WABAH ULAT BULU BAKAL MELUAS !


Hama ulat bulu yang menyerang pohon mangga di 9 kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dan belakangan telah menyebar ke wilayah lain di Pulau Jawa dan  Bali (Pasuruan, Bayuwangi, Jombang, Mohokerto, Tulungagung, Kendal, Bekasi / Jati Asih, Buleleng, Denpasar, Tanjung Duren Jakarta), ternyata merupakan jenis spesies baru. Tanpa tindakan pembasmian secepatnya, wabah ulat bulu akan semakin mengganas karena kupu-kupu ngengat hasil metamorfosis ulat segera bertelur.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Haryono, belum pernah ada catatan ilmiah tentang ulat bulu tersebut. Ulat bulu Probolinggo mempunyai sejumlah ciri khusus, antara lain, proses metamorfosis yang lebih cepat daripada ulat-ulat bulu jenis lain. “Dan, ulat bulu ini tidak (menimbulkan) gatal jika terkena kulit manusia,” kata Haryono di Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/4/2011).

Dalam dunia konservasi biologi, ulat yang belum mempunyai rekaman ilmiah disebut jenis alien.  Jenis itu bisa merupakan perkawinan 2 jenis ulat bulu atau memang ulat jenis lama yang belum pernah ada dokumentasi ilmiahnya.

Kesimpulan sementara tim peneliti Kementerian Pertanian, ulat itu bermigrasi dari hutan sekitar Gunung Bromo. Migrasi terjadi karena ketidakseimbangan ekosistem akibat letusan Bromo sejak akhir tahun lalu yang sampai hari ini belum reda. “Makanan mereka di hutan Bromo rusak, predatornya yang merupakan musuh ulat juga habis,” ujar Haryono.

Menanggulangi wabah ulat bulu jenis baru tidak mudah. Bila memakai insektisida, ada kemungkinan wabah ulat bisa teratasi atau sebaliknya justru semakin mengganas karena ulat kebal terhadap pestisida. Haryono berharap, agar pengendalian ulat di Probolinggo tidak menggunakan penyemprotan insektisida berlebihan. “Malah bisa lebih berbahaya.”

Hasil survei tim hama Universitas Gadjah Mada memberi prediksi wabah ulat bulu di Probolinggo akan terus meluas karena ulat sudah memasuki fase kepompong akhir Maret lalu. “Setelah kepompong terbentuk maka akan muncul kupu-kupu ngengat dalam jumlah banyak dan diikuti peletakan telur dari ngengat-ngengat itu, kemudian menjadi ulat bulu kembali yang jumlahnya semakin banyak,” kata pakar hama tanaman UGM Saputra.

Setiap ngengat betina mampu menghasilkan 300 butir telur yang bisa menetas dalam waktu cepat. Maka, jika tidak ada tindakan pencegahan secara serentak, pada akhir April jumlah ulat bulu yang menyerang wilayah itu akan semakin banyak dan serangan semakin meluas. “Jika seluruh ngengat yang keluar dari kepompong itu bertelur semua dan semua telur menetas, berapa ulat bulu yang akan menyerang kabupaten itu ?” tanya Saputra retoris.

Berdasarkan survei singkat Saputra, usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah meluasnya wabah tersebut dengan melakukan pengendalian hama terpadu. Yakni, memberdayakan musuh alami ulat bulu yakni parasitoid larva pupa dan parasitoid larva.

Ketua Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM Susanto menambahkan, wabah ulat bulut ini memiliki ciri yang sama dengan sejumlah wabah seperti hama lamtorogung dan hama pada tanaman jeruk. Kejadian tersebut dipicu oleh rusaknya jaringan rantai makanan dan sistem pertanian monokultur. “Jenis ulat ini tumbuhan inangnya adalah mangga yang banyak dibudidayakan masyarakat Probolinggo,” kata Susanto.

Susanto juga meyakini wabah ini sangat mungkin meluas karena tingginya kemampuan adaptasi ulat yang menurutnya berasal dari spesies Arctomis sp dan Lymantaria atemeles collenette itu. Larva ulat bulu dapat bertahan hingga akhirnya menemukan tanaman inang yang tepat.

