PERAYAAN 60 TAHUN BERDIRINYA REPUBLIK RAKYAT CINA

Pada tanggal 1 Oktober (tanggal berdirinya Republik Rakyat Cina / RRC) 2009, Cina merayakan 60 tahun berdirinya RRC yang berpaham Komunis. Ratusan ribu peserta ikut berbaris melewati Lapangan Tiananmen di ibu kota Cina, Beijing, berkostum aneka ragam maupun berseragam. Para penari berbaur dengan tentara disertai peragaan peralatan militer. Di bawah ini disajikan foto-foto perayaan yang semarak tersebut di Lapangan Tiananmen dan di beberapa tempat lainnya.

Pada foto yang diterbitkan oleh kantor berita Cina Xinhua, tampak bendera nasional Republik Rakyat Cina direntangkan oleh barisan peserta parade (pawai) di pusat kota Beijing, ibu kota Cina pada tanggal 1 Oktober 2009, dalam rangka merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Dalam foto tampak beberapa barisan para peserta mengambil bagian dalam parade (pawai) pada tanggal 1 Oktober 2009 di jalan raya Chang’an di pusat kota Beijing, ibu kota Cina, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Presiden Cina, Hu Jintao, sedang menginspeksi (memeriksa) barisan tentara Cina di lapangan Tiananmen, Beijing, pada tanggal 1 Oktober 2009, sebelum maupun sesudah parade berlangsung dalam rangka merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Taruna (kadet) angkatan darat Cina ikut berbaris dalam parade di pusat kota Beijing, pada 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Pelaut dari Tentara Pembebasan Rakyat Cina (People’s Liberation Army, PLA) berseragam putih-putih berbaris melewati Lapangan Tiananmen, di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Tentara angkatan darat wanita dari Tentara Pembebasan Rakyat Cina tampak berbaris membentuk suatu formasi melewati Lapangan Tiananmen, di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Pelaut wanita Tentara Pembebasan Rakyat Cina berbaris melewati Lapangan Tiananmen, di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Kendaraan lapis baja menggelinding di jalan raya di pusat kota Beijing, pada 1 Oktober 2009, ikut merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina,

Kendaraan lapis baja Tentara Pembebasan Rakyat Cina bergemuruh melewati Lapangan Tiananmen, di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Tank-tank Tentara Pembebasan Rakyat Cina menggelinding melewati Lapangan Tiananmen dalam parade besar di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Personil Tentara Pembebasan Rakyat Cina berdiri tegak di atas kendaraan militer saat berparade pada 1 Oktober 2009, dekat Lapangan Tiananmen saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Helikopter-helikopter angkatan udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina terbang membentuk formasi di atas kota Beijing, pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Pesawat terbang militer Cina terbang di atas Lapangan Tiananmen pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Seorang laki-laki tampak mengambil foto pesawat terbang Tentara Pembebasan Rakyat Cina yang terbang membentuk formasi di atas kota Beijing, pada 1 Oktober 2009, ikut memperingati berdirinya Republik Rakyat Cina.

Anak-anak berkostum seragam menunggu giliran berangkat berparade di Lapangan Tiananmen pada 1 Oktober 2009, dalam rangka memperingati berdirinya Republik Rakyat Cina.

Barisan perempuan berkostum merah-merah ikut berparade di kota Beijing pada 1 Oktober 2009, saat merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Para penari laki-laki ikut ambil bagian dalam parade di kota Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, untuk merayakan berdirinya Republik Rakyat Cina.

Kendaraan hias dengan model pesawat terbang diarak melewati Lapangan Tiananmen, Beijing, Cina, pada 1 Oktober 2009, saat perayaan untuk memperingati berdirinya Republik Rakyat Cina.

Kendaraan hias yang memamerkan hasil prestasi Cina dibidang ruang angkasa, tampil dalam parade di kota Beijing, Cina, 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina

Kendaran hias dengan miniatur Istana Potala ikut berparade di kota Beijing, Cina, 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina

Presiden Cina, Hu Jintau (tengah) dan para pemimpin Cina lainnya, menyaksikan parade pada perayaan untuk memperingati 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina, di kota Beijing, 1 Oktober 2009.

Para tamu undangan menyaksikan parade yang sedang melewati jalan raya Changan, di kota Beijing, Cina, 1 Oktober 2009.

