GUNUNG MERAPI BERGOLAK, APA KOMENTAR MBAH MARIDJAN ?

JURU kunci Gunung Merapi, R. Ng. Surakso Hargo alias Mbah Marijan (83 tahun) enggan berbicara panjang lebar terkait kondisi Gunung Merapi yang sejak bulan Oktober 2010 mulai bergolak dan menyerahkan sepenuhnya kepada yang berwenang. Bahkan, Mbah Marijan juga mempersilahkan jika pemerintah hendak mengevakuasi warga ke pengungsian.

Di bawah ini, jawaban mbah Marijan atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya sekitar gunung Merapi yang kini sedang batuk-batuk” dan dikhawatirkan bakal meletus sangat dasyat, sebagai berikut :

Bagaimana sikap Mbah Marijan dengan kondisi Gunung Merapi saat ini, terutama soal status waspada Merapi ?

Jika bertanya soal Merapi dengan saya salah. Mestinya dengan BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian), sebab yang membuat status waspada Merapi itu BPPTK, bukan saya. Soal kondisi Merapi silahkah tanya BPPTK. (Menawai taken bab merapi kalih kulo, salah, mestini pun kalih BPPTK. Sebab sing ndamel status waspada merapi BPPTK niku, mboten kulo. Soal kondisi Merapi, monggo tanglet BPPTK mawon).

Pendapat Mbah Marijan soal intensitas aktivitas Merapi ?

Memang benar, saat ini Merapi sedang bernapas. Merapi sekarang sedang menghela nafas dan di musim hujan nafasnya lebih besar. Semoga saja tidak batuk. Sebab asapnya gunung (Merapi), berbeda dengan nafasnya manusia. (Pancen leres Merapi sak meniko nembe mbangun. Merapi sak meniko nembe ambegan, lan ning musim udan niki ambegane luwih gedhe. Mugowaeora watuk, Sebab kebule gunung (merapi), bedo karo kebule menungso).

Imbauan Mbah Marijan kepada masyarakat terkait dengan situasi Merapi sekarang ini ?

Masalah Merapi saya tidak berani mendahului yang Kuasa. Sebab itu sudah ada yang mengaturnya. Meskipun begitu saya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Termasuk jika ada perintah siap dari pemerintah, masyarakat juga harus mematuhinya. Apalagi saya juga tidak mempunyai kuasa untuk prediksi soal Merapi. (Masalah Merapi kulo mboten wantun ndisiki sing Kuasa, sebab niku sampun wonten ingkang ngatur. Saenggo kulo nyuwun para warga tenang mawon lan mboten sah panik. Lan menawi disuwun siap, nggih nurut siap. Nopo melih kulo mboten ngadahi kuasa kagem betek Merapi).

Menanggapi soal banjir lahar dingin yang mengakibatkan sebuah truk di Gendol tertimbun ?

Banjir lahar dingin itu, hal biasa saat musim hujan. Dan arahnya menuju ke jurang. Sehingga lahar dingin ini tidak ada hubungannya dengan Merapi. Jika ada kendaraan yang tertimbun, itu salahnya sendiri mengapa sudah tahu tempat itu berbahaya kok tetap nekat. (Lahar dingin niku biasa ning wayah udan niki. Lan arahipun dateng ngowongan. Dadi mboten wonten hubunganipun kaleh Merapi. Menawi wonten kendaraan ingkang tertibun, niku salahe dewe,nopo pun ngerti ngen niku wingit kok teng mriku).

Ada pesan lagi kepada masyarakat terkait dengan aktivitas Merapi ini, khususnya kepada para pendaki Merapi ?

Saya tidak ada pesan. Namun baiknya sekarang jangan naik dulu ke puncak kawah Merapi. Berbahaya. Apalagi, sekarang kondisi puncak kawah sudah tidak datar lagi, tapi sudah runcing-runcing. (Kulo mboten wonten pesen. Nanggin saenipun sakmeniki sampun minggah rumiyen dateng puncak kawah Merapi. Bebayani. Nopo melih sak meniko kondisipun puncak kawah pun mboten datar melih,nanggin sampun runcing- runcing). (Sumber: MSN.com).

