PERJUANGAN DOLI SYARIF PULUNGAN MELAWAN KETIDAK ADILAN AMERIKA SERIKAT !

USA

PULUNGAN 1

Doli Syarif Pulungan, seorang pengusaha warga negara Indonesia, kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 7 Mei 1953, secara sewenang-wenang pada tanggal 27 September 2007 ditangkap oleh FBI dan sempat dipenjarakan selama 2 tahun oleh pemerintah Amerika Serikat, hanya karena dirinya bertanya-tanya soal teropong, serta dituduh sebagai teroris. Merasa dirinya tidak bersalah dan menjadi korban paranoid berlebihan pemerintah Amerika Serikat terhadap terorisme, maka berbekal ilmu pengetahuan tentang Undang-undang Amerika Serikat (United State Constituion) yang ia pelajari selama di penjara, di tingkat banding di  Pengadilan Tinggi AS, dalam pembelaannya  Pulungan berhasil meyakinkan hakim bahwa ia tidak bersalah. Akhirnya Pengadilan Tinggi AS pada tanggal 15 Juni 2009 menjatuhkan vonis bebas atas dirinya. Pulungan juga berhasil memperoleh “surat pernyataan tidak bersalah” (Certificate of Innonce) dari Pengadilan AS. Kini Doli Pulungan menuntut balik pemerintah AS agar pemerintah AS meminta maaf atas kecerohohan salah tangkap serta tuduhan sewenang-wenang terhadap dirinya sebagai teroris dan menuntut ganti rugi, kompensasi yang memadai atas kerugian material dan non material yang ia derita.  

I. DICURIGAI, DITANGKAP DAN DITAHAN

Selasa, tanggal 25 September 2007, Doli Pulungan sedang berada di kota kecil Cashton, Wisconssin, Amerika Serikat, untuk berbisnis. Ia menginap di rumah rekan bisnisnya, Louie Vulovic, pemilik perusahaan Flight Service Inc. (FSI). Pulungan hendak membeli peralatan yang berfungsi untuk menghidupkan mesin pesawat terbang jenis jet dari FSI dan akan dijualnya ke Indonesia. Ini adalah kehadiran kedua kalinya Pulungan menginap di rumah Vulovic. Sebelumnya ia pernah kemari pada kehadiran yang pertama yang dilakukannya pada 13 Juni 2007 untuk urusan bisnis yang sama.

Rumah Vulocic cukup bagus, 2 tingkat dengan 2 kamar. Tanahnya amat luas beberapa hektar. Tetangga terdekat Vulovic saja tinggal sekitar 400 meter-an jauh di seberang sana. Pemandangan dari rumah Vulovic cukup elok. Dikejauhan tampak lembah serta perkebunan jagung dan peternakan sapi yang dimiliki oleh Louie. Udaranyapun sejuk segar. Entah mengapa pikiran Pulungan melayang ke tanah kelahirannya di Sipirok, jauh dari sana di pinggang pulau Sumatera yang dimasa kanak-kanaknya dulu belum ada listrik masuk. Pikirannya juga melayang ke daerah-daerah lain di Tanah Air, ke kampung-kampung atau daerah yang keadaannya waktu itu sama dengan kampung halamannya dimasa kecil, puluhan tahun yang silam.

Louie Vulovic memiliki isteri bernama Maria Ljubisa, 40 tahun. Maria disamping sebagai istri, juga merangkap sebagai sekretaris Fulovic di perusahaan FSI. Pasangan suami istri ini mempunyai anak tunggal bernama Tony Vulociv, 25 tahun. Tony sudah mandiri, memiliki bisnis sendiri, Towing Business namanya, bergerak dalam usaha penarikan mobil-mobil yang mogok di jalan. Selaku tuan rumah kedua ibu dan anak tersebut cukup ramah menyambut kehadiran Pulungan.

Sekitar 20 meter di muka rumah keluarga itu terdapat bengkel kerja (workshop). Bermacam-macam mesin GSE (Ground Service Equipment) bekas maupun baru terlihat bergeletakan di bengkel kerja itu.

Pada kunjungan pertamanya ke rumah Louie, Pulungan sempat diperkenalkan dengan seluruh pegawai Louie. Seorang diantaranya bernama Steve Kaziek, pegawai tidak tetap yang juga seorang polisi dengan jabatan setingkat kapolsek (kepala kepolisian sektor) di Indonesia.

Pada kunjungan ke 2 tersebut, Pulungan bertanya-tanya kepada Steve Kaziek, pegawai FSI yang polisi itu, mengenai hal-hal lain. Pulungan menanyakan soal teropong malam, atau Scope Night Google (SNG), peralatan canggih yang mampu menyigi obyek di dalam cuaca segelap apapun. Teropong malam itu atau SNG merk Leupold dengan tipe Mark 4 CO/T biasanya digunakan oleh penggemar olahraga menembak serta mereka yang gemar berburu. Akan tetapi teropong jenis ini juga dipakai pada senjata jenis M16 dan ARY5.

Mulanya Steve Kaziek agak terbuka menjelaskan perihal teropong malam itu kepada Pulungan. Tapi tak lama kemudian orang ini seperti tertegun. Dia bilang: “Untuk apa anda bertanya-tanya teropong itu ?”

“Untuk anda buat apa teropong itu?” Matanya pun berubah bak menyelidik.

“Untuk berburu babi,” jawab Pulungan. Memang, saat itu Pulungan membayangkan betapa menariknya berburu dilengkapi teropong semacam itu. Steve Kaziek tak bertanya-tanya lagi. Pulungan juga tidak lagi bicara mengenai teropong malam itu.

Keesokan harinya, Rabu 26 September 2007,  sekitar 10.00 pagi tanpa disangka-sangka datang 2 agen  FBI (seorang diantaranya bernama David Paul) ke rumah Louei Vulovic. Semula Pulungan mengira mereka adalah tamu keluarga Vulovic. Tapi mereka bilang ingin bertemu dengan Pulungan.

Ketika ke dua anggota FBI tersebut menemui Pulungan, mereka langsung menginterogasinya dan menuduh Pulungan : “Bermaksud dan mencoba untuk mengekspor peralatan militer tanpa izin ekspor” !  Dan itu melanggar “United State Constitution” atau “Undang undang Amerika Serikat”, pasal 2778A.

“Aku tak mau beli teropong itu !” bantah Pulungan. “Aku tak bermaksud mengekspor teropong itu !” Mereka agen FBI itu tak peduli. Sungguh gila ! Interogasi tersebut berjalan terus dan sangat memukul perasaan Pulungan. Pulungan merasa sangat jengkel dan geram bahkan marah sekali. Maria, isteri Vulovic, serta anak mereka, Tony, agaknya juga sangat terkejut dan sekaligus tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Mereka kelihatan bingung, tak tahu yang hendak dikatakan kepada agen-agen FBI itu dan juga kepada Pulungan. Ibu dan anak itu jadinya bungkam saja.

Akhirnya Pulungan tidak bisa lagi bicara. Ia kehilangan kata-kata, diam saja, perasaannya semakin galau, jengkel, geram, marah dan merasa terhina. Ia merasa sendiri, karena peristiwa itu terjadi jauh di negeri orang, di kota kecil pula yang letaknya sama sekali tidak tercatat dalam peta-peta yang beredar di Indonesia.

Di sore hari, sekitar jam 16.00, Pulungan di borgol oleh dua agen FBI itu kemudian dibawa ke penjara Monroe County Jail, penjara yang terletak di kota yang juga sangat kecil, Monroe, sekitar satu jam perjalanan naik mobil dari Cashton. Semua karyawan Vulcovic melihat Pulungan dibawa oleh agen-agen FBI itu, tapi seperti juga dengan isteri dan anak Vulcovic, mereka diam saja. Tak ada yang mencoba bertanya apalagi menghalang-halanginya. Jangan-jangan mereka juga berpikiran sama dengan agen-agen FBI tersebut bahwa Pulungan memang benar akan mengekspor senjata tanpa izin.