Acara jamuan makan pada tanggal 30 September 2009, di Gedung Besar Rakyat Cina, Beijing, untuk memperingati 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Kembang api meluncur ke atas Lapangan Tiananmen pada malam hari, di kota Beijing, Cina, 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Kembang api meluncur ke atas Pelabuhan Victoria (Victoria Harbour) pada malam hari di kota Hongkong, 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina

Anak-anak menyaksikan kembang api yang diluncurkan di Pelabuhan Victoria (Victoria Harbour) pada malam hari di kota Hongkong, 1 Oktober 2009, untuk merayakan 60 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina.

Sumber : Boston.com

———————————————-

REPUBLIK RAKYAT CINA (RRC)

Bendera RRC (kiri) d an Lambang Negara RRC (kanan)

Republik Rakyat Cina (RRC; Pinyn: Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó; Hanzi tradisional: 中華人民共和國; Hamzi sederhana: 中华人民共和国; juga disebut Republik Rakyat Tiongkok/RRT) adalah sebuah negara komunis yang didirikan pada tahun 1949, dan dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara komunis, kebanyakan ekonomi negara republik ini telah diswastakan sejak 3 dasawarsa yang lalu, namun pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara politik, negara Cina masih tetap menjadi pemerintahan satu partai.

RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, dengan jumlah penduduk melebihi 1,3 milyar jiwa, yang mayoritas merupakan suku bangsa Han. RRC juga adalah negara terbesar di Asia Timur, dan ke 3 terluas di dunia, setelah Rusia dan Kanada. RRC berbatasan dengan 14 negara: Afganistan, Bhutan, Myanmar, India, Kazakhstan, Kirgizstan, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan dan Vietnam.

Dalam suatu pertikaian yang terus berlangsung dengan Taiwan , RRC menuntut hak memerintah atas Taiwan dan pulau-pulau sekitarnya yang tidak pernah dilepaskan oleh Republik Cina / Taiwan (hal yang sama juga berlaku terhadap Pescadores, Qoumoy, dan Matzu). Pemerintah RRC menganggap bahwa Republik Cina merupakan suatu entitas yang tidak lagi wujud dan secara administratif RRC meletakkan Taiwan sebagai provinsi ke-23 RRC. Status politik Taiwan merupakan hal yang kontroversial, Taiwan dikuasai oleh Republik Cina, yang kini berbasis di kota Taipe. Republik Cina mengklaim kedaulatan terhadap seluruh Cina daratan dan begitu juga dengan RRC.

Cina Daratan merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk kepada kawasan di bawah pemerintahan RRC dan tidak termasuk kawasan administrasi khusus Hong Kong dan Macau. Pemerintah RRC melihat pemerintahannya di Cina sebagai Tiongkok Baru (新中国) saat membandingkan dirinya dengan Cina sebelum tahun 1949. RRC juga dijuluki sebagai “Cina Merah“, terutama oleh musuhnya di Barat, dengan merujuk kepada warna merah yang merupakan lambang komunis.

SEJARAH

Mao Zedong (lahir di Hunan 26 Desember 1893, wafat di Beijing 9 September 1976) mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Cina pada 1 Oktober tahun 1949. Mao Zedong menjabat sebagai Presiden RRC pertama pada 27 September 1954 – 27 April 1959.

Setelah Perang Dunia II, Perang Saudara Cina antara Partai Komunis dan Cina Kuomintang berakhir pada tahun 1949 dengan pihak komunis menguasai Cina daratan dan Kuomintang menguasai pulau Taiwan dan beberapa pulau-pulau lepas pantai di Fujian, pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Cina dan mendirikan sebuah negara komunis. Para pendukung Era Maoisme, yang terdiri dari kebanyakan rakyat Cina miskin yang tradisionil atau nasionalis dan pemerhati asing yang mendukung komunisme, percaya bahwa komunisme dapat membantu meningkatkan standar hidup rakyat. Mereka juga yakin bahwa kampanye adalah hal yang penting dalam mempercepat perkembangan Cina dan menjernihkan kebudayaan mereka.

Meskipun demikian, para kritikus rezim Mao, yang mayoritas adalah analis asing dan para peninjau serta beberapa rakyat Cina, khususnya para anggota kelas menengah dan penduduk kota yang lebih terbuka pemikirannya, mengatakan bahwa pemerintahan Mao melakukan pengawasan yang ketat terhadap kehidupan sehari-hari rakyat Cina, dan mereka yakin bahwa kampanye seperti “Lompatan Jauh ke Depan” dan “Revolusi Kebudayan” mengakibatkan hilangnya nyawa jutaan jiwa, menghabiskan biaya ekonomi yang besar, dan merusak warisan budaya Cina. Kampanye “Lompatan Jauh ke Depan” yang mendahului periode kelaparan yang besar di Cina, menurut sumber-sumber Barat dan Timur yang dapat dipercaya, mengakibatkan kematian 20-30 juta orang. Namun Mao dan pendukungnya mengatakan bahwa kematian jutaan orang tersebut disebabkan oleh musibah alam.