GUNUNG MERAPI BERGOLAK, PIHAK ISTANA TEMUI MBAH MARIDJAN


Gunung Merapi dan Mbah Maridjan seperti sudah menjadi satu kesatuan mistis. Maka ketika gunung itu mulai bergolak, si kuncen (juru kunci)-lah yang pantas menjadi rujukan.

Karena hubungan itulah, ketika Merapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus, pemerintah pusat langsung mencoba menemui Mbah Maridjan. “Terkait bencana, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, kearifan lokal juga penting. Semuanya harus kita lakukan untuk meminimalisir korban,” ujar Staf Khusus Presiden untuk Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, via telepon, Jumat (22/10/2010).

Andi mengutus dua stafnya menyambangi tokoh berusia 83 tahun itu untuk meminta pendapatnya tentang kondisi Merapi. Kuncen bernama asli Mas Penewu Suraksohargo itu, kata Andi, menyatakan belum ada tanda-tanda Merapi bakal meletus.

Menurut Andi, rencana bertamu ke Mbah Maridjan, yang diangkat menjadi kuncen oleh Sultan Hamengku Buwono IX, itu telah dilaporkan sebelumnya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden meminta Mbah Maridjan mengutamakan keselamatan masyarakat.

“Kita tidak mau kejadian tahun 2006 terulang, saat tim ahli ribut dengan Mbah Maridjan, lalu ternyata ada gempa. Kita padukan ilmu dan sixth sense Mbah Maridjan,” katanya.

Gunung Merapi yang tingginya mencapai 2.968 meter di atas permukaan laut itu telah 68 kali meletus sejak tahun 1548. Letusan terakhir terjadi pada tahun 2006. Saat itu, Mbah Maridjan menjadi terkenal karena terkesan melawan imbauan pemerintah untuk mengungsi, melainkan bertahan di Kinah Rejo. ”Perlawanan” itu membuat nama Mbah Maridjan tenar dan puncaknya ia menjadi bintang iklan sebuah produk minuman berenergi.

Berdasarkan data yang terekam di BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) pada Kamis (21/10/2100), tercatat sebanyak 93 kali guguran, 321 gempa multifase, 7 kali gempa vulkanik dalam, 37 gempa vulkanik dangkal serta 1 kali gempa low frekuensi.

Menurut Subandrio, Kepala BPPTK Jogjakarta, jarak luncuran guguran material Merapi adalah sekitar 1,5 kilometer dengan volume yang membesar dibanding hari-hari sebelumnya. Guguran itu mengarah ke Kali Gendol di sisi selatan dan Kali Krasak di sisi barat daya.

Ia mengatakan, kecenderungan guguran Merapi akan semakin meningkat untuk kemudian terbentuk kubah lava baru sebelum muncul erupsi (letusan). “Jika kondisinya seperti itu, maka Merapi akan meletus sesuai dengan karakteristik normalnya, tetapi jika prosesnya berbeda dan ada akumulasi gas, maka jenis letusannya pun akan berbeda,” katanya.

Ia mengatakan, selama status Merapi masih tetap siaga, maka masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III belum perlu diungsikan. Masyarakat yang tinggal dengan radius 7 kilometer dari puncak Merapi wajib mengungsi apabila statusnya menjadi Awas atau saat muncul awan panas.

Di KRB III tersebut terdapat sekitar 40.000 jiwa yang tersebar di beberapa kabupaten di sekitar Merapi. “Kami juga akan mengantisipasi jika gempa multifase meningkat. Itu berarti kubah lava diperkirakan akan segera muncul,” katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kubah lava akan mulai muncul apabila gempa multifase mencapai sekitar 500 kali per hari. Selain itu, apabila gempa vulkanik terjadi secara berturut-turut dengan kekuatan sekitar 3 Skala Richter (SR) yang dapat dirasakan di jarak 4 hingga 5 kilometer dari puncak, maka dapat diartikan bahwa fluida magma semakin terdorong ke permukaan.