Pulungan hanya semalam diinapkan di penjara Monroe County Jail. Keesokan harinya, pagi-pagi ia dipindahkan ke penjara Dane County Jail Madison, Winconsin.  Dan sejak hari-hari  itulah nasibnya kontan berubah, dari semula manusia bebas yang memahami bahwa kehidupan ini harus diisi dengan gerak, tak statis, tak diam, menjadi orang yang justru dikurung dalam penjara dengan tuduhan konyol tak masuk akal !

Sementara itu, media-media massa setempat di luar penjara, mulai heboh. Madison Journal Street dan La Crosse Tribune, menulis sebagai berikut : “Teroris Islam Indonesia ditangkap”.  Berita itu disertai pula dengan foto dan nama lengkapnya: Doli Syarief  Pulungan.

Pemberitaan media-media lokal itu sangat subyektif tanpa pernah mewancarai Pulungan sebagai pihak yang berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut. Beritanya sudah melenceng jauh sekali, sesuka hati si wartawan yang menulisnya. Bahkan diberitakan bahwa Pulungan ditangkap bukan lagi karena “bermaksud dan mencoba untuk mengekspor senjata tanpa izin ekspor” seperti yang dituduhkan oleh kedua agen FBI itu, tetapi dituduh sebagai “teroris Islam Indonesia” !

II.  SIDANG PENGADILAN.   

Sejak di penjarakan itu, mulailah Pulungan tergerak untuk mempelajari “United State Constitution” atau Undang Undang Ameika Serikat. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk membela dirinya nanti di pengadilan.

Sabtu 15 Desember, 2007, setelah 80 hari dipenjara, Pulungan dihadapkan ke Pengadilan Negeri Western District Court of Madison. Acaranya hearing dengan jaksa dan hakim.

Di kesempatan itu, sebelum sidang di mulai, pengadilan memperkenalkan sekaligus memberi kepada Pulungan seorang pengacara (public defender), namanya Lieberman, maklum Pulungan tak sanggup membayar pengacara independen yang tarifnya 100.000 dolar AS atau kira-kira Rp. 1 miliar.   

Pada kesempatan itu pula dibacakan apa yang dituduhkan jaksa penuntut terhadapnya : ”Bermaksud dan mencoba untuk mengekspor peralatan militer tanpa izin ekspor”, dan itu melanggar Undang-Undang Amerika Serikat.

Pebruari 2008 Pulungan dihadapkan ke pengadilan kembali. Namun beberapa hari sebelumnya, Lieberman sang pengacara mengundurkan diri dengan alasan bahwa dia telah berkali-kali menghubungi Konsulat RI di Chicago, baik surat, faksimili, maupun telepon. Hasilnya nihil. Tak ada jawaban, tak ada respon dari pihak Konsulat RI.  Ketika Lieberman menemui Pulungan untuk menyatakan mundur, ia berkata: “Bagaimana aku bisa membantumu, pihak Konsulat kamu saja tidak peduli dan tidak mau membantu !”

Pulungan terperangah, hatinya tertusuk, ia merasa sendirian, namun ia tak putus asa. Setelah percakapan dengan Lieberman itu, Pulungan langsung menelepon ke Konsulat RI di Chicago dan berbicara dengan Stephanus S. Pulungan memintanya agar ia bersedia datang ke persidangannya nanti. Stephanus meminta maaf dan mengatakan tidak bisa datang dengan alasan tak memiliki anggaran untuk itu.

“Dari Chicago ke sini tidak ada anggaran ? Tak bakalan habis uang sejuta untuk datang ke sini,” kata Pulungan. Namun pihak Konsulat tetap saja tak bisa hadir. Padahal kalau pakai mobil tak habis enam jam bolak balik Chicago dan Madison.  “Mengapa Konsulat RI  tak mau berkorban waktu dan tenaga untuk warga negaranya sendiri ?” keluh Pulungan dalam hati.   

Acara pada sidang Februari 2008 itu lagi-lagi hanya hearing atau pembacaan tuduhan jaksa terhadap perkaranya. Karena Pulungan datang sendirian di pengadilan bulan Februari 2008 itu tanpa didampingi pengacaranya, Lieberman yang sudah mundur, akhirnya pengadilan menunda pengadilan Pulungan ke bulan Maret 2008.

Dalam persidangan Maret 2008, Pulungan mendapat pengacara (public defender) baru dari pengadilan namanya Christoper Kelly. Dalam persidangan itu juga dipilih 12 juri secara acak. Tidak seorangpun di antara para juri tersebut yang berkulit hitam, semuanya berkulit putih. Mereka terdiri dari pekerja salon, petani, mekanik, salesman, dan sopir. Usai sidang, Pulungan dibawa kembali ke penjara Dane Jail, Madison.

Senin 5 Mei 2008. Hari itu Pulungan resmi diadili, karena hearing dengan hakim dan jaksa sudah usai. Pengacara yang mundur telah ada gantinya, yaitu Christoper Kelly, serta para juri sudah terpilih 12 orang. Karena pihak-pihak terkait sudah lengkap dan semua prosedur sudah dilalui, maka hari itu pengadilan masuk ke pokok persoalan: mengadili Pulungan, menggelar persidangan perkaranya, membuktikan apa memang benar ia hendak mengekspor peralatan militer dari Amerika tanpa izin seperti yang mereka tuduhkan. Lebih jauh lagi, masih terkait dengan tuduhan mereka, apakah betul ia seorang teroris Islam ?      

Karena Pulungan tak memahami bahasa-bahasa hukum, maka oleh pengacaranya, Christoper Kelly, ia dibawakan seorang penterjemah, Agus namanya, seorang mahasiswa muslim berasal dari Bali yang sedang kuliah di Universitas Wisconssin. Agus kemudian ternyata tak hanya bersikap sebatas penterjemah, ia juga memberikan  Pulungan baju, jas sepatu dan lainnya sehingga Pulungan tampil di pengadilan sebagaiman mestinya. Seharusnya Konsulat RI Chicago melakukan hal seperti itu, namun nyatanya tidak sama sekali. 

Sebelum sidang berlangsung, tak lupa pula Agus berbisik kepada Pulungan: “Jangan lupa anda baca BISMILLAH dan jangan lupa baca FATIHAH !”

Di ruang sidang tersebut tak banyak  orang yang hadir, tak seperti pengadilan di Indonesia yang sering dijejali penonton. Pada sidang itu yang diizinkan hadir hanya pihak-pihak terkait. Diluar pengadilan juga sepi, tidak ada demonstrasi. Namun berita-berita media-media massa lokal, heboh, sangat subyektif, tak seimbang, tidak “cover both sides” sebagaimana seharusnya pers yang profesional, apalagi di negara AS yang mengaku  demokratis.

Sidang kemudian dibuka oleh Hakim Barbara B Crabb. Ia memperkenalkan jaksa, juri, terdakwa, pengacara dan penterjemah terdakwa. Selanjutnya ia bacakan tuduhan jaksa penuntut, antara lain disebutkan dalam tuduhan jaksa itu (selain tuduhan “Bermaksud dan mencoba untuk mengekspor peralatan militer tanpa izin ekspor”), bahwa Pemerintah RI membantu militan Islam dan Pulungan memasuki Amerika Serikat tanpa visa. Tentu saja semua tuduhan jaksa itu bohong dan menggelikan.

Hakim kemudian memberi kesempatan jaksa Meredith P Duchemin tampil ke depan mencecar Pulungan untuk membuktikan  semua tuduhannya.  Inilah  cuplikan sebagian tanya jawab antara jaksa dan terdakwa Pulungan.

Jaksa“Are you ready ?”

Terdakwa: “Tentu. Mengapa pula saya tak siap !”

Jaksa: “Benar anda hendak mengekspor peralatan militer ke Indonesia ?”

