AWAS GUNUNG BROMO MULAI BATUK-BATUK !

Kepala Pos Pengamatan Gunung Bromo, Jawa Timur, di Cemoro Lawang, Muhammad Syafii, menyatakan aktivitas vulkanik kawah Gunung Bromo terus meningkat. Gunung yang memiliki ketinggian 2.392 meter dari permukaan laut itu terus mengeluarkan abu vulkanik, disertai semburan belerang. Selain itu, dapur magma terus memancarkan lava pijar. “Lava pijar dan asap belerang berbahaya,”katanya kemarin.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi meningkatkan status Gunung Bromo dari siaga menjadi awas terhitung sejak hari Selasa tanggal 23 Nopember 2010 pukul 15.30 WIB. Secara visual, pada 22-23 November 2010 terlihat embusan asap putih sedang hingga tebal dengan jarak 250 meter dari bibir kawah yang condong mengarah ke utara.

Menurut catatan, gunung Bromo terakhir meletus pada 2004 dengan tinggi letusan abu panas mencapai 3 kilometer.

Saat itu 2 wisatawan asal Singapura, yang tengah menikmati pemandangan di kawasan kawah, meregang nyawa. Mereka tewas akibat lontaran material vulkanik berupa batu dan kerikil panas.

Letusan pada 2004 berlangsung singkat dengan karakter letusan freatik (ringan sampai sedang) dengan ciri awal yang kurang jelas. Gunung Bromo memiliki potensi letusan freatik tiba-tiba, dan asap dengan ketinggian 100-150 meter.

“Berdasarkan pengalaman, lontaran material hanya sejauh 300 meter dari bibir kawah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo. Itu sebabnya, untuk menghindari korban jiwa, mereka memastikan agar tidak ada lagi wisatawan yang turun ke lautan pasir Bromo.

Kendati status Gunung Bromo sudah ditingkatkan menjadi awas, Tutug menyatakan pemerintah setempat belum menyiapkan lokasi evakuasi.

Menurut Surono, Kepala Pusat Vulkanologi, meski gunung Bromo berstatus awas, ancaman letusan Bromo tidaklah besar seperti Gunung Merapi atau Krakatau . Ancaman yang muncul hanya berupa abu. Bahkan, yang terjadi saat ini, abu vulkanik Bromo tidak disertai awan panas. Abu tersebut akan beredar sesuai dengan arah angin yang bertiup di puncak gunung tersebut.

Dengan tabiat seperti itulah, Surono memutuskan untuk tidak datang ke Bromo dan cukup mengirim staf setingkat eselon tiga. “Bromo itu tiap tahun meletus,”katanya.

Untuk saat ini, Surono menegaskan, jarak aman dari letusan adalah sejauh 3 kilometer dari puncak Bromo. Radius 3 kilometer, menurut Tutug, tepat berada di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Sumber: Koran Tempo).


GUNUNG BROMO

Gunung Bromo (tengah, yang mengeluarkan asap), gunung yang mengeluarkan asap paling belakang adalah Gunung Semeru.

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta / Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam 4 wilayah, yakni Kabubaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Kabubaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Sejak tahun 1767 gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu telah meletus sebanyak 65 kali. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974 sedangkan letusan terakhir terjadi pada tahun 2004.

Jalur pendakian menuju gunung Bromo

Perjalanan melalui pintu barat dari arah Pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat obyek wisata (lautan pasir) tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk Probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa Cemoro Lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.

Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil Tumpang kemudian masuk kota Pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan dimana kearah selatan akan memasuki Ranu Pane (kearah gunung Semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir Bromo yang berada di punggung gunung Bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam.

Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun tempat persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar-benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut.  Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.

Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.

Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja, bila memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 – 3 pagi. Dimana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap-siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak Bromo yang terkenal itu. Nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang.

Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal Pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan (apalagi ditengah kabut tebal), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 – 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Bromo (Brahma) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. (Sumber: Wikipedia).

Lubang kawah gunung Bromo dan sesajen.

Pagi hari di Bromo, menjelang matahari terbit.

Lautan pasir di Bromo

Kawanan kuda milik penduduk setempat siap disewakan  kepada para turis di Bromo.

Tangga menuju puncak gunung Bromo.

Pura milik suku Tengger di Bromo.

Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Sesajen kerbau.

Penduduk Tengger siap-siap menangkap sesajen yang di lempar ke dalam lubang kawah Bromo.

Sisa sesajen dibawa oleh masyarakat Tengger. Mereka percaya bahwa sisa sesajen ini bisa membawa berkah meningkatkan hasil panen mereka.

Iklan