Sementara itu, Kepala Pusat Vulkonologi Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, menegaskan: “Jika melihat perubahan yang terjadi sejak September 2010 hingga saat ini, diperkirakan Gunung Merapi sudah mencapai kondisi point of no return, artinya tak akan kembali lagi ke keadaan semula,” katanya saat sosialisasi di Balai Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat, 2010.

Ia mengatakan, gempa-gempa yang terjadi di Merapi saat ini lebih besar daripada yang terjadi pada 2006. “Saat ini aktivitas Gunung Merapi sudah meningkat lebih dari 500 persen,” ujarnya mengungkapkan.

Surono menjelaskan, pada 20 Oktober 2010 atau sehari sebelum gunung ini dinaikkan statusnya menjadi siaga, tercatat telah terjadi 479 kali kejadian gempa ‘multiphase’, gempa vulkanik dalam dan dangkal total 39 kejadian dan terjadinya guguran 29 kali.

Ciri-ciri lainnya yakni kandungan air dan gas Merapi sudah sangat berkurang, artinya kondisinya sudah panas sekali. Suhu terakhir yang kita catat di kawasan Woro pada 20 Oktober 2010 mencapai 587 derajat Celcius,” katanya. (Sumber: Surya).

MBAH MARIDJAN

Ia seorang juru kunci atau kuncen Gunung Merapi. Ia mendapat tugas dari (Alm) Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Gunung Merapi dengan gelar Raden Ngabehi Surakso Hargo, karena dianggap lebih memahami seluk-beluk Merapi.

Saking taatnya mengemban tugas, ia bahkan dianggap mbalelo atau membangkang, karena tidak mau mengungsi saat aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat pada tahun 2006,  yang membuat Mbah Maridjan menjadi sorotan dan buah bibir pembaca koran atau penonton televisi.

Ada yang geregetan, geram, sebal dengan sikap dan alasannya tak mau menyingkir dan mengungsi. Namun, ada juga yang kagum dengan pendiriannya yang kukuh. Padahal tempat tinggalnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman hanya berjarak 3 KM dari puncak Gunung Merapi.

Karena sang juru kunci tidak bersedia mengungsi, seluruh Dusun Kinahrejo yang memiliki 77 keluarga dengan 300 jiwa itu juga tidak bersedia untuk mengungsi. Selama Mbah Maridjan belum turun, mereka tidak mau mengungsi. Padahal alasan Mbah Maridjan dinilai tidak kuat unsur logikanya dan keterangan mengenai situasi Merapi juga tidak begitu memuaskan. Ia pun juga membantah disebut paranormal, walaupun rata-rata penduduk desa taat padanya. “Kulo niki sanes paranormal, kulo niki pikanthuk tugas Kanjeng Sultan ngruwat Merapi (Saya bukan paranormal, saya mendapat tugas dari Kanjeng Sultan untuk menjaga Merapi),”  tegasnya.

Untuk itulah, ketika Merapisedang hajatan” kata Mbah Maridjan harus tetap berada di tempat. Bukan hanya polisi yang berupaya membujuk Mbah Maridjan agar segera mengungsi. Bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X sudah membujuknya, tapi Mbah Maridjan tetap setia pada tugasnya. Ia tetap menolak untuk mengungsi. Alasan Mbah Maridjan adalah karena mendapat amanat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Alm) untuk menjaga Gunung Merapi, melanjutkan tugas ayahnya Mbah Turgo. Ia baru bersedia meninggalkan Merapi jika mendapat perintah dari Sri Sultan HB IX, melalui wangsit, mimpi atau tanda-tanda gaib lainnya. Maka, perintah mengungsi dari Sri Sultan HB X pun tidak diindahkannya.