Terdakwa: “Tidak”

Jaksa: “Apa maksud anda menanyakan barang itu (yang ia maksud, Scope Night Google = SNG, alias teropong malam) kepada polisi Steve Kazieck ?”

Terdakwa: “Saya hanya ingin tahu saja. Apa tidak boleh bertanya dan ingin tahu sesuatu?”

Jaksa: “Untuk apa brosur itu (maksud jaksa, brosur Leupold Binocular yang terdakwa print dari website).

Terdakwa: “Hanya sebagai referensi.”

Jaksa: “Anda tidak tahu barang itu adalah peralatan militer ?”

Terdakwa: “Tidak.”

Jaksa: “Anda tidak tahu, dalam brosur tersebut dikatakan bahwa barang itu hanya bisa dijual di Amerika Serikat saja ?”

Terdakwa: “Saya tahu. Tapi saya tidak bermaksud mau membelinya,

Jaksa: “Kenapa, juga buat apa anda menawarkan uang jasa kepada polisi  Steve Kaziek untuk mendapatkan barang itu ?

Terdakwa: “Cuma untuk mau tahu, apa dan bagaimana sih sebetulnya barang itu.”

Jaksa: “Jadi anda benar-benar mau mengekspor barang itu ?”

Terdakwa: “Tidak. Apa tidak boleh bertanya sesuatu ? Selama belum ada kontrak jual beli dan tanda jadi dari suatu inquire, kan sama saja dengan bohong. Dengan kata lain, free inqure and information. Seperti di Indonesia, siapa saja boleh menanyakan barang apa saja, termasuk harganya berapa. Tidak ada jual beli, juga tidak ada bukti untuk kegiatan semacam itu.”

Jaksa: “Tapi ini Amerika Seirikat, Bung ! Anda sudah melanggar United State Constitution pasal 2778A, yang mangatur impor ekspor peralatan militer.”

Terdakwa: “Saya tidak melihat barang itu, teropong itu, ada dalam daftar barang militer.”

Jaksa Meredith terlihat geram dan dengan nada tinggi lalu ia berkata: ”Barang ini tak boleh keluar Amerika Serikat. Tertulis itu dalam brosur. Berarti kamu benar-benar mau mengekspor barang itu !”

Terdakwa: “Saya tak mau beli kok. Saya cuma ingin tahu saja. Apa tidak boleh bertanya-tanya dan ingin tahu ?”

Sidang kemudian ditunda oleh Hakim Barbaraq B Crabb sampai esok. Esok paginya Selasa, 6 Mei 2008, Pulungan hadir kembali di Pengadilan Negeri  Western District Court of Madison, bersama pengacaranya, Christoper Kelly beserta perterjemahnya, Agus.   

Kali ini sidang lebih seru. Antony Dreath, Dirjen Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, tampil sebagai saksi. Tak banyak yang ia sampaikan, namun inti kesaksiannya jelas menohok Pulungan ! “Teropong Leupold tipe Mark 4 CQ/T adalah peralatan militer !” katanya, lalu ia perlihatkan surat dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Codelezza Rice. Dalam surat itu disebutkan bahwa terdakwa, Doli Syarief Pulungan, tidak memiliki izin ekspor teropong tersebut.

Berdasarkan surat Menlu itu, Hakim Crab kemudian memutuskan bahwa teropong tersebut peralatan militer yang tak dapat dibantah. Pulungan menyanggah pendapat hakim dengan menyatakan keberatan. Keberatan Pulungan ditimpal Jaksa dengan keberatan pula.

Sidang menjadi heboh, seru dan tegang, sampai-sampai hakim Crabb mengetok palunya agar semua pihak tenang. Namun  kemudian Hakim Crabb menerima keberatan terdakwa. Ia mempersilahkan terdakwa berbicara mengutarakan apa yang menjadi keberatannya.

Terdakwa: “Surat dari Menteri Luar Negri Amerika Serikat itu adalah undang-undang yang tiba-tiba saja dibuat untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat, dengan menetapkan bahwa teropong itu peralatan militer. Dengan begitu, saya, Pulungan, tidak diperkenankan mengetahui lebih jauh perihal teropong itu sebab ia peralatan militer dan saya tidak memiliki izin ekspor. Tapi ini juga berarti, hakim sudah melanggar hak bertanya sebagaimana yang termaktub dalam United State Constitution Amandemen ke-6. Karena masih sangat perlu dipertanyakan apakah teropong itu betul-betul dibuat untuk spesifikasi peralatan militer semata-mata?”

Hakim: “Presiden Amerika Serikat sudah mendelegasikan kepada Menlu AS, dan yang disebutkan dalam surat Menlu itu tak bisa di review (tinjau ulang) secara hukum.”

Terdakwa: “Saya tidak menanyakan kebenaran surat Menlu AS itu kepada saya. Saya hanya ingin mencari jawaban dari pertanyaan “Apa benar teropong tersebut barang militer? Karena berdasarkan keterangan tadi, bahwa Dirjen Deplu AS Antony Dreath sendiri pun tak paham dan bagaimana proses teropong ini bisa sampai menjadi  spesifikasi barang militer. Jika begitu, seandainya ada teropong terbuat dari tabubg kertas karton, apakah Pemerintah AS juga akan mengatakan bahwa teropong itu barang militer tanpa harus melakukan pembuktian teknis terlebih dulu ?”

Hakim : “Keputusan Pemeintah AS tidak dapat di-review secara yuridis formal.”

Terdakwa: “Berarti Pemerintah AS sudah melanggar hak bertanyaku ! Keputusan Departemen Luar Negeri AS yang mengatakan barang tersebut adalah peralatan militer, tanpa sedikitpun pembuktian secara ilmiah dan secara militer, sama saja dengan menuduh saya yang mengekspor tepung terigu misalnya, tetapi oleh Pemerintah AS lewat surat keputusan didakwa mengekspor kokain, tanpa pemeriksaan laboratorium terlebih dulu untuk itu. Dan itulah yang sekarang didakwakan kepadaku. Suatu keputusan yang tidak dapat dipertanyakan, padahal masih sangat diragukan, lantaran barang tersebut tidak ada di dalam daftar barang militer. Aku tak melanggar United State Constitution. Dengan hanya berdaearkan surat Menlu AS itu, aku, Pulungan, tidak dapat dikatakan melanggar United State Constitution pasal 2778. Masih perlu pembuktian ilmiah, apakah teropong itu juga berfungsi ganda untuk berolah raga serta berburu itu adalah memang barang militer ?” 

Hakim Crabb sedikitpun tidak bergeser dari pendiriannya atas argumen-argumen Pulungan, betapapun masuk akal argumen-argumen tersebut. Ia tetap kukuh bak batu karang, bahwa keputusan pemerintah AS yaitu surat Menlu AS adalah merupakan ketetapan yang tidak dapat lagi di-judicial review atau tak bisa diuji secara hukum.

Yang tak terduga, berdasar itu pulalah para juri yang terdiri dari 12 orang dari berbagai profesi, pada hari Selasa 6 Mei 2008 tersebut juga memutuskan guilty (bersalah) kepada Pulungan. Hakim Barbara B Crabb lalu mengetuk palu, pembacaan hukuman yang dijatuhkan akan dilakukan pada bulan Juli mendatang.

Senin 28 Juli 2008.  Hari itu Pengadilan Negeri Madison akan menjatuhkan vonis hukuman kepada Pulungan yang sebelumnya sudah diputuskan juri bersalah. Hati Pulungan agak berdebar dan menerka-nerka : dihukum atau bebas ?

Pulungan dengan tertib duduk di ruang pengadilan didampingi Christoper Kelly pengacaranya dan juga penterjemahnya, Agus. Sesaat sebelum Hakim Crabb datang, Pulungan melihat 3 orang beraut wajah Indonesia, yang seusai sidang Kelly mengatakan kepadanya bahwa mereka itu adalah orang-orang dari Konsulat RI Chicago. Sayangnya Pulungan dan ke 3 orang itu tak sempat berjumpa, tak bisa mengobrol !