Setelah kegagalan ekonomi yang dramatis pada awal 1960-an, Mao mundur dari jabatannya sebagai ketua umum Cina. Kongres Rakyat Nasional melantik Liu Shaoqi sebagai pengganti Mao. Mao tetap menjadi ketua Partai Komunis, namun dibebaskan dari tugas ekonomi sehari-hari yang dikontrol dengan lebih lunak oleh Liau Shaoqi, Deng Xiaoping, dan lainnya yang memulai reformasi ekonomi dan keuangan.

Liu Shaoqi, Presiden RRC ke-2 (masa jabatan 27 April 1959 – 31 Oktober 1968) menggantikan Mao Zedong.

Pada 1966 Mao meluncurkan Revolusi Kebudayaan, yang dilihat lawannya (termasuk analis Barat dan banyak remaja Cina kala itu) sebagai balasan terhadap rival-rivalnya dengan memobilisasi para remaja untuk mendukung pemikirannya dan menyingkirkan kepemimpinan yang lunak pada saat itu. Kekacauan pun timbul namun hal ini segera berkurang di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Zhou Enlai di mana para kekuatan moderat kembali memperoleh pengaruhnya.

Zhou Enlai, Perdana Menteri RRC tahun 1949–1976.

Setelah kematian Mao (Mao wafat di Beijing pada 9 September 1976), Deng Xiaoping berhasil memperoleh kekuasaan dan janda Mao, Jiang Qing beserta rekan-rekannya, Kelompok Empat, yang sebelumnya telah mengambil alih kekuasaan negara, ditangkap dan dibawa ke pengadilan.

Jenazah Mao Zedong yang diawetkan dengan balsem, disemayamkan di musoleum yang terletak di bagian selatan lapangan Tiannamen, Bejing, Cina.

Bangunan musoleum tempat jenazah Mao Zedong disemayamkan, terletak di bagian selatan lapangan Tiannamen, Bejing, Cina.

Jiang Qing isteri Mao.

Janda Mao, Jiang Qing saat dibawa ke pengadilan.

Deng Xiaoping (lahir 22 Agustus 1904 – meninggal 19 Februari pada umur 92 tahun) adalah seorang tetua (sesepuh) pemimpin revolusi dalam Partai Komunis Cina yang menjadi pemimpin tertinggi RRC sejak kurun dasawarsa 70-an sampai dengan awal dasawarsa 90-an. Ia adalah pemimpin generasi kedua setelah Mao Zedong. Di bawah arahannya, Cina menjadi salah satu negara dengan laju perkembangan ekonomi tercepat di dunia.

Sejak pemerintah dikendalikan oleh Deng Xioping, pihak pemerintah secara bertahap banyak melunakkan kontrol terhadap kehidupan sehari-hari rakyatnya, dan telah memulai perpindahan ekonomi Cina menuju sistem berbasiskan pasar.

Reformasi keuangan mendorong terjadinya perkembangan pesat pada ekonomi di sektor konsumen dan ekspor, terciptanya kelas menengah (khususnya di kota pesisir di mana sebagian besar perkembangan industri dipusatkan) yang kini merupakan 15% dari populasi, standar hidup yang kian tinggi (diperlihatkan melalui peningkatan pesat pada GDP per kapita, belanja konsumen, perkiraan umur, persentase baca-tulis, dan jumlah produksi beras) dan hak dan kebebasan pribadi yang lebih luas untuk masyarakat biasa.

Para pengkritik reformasi ekonomi (biasanya masyarakat miskin di Cina dan pemerhati Barat berhaluan kiri), menunjukkan bukti bahwa proses reformasi telah menciptakan kesenjangan kekayaan, polusi lingkungan, korupsi yang menjadi-jadi, pengangguran yang meningkat akibat PHK di perusahaan negara yang tidak efisien, serta telah memperkenalkan pengaruh budaya yang kurang diterima. Akibatnya mereka percaya bahwa budaya Cina telah terkikis, rakyat miskin semakin miskin dan tersisih, dan stabilitas sosial negara semakin terancam.