Tetapi tidak seperti abdi dalem lainnya, Mbah Maridjan jarang sebo (menghadap) ke keraton. Ia berkeyakinan, tugasnya sebagai penjaga Merapi mengharuskannya tidak boleh meninggalkan gunung Merapi karena akan dianggap menelantarkannya. Apalagi, saat Merapi punya “hajatan”.

Sikap kukuh Mbah Maridjan tahun 2006 itu bukan yang pertama kali. Saat Merapibergolak” pada tahun 1994 yang menewaskan 43 orang karena awan panas (wedhus gembel), ia juga menolak mengungsi. Nyatanya ia dan dusunnya memang selamat dari amukan wedhus gembel itu.


Sebagai juru kunci Merapi, pada hari-hari biasa rumah kediaman Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo selalu ramai oleh pengunjung. Rata-rata mereka adalah para pendaki gunung dan pencinta alam. Namun, ada juga yang secara khusus melakukan ritual pendakian. Bahkan jika ada pendaki yang dinyatakan hilang saat mendaki, Mbah Maridjan dijadikan petunjuk untuk pencarian.

Rumah juru kunci ini bagai pos tempat pemberhentian. Setiap hari, terlebih hari Sabtu dan Minggu selalu penuh dikunjungi orang. Mereka bebas makan, tidur di pendopo Mbah Maridjan, dengan bekal makanan dan minuman yang mereka bawa sendiri.


Saat Merapihajatan”, berbagai bujukan aparat dan pemerintah agar dirinya segera “turun gunung tak diindahkannya. Ia yakin tidak akan terjadi sesuatu dengan desanya. Karena sejak tahun 1960-an arah letusan Merapi selalu tertuju ke arah Barat, atau ke Kali Krasak di perbatasan Magelang.

“Ada beberapa alasan kenapa saya enggan mengungsi. Pertama, saya tidak ingin tamu-tamu kesulitan mencari saya di pengungsian. Tamu saya banyak,” ujar laki-laki dengan 11 cucu ini. Namun, alasan yang paling penting adalah karena dirinya mendapat tugas untuk tidak menelantarkan Merapi.

“Bahasa” Merapi ditangkapnya dengan caranya sendiri. Oleh sebab itu, ia tidak mau menyebutkanMerapi Meletus” atau “wedhus gembel”. Situasi Merapi sekarang ini (tahun 2006)  dikatakannya sebagai Merapi sedang ewuh, sedang hajatan, yaitu membangun diri. “Kalau Merapimbangun”  maka kita semua harus mbangun kesabaran. Hatinya suci, mbangun mental dan mengurangi macam-macam,” katanya.

Untuk itu, ia tidak mau meninggalkan Merapi di saat Merapi sedang “hajatan”. Mbah Marijan membantu, memelihara dengan berdoa pada Yang Maha Pencipta. Ia menjalankan lelaku spiritualnya. Mbah Maridjan tetap setia, berada di tempatnya, sambil terus berpuasa mutih tiap hari, yaitu puasa minum air tawar dan hanya makan sekepal nasi dan singkong tanpa garam atau gula. Tiap sore hari, ia selalu wiridan dan malam harinya dilanjutkan laku dengan mengelilingi desa.

Kami selalu berdoa memohon keselamatan untuk semua orang,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa yang penting hendaknya semua orang berdoa dan jangan sampai mendahului kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Mbah Maridjan mengingatkan hendaknya orang jangan terus mengisyaratkan atau mengatakan Merapi akan meletus. Jika selalu didengung-dengungkan, maka hal ini akan menjadi kenyataan. Ia juga meminta untuk tidak menyebut awan panas dengan istilah wedhus gembel, karena istilah itu sangat jelek. “Jadi, semua harus pasrah kepada Allah,” lanjutnya.

