GELANGGANG OLAH RAGA BUNG KARNO

Presiden Indonesia, Soekarno, dan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev, sedang manyaksikan makeKompleks olah raga serbaguna Senayan di Jakarta“ pada tahun 1960. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS.

Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno adalah sebuah kompleks olah raga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Kompleks olahraga ini dinamai Gelora Bung Karno untuk menghormati Soekarno sebagai Presiden Indonesia pertama, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini.

Gedung olahraga ini dibangun mulai tanggal 8 Februari 1960  sebagai kelengkapan sarana dan prasarana dalam rangka Asian Games 1962 di Jakarta yang diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus 1962 – 4 September 1962.

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS dan kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.

Pada masa Orde Baru (jaman berkuasanya presiden Suharto), dalam rangka de-Soekarnoisasi, maka nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula yaitu Gelora Bung Karno.

Pada awal tujuan dibangunnya stadion ini, Presiden Soekarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian Games IV 1962 ini hendaknya juga dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul. Sebuah konstruksi khusus yang dibangun adalah atap baja besar yang membentuk cincin raksasa dan melindungi para penonton dari hujan dan panas, yang disebut oleh Bung Karno sebagai “Temu Gelang”.

FASE PEMBANGUNAN

I. Sebelum Asian Games 1962

8 Februari 1960:  Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV disaksikan wakil perdana menteri Uni Soviat, Anastas Mikoyan.

Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama.

Juni 1961: Stadion Renang berkapasitas 8.000 penonton selesai dibangun. Bangunan ini terdiri dari kolam tanding 50 meter, kolam loncat indah, kolam pemandian dan kolam anak. Bangunan ini direnovasi ulang pada tahun 1988.

 Kolam tanding, stadion renang Gelora Bung Karno (outdoor).

 Kolam loncat indah, stadion renang Gelora Bung Karno (outdoor).

 Kolam pemanasan, stadion renang Gelora Bung Karno (outdoor).

 Kolam latihan, stadion renang Gelora Bung Karno (outdoor).

25 Desember 1961: Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun.

 Lapangan tennis indoor sedang dipakai untuk pertandingan bulutangkis.

Lapangan tennis outdoor.

Lapangan tennis rebound ace (outdoor).

                                  Lapangan Tennis Gravel (outdoor).

Desember 1961: Stadion Madya (sebelumnya disebut Small Training Football Field (STTF)) berkapasitas 20.000 penonton selesai dibangun. Berdiri di areal seluas 1.75 hektar dengan sumbu panjang 176.1 meter, sumbu pendek 124.2 meter dan dilengkapi dengan 2 tribun; tribun barat dengan kapasitas 8.000 penonton dan tribun timur dengan kapasitas 12.000 penonton. Bangunan ini direnovasi ulang pada tahun 1987.

 Stadion Madya (Stadion Atletik).

21 Mei 1961Istana Olahraga (Istora) berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun dan untuk pertama kalinya digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia bulu tangkis beregu putra memperebutkan Piala Thomas.

Istana Olahraga (Istora).

Juni 1962:  Gedung Bola Basket berkapasitas 3.500 penonton selesai dibangun.

Basket hall A

 Basket hall C.

21 Juli 1962:  Stadion Utama berkapasitas 100.000 penonton selesai dibangun. Ciri khas bangunan ini adalah atap temu gelang berbentuk oval. Sumbu panjang bangunan (Utara – Selatan) sepanjang 354 meter; sumbu pendek (Timur-Barat) sepanjang 325 meter. Stadion ini dikelilingi oleh jalan lngkar luar sepanjang 920 meter. Bagian dalam terdapat lapangan sepak bola berukuran 105 x 70 meter, berikut lintasan berbentuk elips, dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter.

– 

Stadion Utama Gelora Bung Karno.

24 Agustus 1962: Gedung Televisi Republik Indonesia Pusat sebagai stasiun televisi pemerintahan pertama di Indonesia selesai dibangun dan resmi dibuka.

Gedung Televisi Republik Indonesia Pusat.

II. Sesudah Asian Games 1962

19 April 1965:  Awal pembangunan Kompleks DPR yang bertepatan dengan peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika dan juga sebagai salah satu proyek The New Emerging Forces (Ganefo).

1968:  Lapangan Golf seluas 20 hektar mulai dibangun.

Lapangan Golf Senayan.

1970Gedung A dan Gedung B, masing – masing berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun. Kedua gedung ini direncanakan untuk menjadi gedung olahraga serbaguna. Gedung A digunakan untuk mengadakan kompetisi untuk olahraga anggar sedangkan Gedung B digunakan untuk mengadakan kompetisi senam.

Gedung olahraga (hall A dan B).

1970: Gedung C berkapasitas 800 penonton selesai dibangun. Gedung ini berjasa melahirkan para pebulu tangkis Indonesia kelas dunia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, dan Ivana Lie.

III. Era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (YGOS)

Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Gelora Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektare ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektare (49%) saja.

Dari jumlah yang 51% itu, 67,52 hektare (24,2% dari luas semula) digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti Gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, kantor Kelurahan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, gudang Depdiknas dan rumah makan.

Sisanya yang 26,7% atau 74,74 hektare disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Centrury Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lain.

IV. Era Badan Pengelola Gelora Bung Karno (BPGBK)

Pada masa BPGBK ini dua buah bangunan di kompleks Stadion Gelora Bung Karno akan dirubuhkan. Kedua bangunan tersebut adalah Wisma Fairbanks dan Gedung Serba Guna di belakang hotel Century. Semula Wisma Fairbanks diharapkan akan memberikan keuntungan kepada pihak BPGBK, setelah perjanjian pembangunan dan penguasaan wisma tersebut selama 30 tahun berakhir. Setelah dikembalikan, menurut pihak BPGBK bangunan itu tidak lagi memenuhi syarat huni. Menurut rencana, sebagai gantinya akan dibangun sebuah apartemen dan perkantoran, dengan 200 kamar yang akan disediakan untuk atlet.

DAFTAR BANGUNAN DI AREA GELORA BUNG KARNO

– Stadion Utama Gelora Bung Karno (Stadion Sepak Bola).

– Hall Basket (Basket Ball).

– Hall Anggar (Anggar).

– Hall ABCD (Basket – Badminton).

– Hall Menembak – Shooting Range (Menembak).

– Istora Gelora Bung Karno (Multifungsi / Indoor).

– Stadion Madya Senayan (Stadion Atletik).

– Tennis Indoor Stadium (Tennis / Multifungsi).

– Tennis Outdoor Stadium (Tennis).

– Stadion Renang Senayan (Renang).

– Driving Range Senayan (Golf).

– Masjid Al Bina (Masjid / Aula).

– Wisma Serba Guna (Multifungsi).

– Kantor Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (Kantor Pusat Pengelola).

– Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI.

– Dan lain-lain.

 

Masjid Al Bina.

 Wisma Serba Guna

(Sumber: Wikipedia)