Sampai saat ini, tim peneliti Kementerian Pertanian masih belum bisa menentukan cara ampuh mengatasi wabah ulat bulu Probolinggo. Hal yang pasti, satu-satunya cara memutus rantai produksi ulat bulu tersebut adalah memotong tahapan metamorfosis ulat.

Pembasmian telah dilakukan dengan berbagai macam cara. Dari penyemprotan insektisida hingga mendatangkan musuh alami ulat bulu. Ternyata, ulat bulu itu lebih takut dengan sinar matahari. Ulat bulu spesies baru itu akan jatuh dan mati jika terkena sinar matahari. “Punggung ulat yang ada di Probolinggo memiliki bantalan putih dan akan jatuh mati kalau terkena sinar matahari,” kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Eko Putro.

Ledakan ulat bulu ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya pada 1936 pernah terjadi kasus serupa. Namun, spesies ulat bulu sekarang berbeda dari masa itu. Menurut Eko, kemunculan ulat bulu merupakan fenomena ekologi karena lahan perkebunan mangga di Probolinggo sangat rimbun sehingga tidak memiliki ventilasi memadai.

”Daun-daun mangga yang menumpuk (di tanah) menyebabkan kelembaban tinggi.  Kita sarankan (daun mangga) untuk dibakar agar ulat bulu pergi,” ujar Eko. Sampai saat ini pembasmian ulat bulu di Probolinggi masih mengandalkan penyemprotan insektisida yang sudah menghabiskan 700 liter.

Selain sinar matahari, ulat bulu Probolinggo akan mati oleh parasit. Laboratorium Dinas Pertanian sebenarnya telah menyediakan parasit untuk membasmi hama tanaman yaitu jamur metarizium, vertisilium, dan beauveria. Namun, karena ulat bulu ini spesies baru, dibutuhkan pula parasit jenis baru. “Tiga jenis parasit itu selalu siap untuk membasmi wereng dan batang cokelat. Tapi, untuk ulat bulu spesies baru ini masih kita carikan parasit yang cocok,” kata Eko.

Spesies ulat bulu di Probolinggo ternyata juga berbeda dari ulat bulu yang ditemukan di Pasuruan, Banyuwangi, dan Jombang. Beda ulatnya, beda pula jenis pohon yang diserang. Di Probolinggo, ulat bulu banyak menyerang pohon mangga manalagi. Di Pasuruan, ulat bulu menyerang pohon mangga lalijiwo. Sementara di Banyuwangi, ulat bulu menyerang pohon mindi. Penyebaran ulat bulu setiap kecamatan di Probolinggo juga membentuk pola huruf U. Di Tulungagung ulat bulu menyerang pohon kedondong dan pohon jambu. Di Bekasi tanaman yang diserang ulat bulu adalah pohon alpukat. Di Tanjung Duren Jakarta ulat bulu menyrang pohon cemara.

Menurut Menteri Pertanian Suswono , ledakan hama ulat bulu, khususnya di Probolinggo, Jawa Timur, hanya menyerang 1,2 persen dari populasi pohon mangga di wilayah tersebut. Menurutnya, jumlah pohon mangga di Kabupaten Probolinggo mencapai 1.227.879 pohon, namun yang terserang ulat bulu hanya 14.813 atau sekitar 1,2 persen.

Ia menegaskan hingga kini tanaman pangan seperti jagung dan padi tak diserang oleh ulat bulu. Selain itu, tanaman yang terserang ulat bulu, khususnya mangga, masih hidup atau masih bisa berbunga dan berbuah dalam waktu ke depan. (SumberKoran Republika dan Metrotv).


2 macam ngengat.

Siklus kehidupan ngengat : Ngengattelurulatkepompongngengat.

Ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Probolinggo.

Ulat bulu jenis Dasychira Inclusa yang diduga menyerang Banyuwangi.

Seorang warga Probolinggo sedang memegang ulat bulu.

Ulat bulu yang menyerang pohon kedondong. Dikabarkan bahwa ulat bulu tekah menyerang pohon kedondong di Tulungagung.

Penyemprotan ulat bulu yang berada di pohon mangga (gambar atas)  dan dinding rumah (gambar bawah) dengan insektisida.