Tampak hadir juga seorang fotografer dari Pengadilan Negeri Western District Court of Madison. Dia bukan jurnalis. Wartawan, termasuk dari surat-surat kabar lokal yang tidak obyektif itu justru tak satupun kelihatan batang hidungnya.

Saat Hakim Crabb memasuki sidang, para hadirin berdiri, usai memasuki sidang hadirin duduk lagi dan hakim Crabb langsung memulai sidang. Ia bacakan hak-hak terdakwa bahwa bila terdakwa tidak menerima vonis yang dijatuhkan, terdakwa memiliki hak untuk banding ke Pengadilan Tinggi Chicago.

Akhirnya hakim Crabb dengan sikap tenang dan wajar menjatuhkan 4 tahun penjara kepada Pulungan.  Pulungan pun tanpa gentar, tanpa emosi yang meluap-luap menyatakan banding ! Usai mendengar jawaban terdakwa, hakim Crabb mengatakan bahwa surat permintaan banding itu sudah harus diajukan selambat-lambatnya dalam tempo satu minggu. Pulungan menjawab: “Baik.” Lalu hakim perintahkan panitera untuk mencatat.

Berstatus terhukum 4 tahun penjara, seusai sidang, Pulungan dibawa kembali ke penjara Dane County Jail. Tiga orang dari Konsulat RI sudah tidak terlihatnya lagi. Sesampainya di dalam penjara, penghuni Dane County Jail, khususnya mereka yang sudah menjadi kawannya selama ia menghuni penjara itu heboh bertanya-tanya. Pulungan lalu menjawab: “Empat tahun pejara, itu vonis yang dijatuhkan Hakim Crabb kepadaku tadi !”

III. DARI PENJARA KE PENJARA

Dane County Jail merupakan penjara paling lama selama Pulungan ditahan. Ia bermukim di situ dari 27 September sampai awal Agustus 2008, seminggu sesudah vonis hukumannya dijatuhkan. Di penjara ini Pulungan diperlakukan dengan baik. Sarapan: roti sosis, lengkap dengan susu dan apel. Makan siang dan malam cukup pula baik. Kesehatan tiap hari diperiksa. Semua obat dipenuhi, bahkan kacamata baca diberi. Perpustakaan penjara  juga lumayan bagus.

Semula, Pulungan ditempatkan di kamar yang berisi 6 orang. Tapi karena ia sakit gula, akibat stress, ia kemudian dipindahkan ke ruangan dengan 6 kamar. Penghuninya yang berjumlah 6 orang dengannya, masing-masing mendapat 1 kamar. Di sini disediakan oven untuk bakar roti. Teh, kopi, 24 jam bebas untuk diminum. Setiap hari ada koran baru, juga majalah. Ada lagi 3 televisi, yang didengar pakai earphohe supaya tak mengganggu para penghuni lain yang sedang tidur.

Dengan kondisi seperti itu, Dane County Jail menurutnya berbeda dengan penjara yang sering digambarkan dalam film-film Amerika Serikat. Semua teratur, dan juga aman di Dane County Jail. Merokok tidak boleh, apalagi mengkonsumsi narkoba.

Banyak penghuni Dane County Jail masuk bui karena mabuk saat menyetir atau lantaran ribut dengan anak-isteri seperti yang dialami seorang laki-laki berusia 70 tahun, juga akibat jay walking (bikin berisik), juga ada yang karena memperkosa rusa mati, yang kesemuanya itu paling-paling 3 bulan sudah bebas.  Tetapi tidak demikian untuk yang terlibat kasus narkoba, ataupun sopir mabuk yang berakibat hilangnya nyawa orang lain, mereka mendapat vonis hukuman yang lebih lama.

Ketika Pulungan menceriterakan mengapa ia sampai dipenjara, semua penghuni-penghuninya, baik yang berkulit putih maupun hitam merasa iba kepadanya dan bersimpati.  Umumnya mereka baik kepadanya, bila ada keluarga mereka yang menjenguk, mereka perkenalkan Pulungan kepada anak-anak serta isteri-isteri mereka. Para isteri itu bersimpati pula kepadanya. Apalagi mereka setelah tahu bahwa Pulungan berasal dari Indonesia dan satu-satunya yang terdapat di penjara itu. “Aneh,” kata isteri kawan-kawan sepenjaranya yang sudah kenal Indonesia, entah lewat bacaan atau memang pernah pergi ke Indonesia. “Setahuku, orang Indonesia baik-baik. Tentu ada kekeliruan sehingga anda sampai  ditahan di sini,” kata mereka.   

Di Dane County Jail kerja Pulungan hanya sembahyang, berzikir, berdoa. Malam-malam ia sembahyang tahajud, mengadu serta minta tolong dengan berurai airmata kepada ALLAH SWT. Siangnya ia isi dengan membaca hadis Nabi atau mengaji. Disamping itu ia pelajari Undang-undang Amerika Serikat (United State Constitution).

Tak sampai setahun lamanya ia di Dane County Jail, setelah vonis dijatuhkan Hakim Barbara B Crabb ia dipindahkan ke penjara Columbia Conty Jail, Portage. Wisconsin. Ini merupakan penjara transit, sebelum dipindahkan lagi ke penjara lain. Pulungan hanya satu bulan menghuni Columbia Jail di Portage tersebut.

Penghuni Columbia County Jail umumnya orang Amerika Latin. Pemeriksaan kesehatan ketat disini. Dua kali dalam satu hari, pagi dan malam kadar gula Pulungan diperiksa. Sepertinya mereka jaga betul agar Pulungan tak mengidap diabetes akut. Apa maksudnya ia tak tahu.

Di penjara ini Pulungan bertemu dengan seorang berkulit hitam Amerika Serikat, Harris namanya, 50 tahun, berperawakan besar dan tinggi. Mereka sama-sama menderita sakit gula. Harris merasa kasihan dan bersimpati kepada Pulungan. Menurut logikanya Pulungan tak bersalah. Melalui istrinya, Harris bahkan mengirim uang 1.000 dolar AS untuk anak Pulungan di Jakarta. “Sudahlah, no problem,” kata dia sewaktu Pulungan berterima kasih dengan perasaan masih kaget, karena tak mengira dia akan melakukan itu.

Harris memang baik, dia tak hanya cuma itu, ia juga menulis surat ke koran USA Today mengenai kisah Pulungan yang ia kirim ke isterinya yang kemudian oleh istrinya disampaikan ke koran USA Today. Harris dipenjarakan lantaran menyelundupkan rokok antar negara bagian, dari Minnesota ke Winconsin secara ilegal. Bagaimana kelanjutan cerita surat  Harris ke media massa kenamaan itu, Pulungan tak tahu lagi, karena Pulungan kemudian dipindahkan ke penjara Federal Jail di Indiana.

Suatu hari setelah sebulan Pulungan dipenjara di Columbia County Jail itu tadi, ia dibawa dengan bus dari Portgage lewat Chicago kira-kira 4 jam, kemudian sampai di Indiana untuk dipenjarakan di  Federal Jail. Penjara ini dipenuhi orang-orang kulit hitam. Makanan selalu tersedia disini, juga minuman. Ada pula fasilitas mandi air panas. WC nya seperti WC di pesawat terbang, bersih sekali.

Di penjara ini ada barak khusus untuk para tahanan yang dicap sebagai teroris Islam. Sewaktu Pulungan berada di Federal Jail Indiana, semua penghuni barak itu tinggal tunggu dikirim ke penjara Guantanamo. Dengan mengucilkan mereka dari penghuni lainnya itu bagi Pulungan makin memperjelas betapa membabi butanya kecurigaan, kebencian dan ketakutan pemerintahan AS dibawah kendali presiden George W Bush saat itu kepada Islam. Jadi tak aneh bila tuduhan kepada Pulungan juga tak masuk akal.