Abdi Yang Taat


Keteguhan Mbah Maridjan untuk tidak meninggalkan desanya sempat membuat Sri Sultan Hamengkubuwono X geram. Gubernur DI Yogyakarta itu menegaskan lagi bahwa dirinya tidak akan menggunakan statusnya sebagai raja Keraton Yogyakarta untuk memerintahkan evakuasi warga lereng Merapi. Selaku Gubernur, ia sudah mengeluarkan perintah evakuasi. “Mbah Maridjan dan warga yang tidak mau dievakuasi itu mau menunggu wangsit apa lagi? “Wong sudah jelas itu membahayakan.

Makanya, saya sarankan warga jangan mendengarkan penyataan-pernyaan seperti itu,” kata Sultan bernada tinggi. “Sebagai juru kunci, tidak selalu harus menunggu di rumahnya. Sekali pun pergi ke Jakarta, atau ke Amerika, tetap akan disebut juru kunci. Saya minta Mbah Maridjan tunduk pada pemerintah,” ujar Sultan. Tapi, tetap Mbah Maridjan tak bergeming. Bahkan ketika mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid mencoba membujuknya via telepon, Mbah Maridjan menjawab, “Mboten wonten nopo nopo. Kulo tetep mboten ngungsi (Tidak ada apa-apa. Saya tetap tidak mengungsi),” katanya.

Dengan sikap itu Mbah Maridjan dianggap sebagai orang yang membangkang dan tidak tunduk pada pemerintah. Namun, sebaliknya, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Dr. Riswandha Himawan menilai bahwa keteguhan Mbah Maridjan adalah bentuk ketaatan sebagai seorang prajurit yang menjalankan perintah Sri Sultan HB IX (alm).

Mbah Maridjan diminta Sri Sultan HB IX (alm) untuk menjaga Merapi guna keselamatan warga Yogya. “Jadi, jangan dipandang sebagai seorang yang mbalelo,” katanya.

Lanjut Riswandha, jika saat ini (tahun 2006) Mbah Maridjan melakukan wiridan dan laku malam ketika Merapi sedang naik aktivitasnya, maka ini dipahaminya sebagai cara menyelamatkan orang-orang dari “amukan” Merapi. “Kalau ia mengungsi, pengertiannya adalah kalah, menyerah tak mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit yang diperintahkan menjaga Merapi,” ungkap Riswandha.

Sementara itu, jika ada warga yang tidak mau diungsikan, itu semata-mata karena mereka tidak mau jauh dari tempat biasa mereka mencari mata pencaharian. Dalam pemikiran para penduduk itu, menurut Riswandha, saat ini (tahun 2006) Merapi sedang “bersih-bersih”. Nah, ketika “bersih-bersih” itu memberikan rezeki pada warga sekitar lereng Merapi. Yakni berupa pasir yang jumlahnya bisa ribuan ton.

Setiap aktivitas Merapi meningkat, selalu terjadi konflik antara pemerintah dengan masyarakat yang tinggal di lereng Merapi. Pertentangan ini akan terus berulang, maka menurut Riswandha untuk menyelesaikannya perlu memakai pendekatan kearifan budaya lokal. Ya, fenomena Mbah Maridjan adalah fenomena Merapi itu sendiri. Ia telah menjadi spirit of Merapi dan The Man of The Mount.


Biodata


Nama  :    Mbah Maridjan.
Umur  :    83 tahun.
Gelar  :    Raden Ngabehi Surakso Hargo.
Jabatan : Juru Kunci Merapi sejak 1974 yang diangkat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Alm)
Anak  :    4 anak  dengan 11 cucu.
Alamat  : Dusun Kinahreja, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.
(Sumber : Berita Indonesia).

SILAHKAN BACA “MBAH MARIDJAN TELAH MENINGGAL DUNIA AKIBAT LETUSAN GUNUNG MERAPI” DI SITUS :

IwanDahnial.wordpress

Iklan