Meskipun ada kelonggaran terhadap kapitalis, Partai Komunis Cina tetap berkuasa dan mempertahankan kebijakan yang mengekang terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya, seperti Falun Gong dan gerakan separatis di Tibet. Para pengkritik (umumnya minoritas dari rakyat Cina, para rakyat pelarian Cina di luar negeri, penduduk Taiwan dan Hong Kong, etnis minoritas seperti bangsa Tibet dan pihak Barat) mengatakan bahwa kebijakan ini melanggar hak asasi manusia yang dikenal komunitas internasional, dan mereka menuduh hal tersebut mengakibatkan terciptanya sebuah negara polisi, yang menimbulkan rasa takut.


PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRATIF

Republik Rakyat Cina mempunyai kontrol administratif terhadap 22 provinsi (); pemerintah RRC menganggap Taiwan (台湾) sebagai provinsi ke 23. Pihak pemerintah juga mengklaim Kepulauan Laut Cina Selatan yang kini masih diperebutkan. Selain dari provinsi-provinsi tersebut, terdapat juga 5 daerah otonomi (自治区) yang berisi banyak etnis minoritas; 4 munisipaliti (直辖市) untuk kota-kota terbesar Cina dan 2 Daerah Administratif Khusus (SAR) (特别行政区) yang diperintah RRC.

Berikut adalah daftar wilayah pembagian administratif yang di bawah kontrol RRC.

PROVINSI


* Anhui (安徽)

* Fujian (福建)

* Gansu (甘肃)

* Guangdong (广东)

* Guizhou (贵州)

* Hainan (海南)

* Hebei (河北)

* Heilongjiang (黑龙江)

* Henan (河南)

* Hubei (湖北)

* Hunan (湖南)

* Jiangsu (江苏)

* Jiangxi (江西)

* Jilin (吉林)

* Liaoning (辽宁)

* Qinghai (青海)

* Shaanxi (陕西)

* Shandong (山东)

* Shanxi (山西)

* Sichuan (四川)

* Yunnan (云南)

* Zhejiang (浙江)

DAERAH OTONOMI

* Guangxi (广西)

* Mongolia Dalam (内蒙古)

* Ningxia (宁夏)

* Xianjiang (新疆)

* Tibet (西藏)

KOTAMADYA

* Beijing (北京)

* Chongqing (重庆)

* Shanghai (上海)

* Tianjin (天津)

*

DAERAH ADMINISTRATIF KHUSUS

* Hong Kong (香港)

* Makau (澳门)

DITUNTUT RRC, TETAPI DIPERINTAH OLEH REPUBLIK CINA (TAIWAN)


* Taiwan (台湾) (dipertikaikan).

Chiang Kai-shek atau Jiang Jie-shi (Mandarin) (lahir di Fenghua, Zhejiang, 31 Oktober 1887 – meninggal di Taipei, Taiwan, 5 April 1975 pada umur 87 tahun) adalah salah seorang pemimpin kubu nasionalis yang berhadapan dengan kubu komunis dalam perang saudara di Cina pada era Republik. Menjabat sebagai Presiden Republik Cina (Taiwan) pertama tahun 1954, kemudian 1966, dan 1972.

DITUNTUT RRC, AKHIRNYA DELEPASKAN RRC

* Mongolia Luar (kini sebuah negara berdaulat yang dikenal sebagai Mongolia).

DEMOGRAFI

Secara resmi RRC menyatakan dirinya sebagai bangsa multi-etnis dengan 56 etnis yang diakui. Mayoritas adalah etnis Han mencakup hampir 93% dari populasi. Penduduk etnis Han sendiri heterogen, dan bisa dianggap sebagai kumpulan pelbagai etnik yang berbudaya dan berbahasa yang sama. Kebanyakan suku Han bertutur macam-macam bahasa Cina yang bisa dilihat sebagai keluarga bahasa. Subdivisi terbesar bahasa Cina yang diucapkan ialah bahasa Mandarin. Versi standar Mandarin yang didasarkan pada dialek Beijing, dikenal sebagai Putonghua, diajarkan di sekolah dan digunakan sebagai bahasa resmi di seluruh negara.

Revolusi Komunis di negara ini sejak tahun 1949 menyebabkan hampir 59% penduduknya (lebih kurang 767 juta orang) menjadi Ateis atau tidak percaya Tuhan. Namun lebih kurang 33% dari mereka percaya kepada kepercayaan tradisi yaitu kepercayaan Budha dan Taoisme. Penganut agama terbesar di negara ini ialah Budha Mahayana yang berjumlah 100 juta orang. Di samping itu ada Buddha Therawada dan Buddha Tibet yang dianut oleh golongan etnis minoritas di perbatasan barat laut negara ini. Selain itu diperkirakan terdapat 18 juta penduduk beragama Islam (kebanyakan Sunni) dan 14 juta beragama Kristen (4 juta Katolik dan 10 juta Protestan) di negara ini.

