PASUKAN KOALISI GEMPUR LIBYA

Sumber: Dailymail

Pemimpin Libya, Muammar Kadhafi, Minggu (20/3/2011), bersumpah akan membalas serangan pasukan internasional dengan perang yang berkepanjangan.

Pasukan internasional aliansi Amerika Serikat (AS) dan Eropa Minggu tanggal 20 Maret 2011 menggempur Tripoli dalam invasi terbesar di dunia Arab sejak invasi Irak 2003. Menurut Kepala Staf Gabungan AS, Laksamana Mike Mullen, kepada NBC, serangan awal operasi internasional untuk menegakkan zona larangan terbang di Libya itu telah berhasil.

Sebelumnya, Sabtu (19/3), pergerakan pasukan loyalis Kadhafi menuju Benghazi berhasil dilumpuhkan pesawat tempur Perancis yang merupakan bagian dari koalisi. Serangan itu menghancurkan tank dan kendaraan lapis baja loyalis, yang Minggu kemarin tampak berjajar hancur di sepanjang jalan menuju Benghazi, pusat pertahanan kelompok oposisi.

“Bagian awal operasi internasional telah berhasil. Mereka tak lagi berbaris menuju Benghazi,” ujar Mullen.

Sedangkan kapal perang dan kapal selam Inggris menembakkan setidaknya 110 rudal jelajah Tomahawk dengan sasaran rudal antipesawat dan radar milik Kadhafi di sekitar Tripoli dan Misrata. Menurut Laksamana William Gortney di Pentagon, rudal Tomahawk berhasil melumpuhkan lebih dari 20 sistem pertahanan udara terpadu dan fasilitas pertahanan darat lainnya.

Sedangkan dalam serangan Odyssey Dawn, 3 pembom siluman AS, B-2 menjatuhkan 40 bom di landasan utama Libya, dalam upaya menghancurkan sebagian besar AU Libya. Secara keseluruhan, ada 19 pesawat tempur dari AS, Inggris, Perancis, Kanada dan Italia yang siaga di pangkalan AS Afrika Command.

Sedangkan Denmark telah menyiagakan 4 pesawat tempur dan tengah menunggu komando dari AS. “Apa yang kami lakukan dengan mitra koalisi kami adalah fase awal operasi untuk mencoba menciptakan kondisi yang bisa mengatur zona larangan terbang,” ujar juru bicara Pentagon, Kenneth Fidler.

Serangan pasukan internasional di luar Benghazi disambut gembira dan dianggap tepat oleh pihak oposisi. Saat serangan udara terjadi, Sabtu 19 maret 2011, pasukan Kadhafi sudah di ambang gerbang kota dengan pasukan oposisi bersiap untuk melawan.

”Warga Benghazi siap untuk mati sebelum Kadhafi menapakkan kakinya kembali ke kota ini (Benghazi),” ungkap mantan anggota militer pemerintah yang bergabung dengan pihak oposisi, Mohammed Faraj.

Dalam serangan tersebut, sekitar 14 tank, 20 kendaran lapis baja pengangkut pasukan, 2 truk berpeluncur roket serta puluhan pikap hancur. Juga, 14 pasukan Kadhafi tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan akibat ledakan amunisi yang dahsyat.

Atas gempuran itu, Kadhafi pun meradang dan menjanjikan balasan. Kami janjikan perang yang panjang,” tegasnya. Sebelumnya, televisi nasional Libya menyatakan 48 orang tewas dan 150 orang terluka dalam operasi militer koalisi di Tripoli.

Kadhafi telah memutuskan untuk mempersenjatai rakyat Libya dan menyatakan mereka bersiap mengalahkan Barat. “Kami tak akan meninggalkan tanah kami dan kami akan membebaskannya. Kami akan tetap hidup dan kalian semua akan mati,” tandasnya dalam pidato di televisi.

Terpisah, China dan Rusia yang abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan (DK) PBB pekan lalu tentang intervensi militer ke Libya, menyatakan penyesalan mereka terhadap aksi militer tersebut. Kemenlu China berharap konflik itu tak akan menyebabkan kerugian lebih besar terhadap kehidupan sipil.

Beberapa pengamat juga mempertanyakan
strategi intervensi militer itu dengan mengkhawatirkan Negara koalisi akan terseret dalam perang yang berkepanjangan. Sementara Presiden AS, Barrack Obama, menegaskan tidak berencana mengirim pasukan darat ke Libya.

“Ini bukanlah apa yang diinginkan AS atau salah satu mitra kami. Kami tak bisa berpangku tangan ketika seorang tiran memberitahu orang-orang di sana bahwa tak ada lagi belas kasihan,” ujar Obama dari Brazil, tempat dia memulai kunjungan 5 hari di Amerika Latin, Sabtu 19 Maret 2011. (Sumber: Solopos).

Pasukan Libya melepaskan tembakan anti pesawat udara selama serangan udara oleh angkatan udara koalisi di Tripoli. (Sumber: Dailymail).

Pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF), Tornado GR4, lepas landas dari Marham RAF, di Norfolk, Inggris, sebelum perjalanan sepanjang 3.000 mil untuk menghancurkan pertahanan udara Kolonel Gaddafi di Libya. (Sumber: Dailymail).

Rudal-rudal tampak di bawah pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force), Tornado GR4, yang lepas landas dari Norfolk, Inggris. (SumberDailymail).

Kaum pemberontak Libya melepaskan rudal-rudal ke pesawat angkatan udara pemerintahan Libya di padang pasir dekat kota Ajdabiya. (Sumber: Dailymail).

Kendaraan lapis baja pemberontak hancur terbakar akibat digempur oleh pasukan Gaddafi di luar kota Benghazi. (Sumber: Dailymail).