hasil proses pencernaan binatang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang memakan buah kopi, kemudian digiling setelah biji kopi luwak tersebut dijemur dan disangrai.

Adapun kopi luwak probiotik temuan Guntoro, biji kopi dihasilkan dari buah kopi matang yang dipetik, lalu difermentasi secara khusus dengan mikroba probiotik yang berasal dari usus halus dan usus buntu binatang luwak.

Kopi luwak probiotik dihasilkan dengan mengadopsi proses pencernaan binatang luwak. Mikroba probiotik yang diperoleh dari isolasi mikroba di usus halus dan usus buntu luwak, kami pastikan tidak bersifat patogen atau menimbulkan penyakit,” kata Guntoro, Selasa (11 Mei 2010) di Denpasar.

Probiotik

Dengan mikroba probiotik, kopi luwak dapat diproduksi berdasarkan kebutuhan dan tidak terbatas pada jumlah luwak ataupun kemampuan konsumsi luwak. Bubuk kopi luwak berharga relatif mahal, yakni Rp 1 juta – Rp 1,5 juta per kilogram. Kopi luwak juga menjadi andalan ekspor kopi bagi Indonesia. ”Produksi kopi luwak probiotik bisa melindungi populasi binatang luwak (di alam bebas). Karena besarnya permintaan kopi luwak, maka umumnya kopi luwak itu dihasilkan dengan cara menernakkan luwak,” kata Guntoro.

Menurut Guntoro, dari segi rasa, kopi luwak probiotik hampir sama dengan kopi luwak yang dihasilkan secara alami. Bahkan, Guntoro mengutip pengakuan para penikmat kopi, cita rasa kopi luwak probiotik lebih lembut, tetapi aroma kopinya lebih kuat.

Guntoro mengaku, penelitian atas kopi luwak dilakukan secara swadaya sejak 3 tahun silam. Kini penemuan itu dalam proses pematenan dan didaftarkan melalui Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian di Bogor di bawah koordinasi Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Bersamaan dengan proses itu, dilakukan pengujian atas data ilmiah penelitian Guntoro oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember, Jawa Timur. (Sumber: Kompas.com).

Biji kopi luwak asli.

Produk bubuk kopi luwak yang dijual di Amerika.

Produk bubuk kopi luwak dari Semarang.

Iklan