Pulungan meringkuk di penjara Indiana hanya satu bulan. Dari penjara Federal Indiana, ia dipindahkan ke penjara Oklahoma. Ia dan yang lainnya diangkut dengan pesawat terbang khusus berisi 100 narapidana.              

Federal Oklahoma Jail adalah penjara sementara sebelum narapidana dikirim ke penjara lain. Satu bulan pula Pulungan menghabiskan waktunya di penjara transit Oklahoma. Di penjara ini, satu kamar untuk 2 orang. Makanannya juga cukup enak, fasilitas lengkap. Dipenjara ini Pulungan berkenalan dengan seorang kulit hitam beragama Islam. Dia dipenjarakan karena menjual makanan yang diperuntukkan bagi para penganggur yang diperoleh dengan memakai kartu merah.

Setelah sebulan di penjara Federal Indiana, tibalah waktunya Pulungan dipindahkan lagi ke penjara lain. Kali ini ke Big Spring Concentasition Centre di Big Spring, 60 kilometer dari Dallas. Tiba di Big Spring Concentasition Centre, Pulungan dan narapidana lainnya ditelanjangi, diperiksa dengan ketat. Tindakan ini dilakukan konon untuk mencegah masuknya barang-barang bawaan yang tak diinginkan. Kemudian masing-masing narapidana diberi baju penjara, berupa kaos oblong putih, celana coklat, dan sepatu putih.

Big Spring Concentasition Centre adalah penjara khusus untuk mereka yang bukan warga negara Amerika Serikat. Jadi yang berkumpul disini adalah narapidana dari berbagai bangsa: warga negara Italia, Meksiko, Kuba, Kolumbia, Panama, Venezuela dan banyak lagi. Di penjara ini pula Pulungan berjumpa dengan Djoko Djuliarso (yang bebas pada bulan Agustus 2009).  Djoko ditangkap di Hawai dengan tuduhan menyelundupkan suku-cadang pesawat tempur AURI. Djoko Djuliarso divonis 4 tahun penjara, sama dengan yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Madison kepada Pulungan.

Selain Djoko Djuliarso, Pulungan juga berjumpa dengan Sukali (seorang Tionghoa Medan, bebas pada bulan Juni 2010). Sukali ditangkap karena menjual obat sakit kepala (seperti decolgen) dalam jumlah banyak dan oleh pembeli obat-obat itu kemudian diubah sedemikan rupa menjadi narkoba. Sukali divonis 4 tahun penjara oleh hakim dengan tuduhan bekerja sama dengan si pengolah obat tadi. Padahal obat-obat macam itu dijual bebas di mana-mana, tidak terkecuali di warung-warung di pinggir jalan.

Di penjara itu disediakan musala. Pulungan dan Djoko Djuliarso bergantian menjadi imam di musala itu. Selama Pulungan di Big Spring Concentasition Centre, telah 10 orang Amerika Latin masuk Islam ditangannya. Dihadapan Pulungan mereka lafazkan dua kalimat syahadat. Di tangan Djoko Djuliarso jumlah mereka yang menjadi Muslim bahkan lebih banyak lagi, 15 orang.

Alhamdulillah, Pulungan bersyukur, inilah antara lain hikmahnya ia masuk penjara. Bahkan di tempat dimana tubuh-tubuh terkurung, tak lagi bebas bergerak, masih membersit cahaya kebenaran. Dan hal itu menambah keteguhan tekadnya untuk menghadapi pengadilan tingkat banding di Pengadilan Tinggi Chicago pada tanggal 15 Mei 2009 mendatang.

IV. MEMORI BANDING DI SIDANG 15 MEI 2009        

Christoper Kelly, pengacara Pulungan, memberi tahu: “Permintaan banding anda diterima Pengadilan Tinggi Chicago. Jadwal sidang anda akan dilangsungkan tanggal 15 Mei 2009 !”

Dari dalam tasnya dia keluarkan surat pemberitahuan Pengadilan Tinggi Chicago lalu dia serahkan kepada Pulungan. Apa yang dia sampaikan tertera dalam surat itu. Jadi si Kelly ini benar ketika ia mengatakan bahwa kepastian bandingnya diterima atau ditolak bakal tak lama menunggunya. Yang lama adalah menanti sidangnya, kurang sedikit dari 9 bulan. Sembilan bulan !

Sehari menjelang sidang banding digelar, Pulungan diterbangkan dengan pesawat jet dari Big Spring Texas ke Chicago, dikawal aparat penjara Big Spring. Sebelum keberangkatannya itu, teman-teman jamaah musala Pulungan termasuk mualaf-mualaf warga negara Amerika Latin yang di Islamkan oleh Pulungan, berdoa untuk keselamatannya. Usai berdoa, mereka bersalam-salaman dan bergantian memeluk Pulungan, menghibur dan memberi semangat. “Yakinkan diri anda akan divonis bebas tidak bersalah nanti, Pulungan,” nasihat seorang kawannya. Kawannya yang lain mengingatkannya: “Jangan lupa menyebut asma ALLAH, jangan lupa anda berdoa sebelum sidang dimulai.”

 

Seperti di kantor-kantor pengadilan lainnya, di Pengadilan Tinggi Chicago itu juga terdapat kamar-kamar tahanan. Mungkin maksudnya supaya si pesakitan bisa lebih santai atau tidak merasa terburu-buru jika dia datang dari jauh sebelum menjalani sidang, seperti halnya Pulungan yang datang dari Big Spring. Disalah satu kamar tahanan itulah Pulungan ditempatkan begitu ia tiba dari Big Spring, sambil menunggu hari esok, Jumat 15 Mei 2009, saat sidang bandingnya digelar.   

Disitu pula pengaca Pulungan, Christoper Kelly dan rekannya Alan Habermehl menjumpai Pulungan. “Hallo,” sapa Kelly begitu ketemu Pulungan. “Sehat anda, tuan Pulungan ?” “Sehat, sehat. Amat siap untuk besok. Anda bagaimana ? Tidak loyo kan ?” kata Pulungan mengajaknya lebih santai.

Dia tersenyum, sesuatu yang sebenarnya tidak sering ia lakukan, tetapi kali ini boleh jadi karena ia terpengaruh semangat dari Pulungan. Tubuh Kelly ini kecil, pendek, tampak biasa saja, tak seperti pengacara-pengacara yang digambarkan dalam film-film Amerika. Rekan dia Habermehl pun kurang lebih demikian.

Mereka bertiga kemudian berbincang soal sidang besok. Selama ini Pulungan dan Kelly lebih banyak berkomunikasi melalui surat, sebab tidak mungkin dia atau rekannya tiap sebentar pergi ke Big Spring, Texas, dari Madison, Winconsin, untuk menemui Pulungan. Maklumlah pengacara yang dibayar oleh pemerintah.

Pada kesempatan ini, mereka membahas kembali materi banding yang hendak Pulungan sampaikan dalam sidang hearing dengan hakim-hakim pengadilan tinggi besok. Ya, siapa tahu ada yang kurang. Tetapi Christoper Kelly maupun Alan Habermehl mengaku puas dengan materi pembelaan yang disusun oleh Pulungan sejak jauh hari itu yang kemudian mereka tuliskan kembali sesuai bahasa-bahasa hukum.

Ide dasar memori banding itu tak berubah dengan yang disampaikan Pulungan di Pengadilan Negeri Madison. Intinya, Pulungan tetap menolak bahwa teropong malam  atau reflescope itu barang militer. Bagaimana mungkin dapat dikatakan barang militer jika teropong itu juga dipakai untuk olahraga menembak dan berburu. Tidak masuk akal. Bahkan selembar kertaspun akan disebut barang militer kalau pola pikir seperti itu dibenarkan !

Selanjutnya Kelly dan Alan menyampaikan bahwa ada 3 hakim yang akan mengadili perkara ini di sidang besok. Satu hakim ketua, Eastrbrook namanya, dua orang lainnya hakim anggota, yaitu Bauer dan Flaum. Ketiganya merupakan hakim-hakim senior yang sudah sangat berpengalaman. Umur mereka mungkin hampir 70 tahun atau sudah mencapai sebanyak itu.