Negara RRC telah lama mengalami masalah pertumbuhan penduduk. Dalam usaha membatasi perkembangan populasinya, RRC telah mengambil kebijakan yang membatasi keluarga (etnis minoritas seperti Tibet dikecualikan) di perkotaan menjadi 1 anak dan keluarga di pedalaman 2 anak jika yang pertama adalah wanita.

Karena di daerah pedesaan yang mayoritas etnis Han, menganggap bahwa lelaki lebih bernilai ekonomis dibanding wanita, maka dengan adanya kebijakan pembatasan anak tersebut, banyak terjadi aborsi terhadap calon-calon bayi wanita.

Di RRC pada tahun 2.000 perbandingan jenis kelamin pada umur lahir adalah 117 lelaki : 100 perempuan.

Hasil perbandingan yang tidak seimbang ini mengakibatan 30-40 juta lelaki RRC tidak bisa menikah dengan wanita sebangsanya. Banyak dari lelaki ini akhirnya mencari gadis idaman mereka di negara lain atau di pusat-pusat pelacuran. Dalam beberapa kasus, gadis-gadis diculik dan dijual sebagai isteri di perkampungan yang jauh.

MILITER

Cina mempunyai pasukan tentara terbesar di dunia, dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army, PLA). Sampai pada bulan Juni 2005, Tentara Pembebasan Rakyat berkekuatan 3.530.569 personel. Jumlah ini tidak seluruhnya berupa tentara, karena kekuatan unit tentara hanya 2.296.861 personel, sisanya 1.233.708 personel adalah kekuatan unit paramiliter.

Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat mempunyai 18 divisi tentara. Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat sampai pada tahun 2005 berkekuatan 1500 pesawat tempur, 780 pesawat pengebom dan 500 pesawat pengangkut. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat dibagi atas 3 armada besar.

Pembelanjaan militer Republik Rakyat Cina (RRC) pada tahun 2005 adalah AS $ 30 milyar, tetapi ini tidak termasuk uang yang digunakan untuk pembelian senjata luar. Satu kajian RAND memperkirakan bahwa perbelanjaan militer RRC yang sebenarnya adalah 1,4-1,7 kali lipat lebih besar daripada pengeluaran resminya.

Cina, meski mempunyai sistem senjata nuklir dan sering dianggap sebagai kekuatan regional yang besar, namun secara luas dipandang di dalam negeri maupun di luar, hanya mempunyai kemampuan terbatas untuk mengerahkan kekuatan militernya ke luar Cina dan tidak dianggap sebagai sebuah negara adidaya, karena kebanyakan peralatan senjata yang digunakan oleh RRC masih kuno dan perlu dimodernkan dari segi standar Amerika Serikat.

Angkatan udaranya masih memerlukan pesawat perang pengangkut dan kebanyakan pesawat perangnya sudah ketinggalan zaman.

Tentara RRC kini berusaha sungguh-sungguh memperkuat dirinya sebagai persiapan kemungkinan berperang dengan Amerika Serikat sebagai akibat jika berperang dengan Taiwan (Amerika Serikat membantu Taiwan dibidang militer dan ekonomi dalam usahanya membendung pengaruh RRC). RRC secara aktif membeli pesawat-peswat perang canggih seperti Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30. Pertahanan udaranya diperkuat dengan peralatan ultra modern S-300 Surface yang merupakan sistem pertahanan yang mampu mencegah peluru kendali udara dari pihak musuh. RRC juga meningkatkan kemampuan angkatan daratnya dengan memodernkan peralatan elektronik angkatan darat mereka.

Tentara RRC dan cabang ketentaraan yang lain merupakan ancaman besar bagi dominasi Amerika di dunia pada masa kini, terutama di kawasan-kawasan Asia Timur seperti Selat Taiwan, karena Cina menempatkan dan mengumpulkan tentaranya di dekat daratan Taiwan, dan juga secara langsung RRC mengarahkan senjata peluru kendalinya ke arah Taiwan.

Citra tentara RRC sempat tercoreng dengan tindakannya memadamkan demonstrasi pelajar di lapangan Tian’anmen pada tahun 1989. (Lihat situs: IwanDahnial.wordpress).

(Sumber : dikutip sebagian dan diedit dari Wikipedia)

Iklan