Mendengar keterangan itu Pulungan justru mendapat pengharapan. Hakim-hakim senior yang berusia matang menurutnya akan melihat permasalan dengan jernih, adil, terhindar dari kepentingan-kepentingan lain di luar pengadilan.    

“Anda kelihatan optimis,” ujar Habermehl.

“Aku tak pernah kehilangan kepercayaan kepada manusia,” kata Pulungan.

Mereka kemudian pergi. Dan acara rutin Pulungan selama berada di berbagai penjara ia lakukan kembali. Ia shalat, berdoa, berzikir, juga shalat Tahajud dimalam harinya. Di sela-sela itu, ia membaca, menonton televisi. 

Keesokannya, Jumat 15 Mei 2009, sehabis shalat Subuh dan berdoa, Pulungan bersiap-siap menghadapi sidang. Beberapa waktu kemudian Kelly dan Alan pun datang. “Ini hari yang menentukan untuk anda, untuk kita,” kata Kelly.

“Dengan izin Tuhan, kebenaran akan berpihak kepadaku, Tuan-tuan,” kata Pulungan. “Ayo kita ke ruang pengadilan sekarang!”

Tidak berbeda dengan di Pengadilan Negeri Madison, di ruang Pengadilan Tinggi Chicago tetap tidak banyak orang yang hadir. Dan tetap tak terlihat para jurnalis. Juga tak terlihat seraut wajahpun orang dari Konsulat RI Chicago. Tapi, sudahlah tak apa, kata Pulungan dalam hati. Terpikir oleh Pulungan bahwa kurang tanggapnya, kurang sigap dan kurangnya perhatian petugas Indonesia di luar negeri terhadap saudara sebangsanya itu dapat berakibat fatal. Bayangkan saja seandainya para TKI yang umumnya kurang pengetahuannya mendapat masalah di luar negeri, apa tidak akan lebih celaka nasib mereka dengan kurangnya perhatian aparat pemerintah RI di luar negeri itu ?

Hadirin yang tidak banyak atau sangat sedikit di ruang sidang banding itu berdiri sewaktu ketiga hakim tua itu memasuki sidang. Dan saat semua sudah duduk kembali, Hakim Ketua Easterbrook lalu membuka sidang, dilanjutkan dengan hearing antara jaksa, hakim, dan Pulungan. Hearing dimulai dengan soal-soal seperti identitas dan sebagainya, kemudian masuk ke pokok masalah.

Jaksanya masih tetap Meredith P Duchemin, lawan Pulungan di Pengadilan Negeri Madison. Hal ini cukup menguntungkan bagi Pulungan karena jalan pikiran jaksa tersebut sudah bisa dibaca. Nyatanya memang demikian. Sewaktu jaksa Duchemin bicara, yang dia sampaikan tidak berbeda dengan yang dia sampaikan di pengadilan negeri, tetap berpendapat bahwa teropong malam (Scope Night Google/SNG) merupakan barang militer. Dan pendapat Pulungan juga tak berbeda dengan yang ia beberkan di pengadilan negeri, bahwa teropong malam itu bukan barang militer.

Acara kemudian berlanjut dengan penyampaian memori banding Pulungan, terdiri atas 3 bagian yang dibacakan oleh Alan Habermeh :

l. Judul pertama memori banding itu: HAK PERUBAHAN KEENAM PULUNGAN ATAS PENETAPAN JURI APAKAH RIFLESCOPE YANG AKAN DIEKSPOR ALAT PERTAHANAN, DAN HAK PULUNGAN UNTUK MEMBANTAH SAKSI AHLI PEMERINTAH TENTANG PERTANYAAN ATAS FAKTA TERSEBUT”

2. Bagian kedua memori banding diberi judul: “BUKTI TAK CUKUP UNTUK MENYATAKAN PULUNGAN BERSEKONGKOL, SECARA SENGAJA, DAN DENGAN NIAT, UNTUK MENGEKSPOR ALAT PERTAHANAN”.

3. Bagian ketiga memori banding yang lebih menohok diberi judul: “PUTUSAN  HUKUMAN TERHADAP PULUNGAN TIDAK WAJAR KARENA DIDASARKAN PADA PELAKSANAAN PEDOMAN PENJATUHAN HUKUM YANG TIDAK WAJAR”.

Selesai dibacakan memori banding yang membuat semua hadirin di ruang pengadilan itu terdiam, Alan Habermehl lalu menyerahkan satu berkas kepada Pengadilan Tinggi Chicago. Dan Hakim Ketua Easterbrrok kemudian mengakhiri sidang. Sebelumnya dia sampaikan bahwa pengadilan tinggi atau Pengadilan Banding Chicago akan memutuskan perkara tersebut pada tanggal 15 Juni 2009.

Dan selesai sidang, Pulungan diterbangkan kembali ke Big Spring, Texas, ke penjara dimana selama ini ia bermukim.  

 

IV. PUTUSAN PENGADILAN TINGKAT BANDING   

Kawan-kawan Pulungan di penjara Big Spring, kuhusnya jamaah-jamaah di mana Pulungan menjadi Imam bergantian dengan Djoko Djuliarso, menyambut kepulangannya dari sidang memori di Chicago dengan antusias. Mereka memeluk Pulungan, seolah-olah ia adalah utusan yang baru pulang memperjuangkan kepentingan bersama. Mereka menanyakan apa saja yang terjadi di pengadilan tingkat banding itu. Pulungan menceriterakan semua isi memori banding yang dibacakan oleh Alan Hebermehl. Kawan-kawan itupun manggut-manggut dan kembali mengucapkan syukur. Mereka memberi keyakinan kepada Pulungan bahwa ia nantinya akan divonis bebas !  

Pulungan berterima untuk sambutan, harapan, maupun keyakinan kawan-kawannya sepenjara itu. Tak putus-putusnya pula Pulungan memohon kepada ALLAH semoga ketiga hakim pengadilan banding yang diketuai Easterbrook itu dibukakan hatinya hingga mereka bisa menilai perkaranya dengan jernih. Kemudian memberi putusan yang benar-benar adil, tanpa kepentingan lain di luar itu, seperti kepentingan politik pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden George Bush yang penuh curiga terhadap Islam.

Dengan suasana kebatinan seperti itulah Pulungan menjalani hari-hari di penjara Big Spring, menanti datangnya tanggal 15 Juni 2009, saat Pengadilan Tinggi Chicago akan memutuskan perkaranya.

Tanggal 15 Juni 2009, hari bersejarah bagi Pulungan, akhirnya tiba. Tak berselang lama sesudah itu, Pulungan menerima salinan putusan hakim pengadilan banding mengenai perkaranya, juga surat keputusan mengenai status hukum yang dijatuhkan kepadanya.

Dan ternyata amar  putusan Pengadilan Tinggi Chicago memang memutuskan banwa PULUNGAN TAK BERSALAH ! Pulungan mengucapkan syukur berkali-kali menerima kenyataan luar biasa itu. Sungguh merupakan limpahan rahmat ALLAH yang sangat besar kepadanya.

SURAT KEPUTUSAN TAK BERSALAH

1. PULUNGAN

Kebahagiaan itu segera pula ia beritahukan kepada kawan-kawan sepenjara. “Apa aku bilang !” sambut seorang teman yang sejak dulu paling bersemangat. “Sejak dulu aku percaya bahwa anda akan divonis bebas tak bersalah!”  Dia lantas tertawa-tawa. Kawan-kawan lainnya memeluknya, menepuk-nepuk bahunya. Dan ada lagi yang memintanya untuk berkisah tentang Indonesia, katanya sebagai hadiah, karena menurut kawannya itu tak lama lagi Pulungan tentu bakalan pulang ke Tanah Air dan tak lagi mendekam di penjara seperti dirinya. “Jadi ceriterakan kepada kami tentang Indonesia,” katanya bak menuntut. “Siapa tahu suatu waktu aku dapat berkunjung ke Indonesia. Negerimu tidak seburuk seperti yang diberitakan di CNN kan ?” katanya berseloroh.

“Negeriku tak seperti yang kalian lihat di televisi,” kata Pulungan. Dan tanpa ia sadari, ceritera-ceritera mengenai Indonesia itu justru membuat keinginannya untuk segera pulang ke Tanah Air terasa menggebu-gebu ! Betapa inginnya ia cepat-cepat pulang setelah sekian lama mendekam dalam penjara di negeri orang.

V. PERJALANAN TAK MULUS MENUJU PULANG

Betapapun menggebu-gebunya keinginan Pulungan untuk cepat-cepat pulang ke Tanah Air, namun walaupun Pulungan telah “mengalahkan”  Pemerintah Amerika Serikat dengan adanya surat pernyataan vonis bebas yang dikeluarkan oleh pengadilan banding, masih ada lagi yang mesti Pulungan jalani, yakni menunggu apakah pengadilan negeri akan membawa kekalahannya di Pengadilan Tinggi Chicago ke pengadilan yang lebih tinggi, yaitu Mahkamah Agung. Dan waktunya untuk itu tidak pula singkat, yakni 3 bulan, rentang hari yang justru akan terasa akan lebih berat dan panjang baginya di dalam suasana hati yang ingin segera bebas, dan cepat pulang.

“Apa yang bakal terjadi jika pengadilan negeri memilih untuk membawa perkaraku ke Mahkamah Agung ?” tanya Pulungan kepada pengacaranya, Christoper Kelly.

“Putusan pengadilan banding terhadap anda akan ditinjau kembali !” jawab pengacaranya.

“Dan ada dua kemungkinan akan terjadi. Begitu ?” sela Pulungan.

“Ya, ada dua kemungkinan,” jawab Kelly. “Pertama, putusan pengadilan banding bisa batal, tidak berlaku lagi. Kemungkinan kedua, putusan pengadilan banding itu justru akan diperkuat oleh Mahkamah Agung. Dan vonis bebas tak bersalah terhadap anda menjadi lebih kukuh !”

“Jadi menurut anda mana lebih baik, Kelly, apakah pengadilan negeri meneruskan perkaraku ke Mahkamah Agung, atau tidak mereka lanjutkan ?” tanya Pulungan.

“Pilihanku pada yang terakhir, dan kupikir pengadilan negeri juga ragu melanjutkan perkara itu. Anda lihat sendiri, argumen-argumennya lemah. Pengadilan Tinggi Chicago sudah sangat jeli menampakkan kelemahan argumen pengadilan negeri itu. Atau tidak begitu menurut anda ?” jawab Kelly.

Pulungan setuju dengan pendapat Christoper Kelly. Ia mengharap pengadilan negeri memang tidak meneruskan perkara itu. Kalaupun kemungkinan nantinya Pulungan bakal menang di Mahkamah Agung, hal itu tetap saja akan merepotkan. Ia sangat mengharapkan pengadilan negeri dapat menerima putusan pengadilan banding yang memvonisnya bebas tak bersalah.

Harapan-harapan itulah yang Pulungan panjatkan dalam doa-doanya ke pada ALLAH. Disaat-saat demikian, ia sadari benar, bahwa tiada kekuatan yang mampu menggerak hati manusia (termasuk orang-orang yang berwenang di pengadilan tinggi) terhadap sesuatu selain kekuatan ALLAH. DIA-lah tempat Pulungan paling tepat untuk meminta supaya perkaranya tidak sampai berlarut-larut !

Perhatian teman-teman Pulungan di penjara Big Spring terutama jamaah-jamaah musalanya, ia rasakan sangat menghibur dan membangkitkan semangatnya. “Tenang saja,” kata mereka. “Tak lama  3 bulan itu, Pulungan. Setelah itu anda akan bebas kemanapun anda pergi !”

Sesudah sekian lama mereka bersama-sama, tumbuh rasa perkawanan yang akrab antara Pulungan dan kawan-kawan itu. Khusus bagi penghuni penjara sesama Muslim, musala mereka di penjara Big Spring menjadi tempat pemersatu. Berada di musala itu terasa sekali bagi mereka dekat satu dengan yang lain, macam saudara, sekalipun warna kulit, bahasa serta kebangsaan mereka berbeda !

Hari-hari selama Pulungan menunggu apakah pengadilan negeri akan melanjutkan perkaranya ke Mahkamah Agung, dapat dilaluinya tanpa beban. Pulungan memang merindukan anak-anaknya, cucu, atau keluarga besarnya. Ia bisa menanamkan dalam keyakinannya, meski memang tidak dengan segera, bahwa untuk mewujudkan semua yang ia inginkan itu tinggal menunggu waktu. Dan untuk itu menurutnya ia  tak perlu risau. Toh waktu selalu berlalu. Waktu harus pula selalu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Sementara itu, saat Christoper Kelly dihubungi Pulungan, jawabannya juga menggembirakan: “Sampai saat ini aku tidak mendengar atau melihat tanda-tanda bahwa pengadilan negeri akan menyerahkan perkara anda ke Mahkamah Agung. Dan semoga tetap begitu, Pulungan.”                   

Beberapa hari menjelang berakhirnya masa penungguannya selama 3 bulan itu, Pulungan mendapat berita lagi dari Christoper Kelly. “Kabar gembira untuk anda Pulungan. Aku sudah mendapat kepastian bahwa pengadilan negeri tidak akan membawa perkara anda ke Mahkamah Agung. Anda akan bebas dalam beberapa hari mendatang. Selamat.”

SURAT KEPUTUSAN BEBAS DARI PENGADILAN AS

2. PULUNGAN 

Lalu, Pulungan mulai repot bersiap-siap, tetapi bukan untuk membenahi barang-barang. Semua barangnya yang berharga malah telah lenyap entah ke kantong siapa sewaktu ia tinggalkan di Dane County Jail, Madison, seperti yang disuruh oleh aparat penjara dulu itu. Ada jam tangan, cincin berlian, dompet beserta uang, telepon seluler, dan sebagainya. Yang kemudian mereka kirim kepadanya hanyalah pakaian, itupun juga tak lengkap !

Jadi yang ia benahi dan persiapkan dihari-hari menjelang kebebasannya adalah hati kawan sepenjaranya, teman-teman para jamaah musala. Gilirannya sekarang untuk memberi hiburan dan dorongan semangat kepada mereka. “Tiada yang abadi di dunia ini, saudara-saudara. Juga keberadaan kita di dalam penjara ini,” katanya. “Kita terus bergerak bersama gerak waktu. Beberapa hari mendatang aku bebas, tetapi pekan depan atau bulan depannya, tentulah giliran anda. Aku yakin itu. Dan aku sangat berharap anda juga dapat meyakininya,” hibur Pulungan terhadap sahabat-sahabatnya di penjara.

Ada yang berlinang matanya mendengar kata-katanya. Ada yang merangkulnya dan berkata: “Bila kebebasan sudah aku dapatkan nanti, kita mesti jumpa, Pulungan. Kita harus selalu berhubungan.”

“Tentu. Silahturahmi insya’Allah akan terus kita jalin,” kata Pulungan. 

Hari kebebasan Pulungan akhirnya tibalah. Dengan agak gamang ia melangkah ke luar pintu penjara, karena belum tahu hendak kemana ia pergi. Tiga bulan yang lalu, begitu ia divonis bebas tak bersalah oleh pengadilan banding, langsung ia hubungi Konsulat RI di Huston untuk menyampaikan ke pihak Konsulat bahwa ia divonis bebas. Setelah ia mendapat kepastian bahwa pengadilan negeri tak membawa perkaranya ke Mahkamah Agung, berita itu ia sampaikan pula ke pihak Konsulat termasuk tanggal, bulan, dan jam berapa ia akan tinggalkan penjara Big Spring. Respon yang ia tangkap, pihak Konsulat RI di Houston tak begitu peduli. Demikian pula saat ia hubungi beberapa hari sebelum meninggalkan penjara, minta perlindungan, yang ia tangkap tetap responnya acuh tak acuh, tak peduli !

Dan kenyataannya memang begitu. Saat ia sedang berdiri termangu-mangu di muka penjara hanya beberapa waktu setelah ia keluar dari penjara itu, tak satupun tampak wajah aparat Konsulat RI Houston  yang ia lihat. Tak tampak batang hidung mereka. “Masya Allah,” kata Pulungan dalam hati.

Dan seolah-olah sudah ada yang mengatur entah oleh siapa, justru mobil imigrasi Amerika Serikat yang menghampirinya. Kemudian Pulungan diinterogasi, digeledah pula, lalu mereka mendakwanya bahwa ia bersalah telah melanggar hukum karena visanya over stay atau izin tinggalnya sudah habis alias kadaluarsa !   

“Kalian tahu, aku baru saja keluar dari penjara. Dua tahun lamanya aku dipenjarakan. Bagaimana bisa orang dalam penjara memperpanjang visa menurut kalian, hah ?!” ujar Pulungan.

Mereka tak mau tahu, mereka angkat bahu. “Hei, kalian tahu tidak !” sentak Pulungan kepada polisi-polisi imigrasi itu. “Aku ini dipenjarakan oleh Amerika Serikat untuk kesalahan yang tidak aku perbuat. Ini buktinya, aku divonis bebas. Dan untuk itu bahkan pemerintah kalian yang bakal aku gugat !”

Polisi-polisi imigrasi Amerika Serikat itu tetap tak peduli. Tapi sikap mereka agak melunak, lalu mengatakan bahwa mereka hanya sekedar menjalankan tugas. “Anda sampaikan saja hal itu nanti di muka pengadilan imigrasi,” kata mereka.

Alhasil, Pulungan dibawa oleh polisi-polisi imigrasi itu ke penjara Rolling Plain Jail, Haskell, Texas. Satu bulan plus dua minggu pula lamanya ia berada di penjara itu dan kemudian baru diadili.

Dimuka pengadilan, kembali Pulungan sampaikan kepada hakim apa yang pernah ia sampaikan kepada polisi imigrasi bahwa benar visanya sudah over stay, tapi itu terjadi tidak lain dan tidak bukan karena ia dipenjarakan selama 2 tahun dan tidak punya kesempatan untuk memperpanjang visa. “Coba, macam mana pula orang di dalam penjara bisa mengurus visa, Tuan Hakim,”  ia bilang.  

Seperti polisi imigrasi itu, hakim yang mengadilinya juga tak peduli. Ia katakan bahwa yang ia adili bukan perkara yang ia sampaikan itu, tetapi karena ia tak punya dokumen lengkap untuk tinggal. “Saya mengadili anda dalam perkara anda tak memiliki dan tak memiliki izin tinggal di Amerika Serikat !” kira-kira begitu ia katakan.

Pulungan tak mau kalah. Ia sanggah kembali hakim itu, paling tidak untuk tamparan terakhir atas kesalahan yang telah diperbuat pemerintah Amerka Serikat. “Tapi anda tahu, Tuan Hakim,” ujarnya dengan penuh semangat. “Aku dipenjarakan pemerintah Amerika Serikat untuk perbuatan yang sama sekali tidak aku lakukan aku dipenjarakan, karena keteledoran pemerintah anda !”

Hakim itu tetap saja kukuh ! Kembali ia berkata bahwa yang Pulungan alami tidak ada kaitannya dengan perkara yang tengah dia adili. Kemudian dia ketukkan palu, setelah memutuskan Pulungan bersalah dengan menjatuhkan vonis hukuman: deportasi ! Diusir dari Amerika Serikat. “Bah ! Aku memang ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia, dan bahkan sangat ingin, tapi tidak dengan cara diusir-usir begitu,” gumam Pulungan.

Selang beberapa hari, Rabu 28 Oktober 2009, eksekusi hukuman Pulungan itu dilaksanakan. Petugas penjara Rolling Plain Jail membawanya ke Bandara Internasional George W Bush, Houston, Texas. Mereka takkan beringsut dari bandara itu sebelum pesawat Singapore Airlines yang menerbangkannya menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta lepas landas. Roman muka mereka tampak tegang ! 

Saat-saat menanti naik pesawat terbang, muncullah orang dari Konsulat RI di Houston. Tak jelas dari mana mereka tahu bahwa Pulungan akan dideportasi. Sejak meninggalkan penjara Big Spring tidak pernah lagi Pulungan menghubungi Konsulat RI, untuk apa menurutnya. Tetapi mereka kini datang, mereka bawakan Pulungan pakaian. “Bah ! Tentu orang-orang Konsulat ini ingin menyelamatkan muka, menyelamatkan kedudukannya, takut disalahkan orang di Tanah Air karena membiarkan warga negara Republik Indonesia dideportasi dari Amerika Serikat berbaju lusuh,” kata Pulungan dalam hati. Pulungan hampir tertawa, sekaligus muak dan juga kasihan melihat orang-orang bermental serupa itu.

Bahkan setelah berada di dalam pesawat Singapore Airlines yang membawanya ke Indonesia via Moskow dan Singapura, pikirannya masih dipenuhi oleh orang-orang Konsulat RI itu. Menurutnya, apa jadinya jika aparat Indonesia yang berdinas di luar negeri banyak yang seperti itu. Pastilah akan celaka bagi warga negara Indonesia yang memerlukan bantuan mereka.

Menyadari hal itu, kembali Pulungan bersyukur kepada ALLAH, karena hanya dengan pertolongan DIA-lah ia dapat keluar dari berbagai kesulitan, termasuk mengalahkan Amerika Serikat yang adikuasa melalui vonis bebas tak bersalah yang ia terima dari pengadilan tingkat banding.

Pesawat Singapore Airlines terus melaju di angkasa. Dalam benaknya berkembang berbagai kemungkinan, setelah ia nanti kembali berada di Indonesia. Karena menurutnya hidup baginya harus dimaknai dengan tidak diam, tidak statis, melainkan dengan gerak, dan terus bergerak !

PULUNGAN MENGGUGAT PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT  

Doli Syarif Pulungan, kini sedang menuntut balik Amerika Serikat atas penangkapan yang sewenang-wenang terhadap dirinya dan juga atas hukuman penjara yang dijalaninya akibat peradilan sesat ! Ia menuntut ganti rugi, kompensasi, dan juga menuntut pemerintah Amerika Serikat meminta maaf kepadanya atas kesalahan tangkap AS terhadap dirinya tersebut.

Pulungan telah melayangkan surat tuntutannya, yang ditanda tanganinya pada tanggal 21 Oktober  2012, ke pemerintah AS. Surat tersebut telah diterima dengan baik oleh AS dan saat ini AS sedang mempertimbangkan apakah tututan Pulungan diterima atau ditolak.  Sesuai dengan UU Amerika Serikat bahwa orang yang sudah dinyatakan tidak bersalah yang disertai surat keputusan tak bersalah (certificate of inoncence) berhak  menuntut ganti rugi, kompensasi dan berhak menuntut permintaan maaf  dari AS.

Doli Syarif Pulungan adalah satu-satunya orang yang dituduh sebagai teroris  di jaman rezim presiden AS George Bush yang berhasil memenangkan di pengadilan AS dan mendapat vonis bebas.

SURAT PERNYATAAN TAK BERSALAH (CERTIFICATE OF INNOCENCE)

  3. PULUNGAN

4. PULUNGAN

SURAT GUGATAN (KLAIM)  KE AMERIKA SERIKAT

5. PULUNGAN

6. PULUNGAN

 PULUNGAN 2

PULUNGAN 4

(Sumber: Doli Pulungan, sesuai dengan yang dikisahkannya)